CLASIFIED MUSIC | ORIGINS | 17 Juni 2019

Korekayu: Do It Yourself, Gali Potensi, dan Bangun Relasi

Semangat Do It Yourself (D.I.Y) adalah sebuah credo wajib bagi anak-anak punk. Etos itu pun berlaku ketika para punkers berkiprah dalam dunia musik. Begitu kuatnya credo ini hingga mereka para musisi yang aliran musiknya bukan punk pun turut mengambil credo ini sebagai sebuah semangat dalam berkarya. Inilah yang juga diadopsi oleh Korekayu, band oldies pop asal Yogyakarta.

Korekyau terbentuk dari sebuah UKM band Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Band ini berformasikan Alfonsus Kriswandaru (vocal), Bondan Jiwandana (gitar), Lukas (Gitar), Bagas Ranggen (Bas), Yustinus Cahyadi (Keyboard), dan Alvin Yudha (drum). Meski oldies pop menjadi wilayah mereka dalam musik, nuansa kental D.I.Y ala punk amat terasa dalam proses pengerjaan kemasan EP perdana mereka yang dirilis pada Februari 2016 lalu. Sebanyak 100 keping CD EP bertajuk Retrorika Metropolitan dikemas dalam wadah kayu dengan memadukan seni sablonase untuk halaman muka menjadi penanda semangat D.I.Y itu sendiri.

“Bisa dibilang waktu itu cara kami punk banget. Saya nonton DVD American Hardcore dan langsung kepikiran. Ini anak-anak punk yang benar-benar D.I.Y. Bikin flyer sendiri, bikin cover vinyl sendiri,” ujar Bondan mewakili Korekayu.

Terinspirasi film dokumeter tersebut, Bondan mengisahkan bahwa Retrorika Metropolitan yang berisi lima lagu bernuansa retro itu juga dikerjakan tanpa bantuan label. Produksi rekaman mereka lakukan di Dinata Studio dan proses pembuatan wadah kayu pun mereka kerjakan secara mandiri. Pemilihan kayu sebagai wadah CD itupun, menurut Bondan, memiliki alasan sederhana namun selaras dengan keinginan mereka dalam membuat EP itu.

“Kayu sebagai pilihan media sebenarnya juga last minute decision. Awalnya kami lihat band Zoo yang pernah rilis album pakai media berupa batu. Kami pengin pakai media lain, ya sudah kayu itu yang kami pilih. Lagian, kami ingin EP ini jadi sesuatu yang bukan hanya sekedar rilisan fisik biasa seperti biasanya. Kami ingin EP kami jadi sesuatu yang collectible,” kisahnya.

Bagi Korekayu, letak nilai collectible dari EP mereka juga terletak pada seni sablonase yang digunakan. Bekerjasama dengan Martinus Gober yang piawai dalam seni sablonase, Korekayu mengerjakan sablon artwork untuk cover EP tersebut secara manual.

“Mas Gober juga merangkap jadi produser daalam EP ini. Benar-benar handmade kemasan EP itu. Kami sekaligus belajar seni sablon juga. Selama sekitar tiga bulan kami ngerjainnya secara mandiri, sablon manual sampai ngasih engsel sebagai penyambung kayu nya,” ungkap Bondan.

Bondan mengaku bahwa banyak kesalahan ketika proses pengerjaan wadah EP tesebut. Kesalahan sablon hingga kayu yang pecah ketika akan dipasangi engsel menjadi tantangan bagi Koreakyu. Meski begitu, Retrorika Metropolitan tetap menjadi sesuatu yang bermakna mendalam bagi Korekayu.

“Dengan banyak kesalahan seperti itu tentu menyebabkan kerugian finansial, tapi ya kami tetap maju aja. Kita cari celahnya agar biaya produksi juga bisa terpangkas. Toh, ini adalah rilisan pertama kami. Dengan semangat dan etos kerja secara mandiri dalam pengerjaan album ini, ya worth it lah. Ada kebanggaan tersendiri,” ujarnya.

“Dengan wadah kayu dan ada seni sablonase, EP kami jadi barang yang collectible. Apalagi kami nyetaknya cuma 100 buah dan langsung habis dipesan karena kami melakukan sistem pre-order untuk EP kami itu,” tambah Bondan.

Gali Potensi, Bangun Relasi

Dengan semakin berkembangnya era internet, berbagai macam tawaran aplikasi media sosial, Korekayu pun turut berstrategi di dalamnya. Strategi pertama, Retrorika Metropolitan mereka rilis dalam beberapa layanan music streaming. Kedua, mempromosikan karya serta kegiatan mereka melalui media sosial. Ketiga, mereka membuat laman resmi band dengan alamat korekayu.com. Strategi ketiga ini merupakan sebuah cara bagi Korekayu untuk menggali potensi masing-masing personel di luar potensi bermusik mereka.

Bondan mengungkapkan bahwa dua personel mereka adalah lulusan Teknik Informatika sehingga pembuatan laman resmi itu pun juga mereka buat sendiri dan dikelola secara mandiri oleh mereka. Rupanya, bagi Korekayu, pengerjaan album secara mandiri baik dari sisi produksi lagu maupun pengemasan mandiri ala Korekayu tersebut bukanlah akhir dari semangat D.I.Y mereka. Pembuatan dan pengelolaan laman resmi band itu adalah buktinya.

“Bisa dibilang ini juga pakai semngat Do It Yourself. Web itu udah kami buat bahkan sebelum kami punya lagu sendiri karena suatu saat kami pasti butuh. Kan personel Korekayu ada yang lulusan Teknik Informatika, jadi semua ya kita buat sendiri dan kelola sendiri,” katanya.

Uniknya, laman resmi Korekayu tak hanya memuat informasi mengenai profil, merchandise, serta jadwal pentas Korekayu saja, tetapi juga memuat rubrik bernama Coretan. Rubrik ini dibuat khusus oleh Korekayu sebagai bagian dari strategi mereka untuk membangun relasi dengan mereka yang mendengarkan Korekayu. Dalam Coretan, siapa saja, termasuk para personel Koreakayu, dapat mengirimkan opini, uneg-uneg, hingga curhat.

“Ini sebagai sarana korespondensi kami dengan teman-teman yang mendengarkan musik Koreakayu. Kami ngajak mereka untuk nulis apapun itu yang ada benang merahnya dengan Korekayu. Tulis saja dan akan kami tanggapi tulisan itu. Dengan media sosial semacam IG atau Twitter kan fiturnya tidak memungkinkan untuk menulis panjang, nah makanya kami sediakan platform di web kami. Kami pun kadang juga nulis di rubrik itu,” ujar Bondan.

“Jadi alat komunikasi kami dengan teman-teman lah,” sambungnya.

Menurut Bondan, langkah seperti ini memperluas pandangan para personel Korekayu bahwa selain bermusik, bermain dalam sebuah band juga dapat diperlebar maknanya sebagai sarana membangun relasi.

“Web ini memungkinkan kami untuk mendengar cerita-cerita mereka. Bukan hanya sekedar say hello saja tapi benar-benar mereka brecerita. Jadi, ada timbal balik. Tulisan mereka kami unggah apa adanya dan kami tanggapi. Kan ini jadi menarik. Band-band-an bukan soal musik saja tapi juga bisa melebar ke semua hal terutama membangun relasi dengan para pendengar musik Korekayu,” kata dia.

Penulis: Yulianus Febriarko

Editor: Fik


Photography By : Dokumentasi Kokerekayu




TAGGED :

Related Article

Gambaran situasi para pewarta musik hari ini ...
Sebuah karya lanjutan dari band rock Ibu Kota yang tengah melambung namanya. ...
“Rancangan awal memang kami pengin bikin band akustikan. Kami mikirnya lebih ke arah simple. Bisa ...
Dalam memperingati usia dua dekade di 2019 salah satu band pop punk berpengaruh tanah air. ...
Sebuah karya lugas dari band power pop asal Jakarta ...
Tertanggal 6 desember 2018 silam adalah kali pertamanya semua personel Deadsquad era Horror Vision/P ...
Biduan pop, Vira Talisa, sukses menampakan keemasan musik pop Indonesia lewat Primavera. Jika di kar ...
Tak hanya Instagram atau media sosial lainnya, buku foto kini menjadi sarana ekspresi diri kekinian. ...
Traveling ke ruang angkasa, menjelajah satu galaksi ke galaksi lain. Buat saya, cerita kayak begini ...
Mural sosok dua tokoh ini menyapa saya dikala tiba di kota kelahiran, Solo, Jawa Tengah. ...
Koleksi piringan hitam makin hari harganya makin naik. Meskipun dari zaman ke zaman pembelinya makin ...
Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palembang saat Asian Games 2018, say ...
Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-kecilan. Semua barang yang lampa ...
Buat saya, musik itu pancing energi, apalagi setelah kerjakan semua yang penting-penting dan lagi bu ...
Waktu saya lihat gitar listrik, yang identik dari benda satu ini adalah suara "grrrrr", "bzzz", dan ...
Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Instagram? Enggak tahu juga. Engg ...
"Dulu waktu awal-awal kerja di daerah Cikini, gue tinggal jalan sedikit ke Jalan Surabaya kalau lagi ...
Please wait...