Ramuan Pop Gemas dan Rasa Magis dari Olski

“Rancangan awal memang kami pengin bikin band akustikan. Kami mikirnya lebih ke arah simple. Bisa di mana saja latihannya, bisa pakai alat musik apa saja untuk latihan dan bikin lagu,” ujar Dicki, pemetik gitar Olski.

Minimalis adalah kata yang tepat untuk menggambarkan grup band asal Yogyakarta, Olski. Terbentuk sejak 2013 silam, Olski yang digawangi Febrina Claudya, Dicki Mahardika, dan Shohih “Sobeh” Febriansyah, mengemas lagu-lagu ciptaan mereka dengan mengandalkan gitar, kazoo, pianika, glockenspiel, hingga toy keyboard. Kemasan ini menancapkan kesan minimalis yang memang mereka inginkan.

“Rancangan awal memang kami pengin bikin band akustikan. Kami mikirnya lebih ke arah simple. Bisa di mana saja latihannya, bisa pakai alat musik apa saja untuk latihan dan bikin lagu,” ujar Dicki, pemetik gitar Olski.

Dengan rancangan seperti itu, Olski pun memilih untuk bermain dalam wilayah musik pop. Olski dan musik pop layaknya laki-laki dan perempuan yang saling menemukan satu sama lain dan yakin bahwa mereka berjodoh meski latar belakang mereka berbeda. Penggambaran ini terlihat dari selera musik para personel Olski yang tidak sama satu dengan lainnya. Sobeh menuturkan bahwa ia dulu adalah personel band pop punk. Sementara Dicki dan Dea adalah pengagum musik pop.

Ya dulu ketika SMA kan sudah main punk, rock, dan sebagainya. Nah pas kuliah, kalau main musik keras lagi saya malah ga bisa ngerjain skripsi, yasudah main pop aja yang lebih easy listening ha ha ha,” kata Sobeh

“Kayaknya lagu yang semua orang bisa nerima kan pop. Lagu-lagu kita juga temanya pop. Kita ga mencoba jadi orang lain. Kami bertiga sebagai Olski ya memang bisanya main di musik pop ini,” imbuh Dicki.

Berangkat dari fondasi musik pop tersebut, Olski memulai perjalanan bermusik mereka dengan beberapa pergantian personel pada posisi vokal. Pergantian itu tercatat terjadi empat kali sebelum Dea bergabung. Dengan bergabungnya Dea, Olski pun dengan mantap merilis album perdana mereka yang bertajuk In The Wood.

Album yang baru saja dirilis pada November 2017 lalu itu berisikan 10 lagu dan satu bonus track yang secara umum menceritakan kehidupan asmara muda-mudi. Lagu -lagu dari Olski mengesankan bahwa band ini memang ingin terlihat sederhana namun tanpa menghindari arti bermakna dari lirik-lirik di dalamnya.

Ini tercermin dalam lagu-lagu dengan judul Titik Dua Bintang, Datang Bulan, Rindu, hingga Would You Like Some Tea. Penggunaan kata-kata dalam kehidupan sehari-hari membuat kesan bahwa Olski sedang mencurahkan hati mereka lewat lantunan kata dalam lagu dengan cara yang pas dan tak berlebihan. Dipadukan dengan musik pop minimalis yang mereka usung, kesan lain yang muncul adalah gemas.

Bahkan, banyak pendengar yang menjuluki Olski sebagai band pop gemas setelah mendengar dan juga menyaksikan penampilan panggung Olski. Para personel Olski pun tak menampik adanya kesan ini meski mereka tak menyangka akan muncul kata gemas dari para pendengarnya.

“Yang pada dengerin banyak yang bilang ‘ih lagunya gemas banget sih’. Akhirnya jadi sebuah sebutan baru bagi kami bahwa Olski membawakan pop gemas,” ujar Dicki. 

 

Magis lewat Olschestra

Minimalis dan terkesan gemas bukan berarti tidak bisa menjadi sesuatu yang magis. Justru dengan keminimalisan tersebut, peluang-peluang magis dapat terjadi. Begitulah yang terjadi pada Olski. Dengan pop minimalis, mereka justru meciptakan peluang untuk membuat musik mereka terdengar megah ketika ditampilkan secara langsung.

Konser bertajuk Olschetra yang dihelat 16 Februari lalu di Gedung Societeit, Taman Budaya Yogyakarta, adalah buktinya. Dalam konser itu, Olski berkolaborasi dengan orkestra dalam menampilkan lagu-lagu mereka. Uniknya, ide untuk mengadakan Olschestra itu muncul dari sebuah guraun spontan.

“Olschestra awalnya justru becandaan. Kami ada wawancara di radio dan kami ditanya kalau mau konser mau bikin yang kayak apa. Nah waktu itu spontan aja jawab pakai orkestra,” ungkap Dicki.

Ya bermimpi yang tinggi dululah waktu itu,” sambung Dicki.

Kolaborasi dengan orkestra itu pertama kali terwujud ketika mereka tampil di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2018. Meski begitu, menurut Olski masih banyak kekurangan ketika mereka berkolaborasi dengan orkestra  di FKY. Kekurangan-kekurangan itu membawa mereka kepada saran dari teman-teman hingga akhirnya mereka pun kemudian memantapkan diri untuk membuat Olschestra yang kedua dengan konsep dan persiapan yang lebih matang.

“Masukan-masukan itu membuat kami termotivasi untuk membuat kolaborasi dengan orkestra lagi dan terwujudlah di Olchestra yang di Societeit,” ujar Dicki.

Olski menggandeng Harly Yoga Pradana sebagai music director dan juga melibatkan empat orang sebagai komposer untuk Olschestra. Uniknya, para personel Olski justru mengaku belum bisa membaca not balok.

“Sebenarnya kan kami ini orang yang tidak menekuni musik orksetra dan ga bisa baca not balok, makanya urusan komposisi orksetra kami serahkan sepenuhnya kepada mereka. Jadi, memang kami main seperti biasa hanya saja kali ini dengan balutan musik orkestra,” ujar Dicki.

“Kalau kami beneran menekuni musik orkestra, mungkin kami ga jadi Olski,” tambahnya dengan nada canda.

Meski tidak terlibat langsung dalam proses orkestrasi itu, Olski tetap memperkuat diri mereka dalam segi penampilan di panggung. Menurut mereka, kekuatan itu ada dalam segi internalisasi lagu-lagu karya mereka ketika dibawakan di panggung.

“Dari persiapan Olschestra, kami juga fokus untuk merasakan lagu-lagu itu. Dengan balutan orkestra, kami mencoba meresapi, merasakan, dan masuk ke dalam lagu-lagu kami dan itu terwujud ketika kami tampil. Jadi, bukan sekedar tampil biasa tapi bagaimana kami tampil dan menyampaikan pesan dalam lagu itu,” tutur Dea, vokalis Olski.

Persiapan matang tersebut terbayar dengan kepuasan tak terhingga ketika tiket Olschestra terjual habis dan juga pertunjukan yang berjalan lancar serta memuaskan. Olski menunjukkan bahwa pop gemas mereka bisa dibawa menjadi sesuatu yang magis.

Penulis: Yulianus Febriarko

Editor: Fik


Photography By : Dokumentasi Olski




TAGGED :

Related Article

Gambaran situasi para pewarta musik hari ini ...
Sebuah karya lanjutan dari band rock Ibu Kota yang tengah melambung namanya. ...
Semangat Do It Yourself (D.I.Y) adalah sebuah credo wajib bagi anak-anak punk. Etos itu pun berlaku ...
Dalam memperingati usia dua dekade di 2019 salah satu band pop punk berpengaruh tanah air. ...
Sebuah karya lugas dari band power pop asal Jakarta ...
Tertanggal 6 desember 2018 silam adalah kali pertamanya semua personel Deadsquad era Horror Vision/P ...
Biduan pop, Vira Talisa, sukses menampakan keemasan musik pop Indonesia lewat Primavera. Jika di kar ...
Tak hanya Instagram atau media sosial lainnya, buku foto kini menjadi sarana ekspresi diri kekinian. ...
Traveling ke ruang angkasa, menjelajah satu galaksi ke galaksi lain. Buat saya, cerita kayak begini ...
Mural sosok dua tokoh ini menyapa saya dikala tiba di kota kelahiran, Solo, Jawa Tengah. ...
Koleksi piringan hitam makin hari harganya makin naik. Meskipun dari zaman ke zaman pembelinya makin ...
Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palembang saat Asian Games 2018, say ...
Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-kecilan. Semua barang yang lampa ...
Buat saya, musik itu pancing energi, apalagi setelah kerjakan semua yang penting-penting dan lagi bu ...
Waktu saya lihat gitar listrik, yang identik dari benda satu ini adalah suara "grrrrr", "bzzz", dan ...
Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Instagram? Enggak tahu juga. Engg ...
"Dulu waktu awal-awal kerja di daerah Cikini, gue tinggal jalan sedikit ke Jalan Surabaya kalau lagi ...
Please wait...