Pewarta Musik yang Membunuh Industrinya Sendiri

Gambaran situasi para pewarta musik hari ini

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Pada Januari 2019, saya berbincang dengan Teguh Wicaksono, salah satu pendiri Sounds From The Corner juga Archipelago Festival, perihal peran media di kancah musik tanah air belakangan ini. Saya sepakat dengan Teguh bahwa ketiadaan Rolling Stone Indonesia bukan menjadi indikasi bahwa industri media musik telah bertemu hari akhirnya. Namun yang bisa saya tambahkan adalah kita dapat melihat situasinya menjadi lebih jelas sekarang.

Seperti apa kiprah media musik, atau lebih tepatnya mewartakan musik secara fungsi, di tengah hidupnya raksasa liar pemakan korban bernama internet? Cara apa yang paling ampuh dalam mewartakan musik untuk dapat memenangkan minat para konsumen sekaligus bisnisnya? Pertanyaan-pertanyaan yang sudah melayang-layang dalam beberapa tahun terakhir.

Internet, khususnya media sosial, memang telah mengubah cara mengonsumsi sebuah informasi. Para konsumen memiliki kekuatan untuk menentukan sendiri jenis informasi yang ingin mereka serap, medium yang digunakan, format yang digemari, hingga waktu yang dimanfaatkan. Bahkan penggemar memiliki akses langsung kepada idolanya melalui media sosial maupun situs resmi yang digarap sendiri. Tidak perlu lagi menunggu pewarta musik melakukan proses pengolahan yang kemudian menjadi sebuah produk pemberitaan musik.

Situasinya menjadi lebih rimba karena para pewarta dihadapkan dengan sikap prematur dan fluktuatif para konsumen dalam merespon kecepatan informasi. Membangung tingkat kredibilitas menjadi lebih sulit meskipun sudah memiliki bahan-bahan baku seperti aktualitas, akurasi fakta, nilai objektivitas, maupun bias atau tidaknya sebuah berita yang diproduksi. Para pewarta yang mendapat tekanan bisnis dari tempat mereka bernaung, menjadi kehilangan akal kemudian melupakan satu fungsi dasar pewartaan yaitu mediasi.

Saya beri sedikit penggambaran. Belakangan ini tidak sedikit pewarta yang menyiarkan sebuah opini atau kritik tanpa memberikan ruang yang seimbang kepada para pihak yang bersinggungan di dalamnya. Alasan utamanya adalah ego pewarta yang diayomi oleh tuntutan performa pekerjaan. Sikap cover both side seakan tidak ada lagi di meja kerja mereka.

Pemberitaan yang ramai memang selalu memenangkan semua pihak; bisnis medianya, pengetahuan konsumennya, maupun cakupan konten para pelaku musiknya sebagai narasumber. Di saat yang bersamaan, pemberitaan yang ramai – terutama yang dimotori kontroversi – tidak jarang menjadikan para pelaku musik sebagai satu-satunya objek yang dipecundangi. Pewarta yang seharusnya menerjemahkan pikiran, gagasan, maupun energi para pelaku musik, malah menutup mata sambil menelanjangi mereka dengan sadis di hadapan banyak orang bahkan penggemarnya sendiri. Fungsi mediasi menjadi cacat karena kredibilitas pewartanya termakan oleh ego sendiri maupun kepentingan bisnis semata. 

Musisi sebagai narasumber, olahan pertama produk pemberitaan, menjadi tidak lagi percaya untuk mencurahkan dirinya kepada para pewarta. Tentu para konsumen tak sungkan untuk menyebarkan sendiri hasil pemberitaannya – dengan membawa pengaruh kepada sudut pandang para konsumen lain – tanpa ada tanggung jawab apapun kepada para narasumbernya.

Jika sudah sampai tahap itu, tidak ada satu pihak pun yang bisa menghentikan laju kontroversinya. Para pelaku musik menjadi satu-satunya pihak yang dihujani ampas pemberitaannya sendiri. Pikiran, gagasan, dan energi yang sudah mereka tumpahkan ke dalam sebuah karya, hanya melahirkan bumerang yang membunuh. Secara sadar ataupun tidak, pada akhirnya tidak sedikit dari para pelaku musik ini yang mengalami kemunduran dalam proses berkarya, pola pikir, maupun mental karena ulah para pewarta yang menyimpang dalam bertugas.

Saya mencoba memahami bahwa para pelaku industri media musik tengah berada di masa kegelapan bisnisnya belakangan ini. Faktanya, saya adalah salah satu korbannya. Namun bukan berarti “kekalahan” situasi para pewarta musik malah mengorbankan kesehatan kancah musiknya. Memang tidak bisa dipungkiri, rantai dalam sebuah ekosistem pasti terhubung satu sama lain. Tetapi para pewarta seharunya bukan menjadi satu-satunya pihak yang memutuskannya.

Bagi saya, ini adalah cerminan yang perlu diperhatikan. Bagaimana pewarta musik, termasuk saya yang ada di dalamnya, harus membangun kredibilitas yang kokoh tanpa membunuh industrinya sendiri maupun kancah musik secara umum. Saya tidak punya wewenang untuk menentukan model bisnis sebuah media demi terus bertahan dan berjalan karena mereka punya cara dan situasi yang berbeda-beda. Namun yang perlu diingat, fungsi dasar mediasi tidak bisa dilupakan hanya demi kepentingan-kepentingan yang sesaat. Fungsi ini adalah pondasi terbaik untuk membangun kualitas yang selanjutnya memperkokoh sebuah kredibiltias.

Selama ini internet selalu dianggap sebagai lawan utama peperangan di industri media musik. Memang semenjak kehadiran internet, fungsi mediasi menjadi mengkerut sehingga metode bisnis maupun bentuk konten harus terus bergerak fleksibel dalam area pembaruan.

Alih-alih memanfaatkan cara-cara yang dampak buruknya ditelan oleh pihak lain, saya percaya bahwa para pewarta masih memiliki segudang ide dan energi untuk terus berinovasi demi mengembangkan kancah musik sebagai ekosistemnya. Selayaknya yang sudah dan akan terus dilakukan oleh para musisi saat menciptakan karya mereka.

Penulis: Pramedya Nataprawira

Editor: Fik


Photography By : Dokumentasi Lockermedia



Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

TAGGED : News, Media, Musik

Related Article

Sebuah karya lanjutan dari band rock Ibu Kota yang tengah melambung namanya. ...
Trio power pop asal Jakarta ini berhasil menemukan jati diri sebenarnya ...
“Rancangan awal memang kami pengin bikin band akustikan. Kami mikirnya lebih ke arah simple. Bisa ...
Dalam memperingati usia dua dekade di 2019 salah satu band pop punk berpengaruh tanah air. ...
Sebuah karya lugas dari band power pop asal Jakarta ...
Biduan pop, Vira Talisa, sukses menampakan keemasan musik pop Indonesia lewat Primavera. Jika di kar ...
Kritik penonton terhadap konser Westlife di Jakarta mengingatkan kembali pada promotor, bahwa konser ...
Warpaint : Tampil Minimalis namun Berhasil Jadi Pusat Perhatian ...
Terapi musik bisa menenangkan kecemasan, mengurangi rasa sakit, dan jadi hiburan yang menarik selama ...
Medium promosi karya band di era digital seperti sekarang tak hanya terbatas pada tulisan review saj ...
Penyanyi lagu I Love You 3000, Stephanie Poetri dikabarkan gabung ke label rekaman 88rising. ...
Please wait...