CLASIFIED MUSIC | NEWS & UPCOMING | 13 Agustus 2019

Warpaint : Tampil Minimalis namun Berhasil Jadi Pusat Perhatian

Warpaint : Tampil Minimalis namun Berhasil Jadi Pusat Perhatian

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Beberapa minggu yang lalu Warpaint, band yang berasal dari Los Angeles, California bertamu ke Indonesia. Tampil dalam acara We The Fest 2019, mereka membawakan beberapa lagu andalan. Salah satunya, Stars dan New Song. Band yang terdiri dari Emily, Stella, Jenny, dan Theresa sangat apik dan terlihat menguasai panggung. Ini bukan kali pertama mereka datang ke Indonesia, tahun 2017 lalu mereka mengadakan konser tunggal namun saya tidak berkesempatan untuk menyaksikannya. Pada saat tahu bahwa salah satu line-up WTF 2019 mereka, saya sangat antusias untuk menonton.

Musik yang Warpaint mainkan memang kurang familiar untuk sebagian orang, anti-mainstream katanya. Jujur saja, telinga saya pun kurang menerimanya di awal. Tapi setelah beberapa kali mendengarkan lagu-lagu mereka, saya merasa nyaman dengan musiknya yang minimalis. Karena gak banyak instrumen yang bercampur sahut-sahutan. Justru masing-masing instrumen saling melengkapi sesuai porsinya. 

Dugaan saya soal musiknya yang kurang familiar ternyata hampir benar. Sekonyong-konyongnya saya bilang panggung Warpaint terasa “minimalis” dari segi penonton di panggung WeTheFest 2019. Penontonnya pun kira-kira usia 22-30 yang masih menerima nuansa rock psychedelic macem Warpaint. 

Musik minimalis Warpaint terbukti karena instrumen seperti gitar, bass, dan drum tidak bertumpuk sahut-sahutan. Setiap instrumen mempunyai tempo masing-masing yang saling mengisi kekosongan. 

Saya juga jarang mendengar ketukan drumdengan tempo yang susah untuk diperkirakan. Gebukan drum dari Stella kadang membingungkan tapi unik. Belum lagi karena permainan bass Jenny yang terasa dominan, minim campuran instrumen. 

Bass dan gitar dari Emily, Theresa dan Jenny mungkin akan rumit untuk diikuti bagi mereka yang masih pemula. Terlebih aksi Jenny, diantara personil lain, ia paling petakilan dan acuh. Tak lupa sesekali memberikan senyuman hangat ke audiens yang langsung disambut dengan teriakan gaduh memanggil nama mereka satu per satu, tidak ketinggalan saya juga melakukan hal yang sama. 

Untuk telinga awam dan kurang paham nada, lagu Warpaint memiliki soul yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. 

Oh wonderful one why are you like that?

Oh wonderful one why are you like that?

Glow in the darkness, that's how we do it

Glow in the darkness, that's how we do it

Just like the stars upon your ceiling that

Put you to sleep after

(Warpaint – Stars) 

Aksi panggung mereka tidak boleh diragukan. Band ini sudah terbentuk sejak 2004 dan sudah menjajaki banyak panggung serta berkunjung ke berbagai negara. Tentunya mereka punya ciri khas masing-masing saat beraksi di depan para fans-nya. 

Emily, vokalis dan juga gitaris yang awalnya malu-malu setelah 3 lagu terlihat menikmati momen dan berdansa girang.  Tidak hanya itu, interaksi antara Stella (drummer) dan juga Jenny (bassist) kompak saat saling memberitahu cue untuk perpindahan dari satu lagi ke yang lain. 

Komposisi setlist yang Warpaint bawakan seimbang dari jumlah albumnya. Beberapa lagu dari EP Exquisite Corpse hingga album terbaru mereka Heads Up bersenandung dan para penonton bernyanyi bersama sepanjang mereka berada di atas panggung. Banyak juga dari penonton yang hanya memejamkan mata sembari ikut bernyanyi dan menikmati lagu kesukaan mereka dalam diam dan sesekali ikut berjoget mengikuti nada. 

Warpaint menutup penampilan mereka dengan membawakan lagu Disco//Very, lagu andalan mereka yang membuat saya jatuh cinta dengan band ini. Lebih kurang 45 menit, band asal Los Angeles ini pamit undur diri walaupun beberapa dari penonton masih merasa belum cukup dan meminta encore. Saya akui mereka salah satu band dengan aksi panggung yang minimalis namun berhasil membuat penonton liar dengan imajinasi masing-masing dalam menginterpretasi makna dari lagu-lagu Warpaint.

 

Penulis : Muhammad Reza Rizaldy & Fitri Ayu Adriani

Editor: Fik


Photography By : Dokumen Pribadi



Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

TAGGED :

Related Article

Gambaran situasi para pewarta musik hari ini ...
Sebuah karya lanjutan dari band rock Ibu Kota yang tengah melambung namanya. ...
Trio power pop asal Jakarta ini berhasil menemukan jati diri sebenarnya ...
“Rancangan awal memang kami pengin bikin band akustikan. Kami mikirnya lebih ke arah simple. Bisa ...
Dalam memperingati usia dua dekade di 2019 salah satu band pop punk berpengaruh tanah air. ...
Sebuah karya lugas dari band power pop asal Jakarta ...
Biduan pop, Vira Talisa, sukses menampakan keemasan musik pop Indonesia lewat Primavera. Jika di kar ...
Kritik penonton terhadap konser Westlife di Jakarta mengingatkan kembali pada promotor, bahwa konser ...
Terapi musik bisa menenangkan kecemasan, mengurangi rasa sakit, dan jadi hiburan yang menarik selama ...
Medium promosi karya band di era digital seperti sekarang tak hanya terbatas pada tulisan review saj ...
Penyanyi lagu I Love You 3000, Stephanie Poetri dikabarkan gabung ke label rekaman 88rising. ...
Akhir tahun adalah saat yang tepat untuk bersiasat. Duduk sejenak untuk memandang jauh ke depan demi ...
2020 menjadi tahun keempat perhelatan JogjaROCKarta. Setelah sukses menghadirkan Dream Theater, Mega ...
Please wait...