CLASIFIED MUSIC | ORIGINS | 02 Oktober 2019

Hidupmu, Musik, Distorsi: Selalu, Selamanya!

Pada akhirnya ini semua bercerita tentang gairah. Tulang-tulang yang bengkok dan kita masih tetap bisa tertawa setelahnya.

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Pada akhirnya ini semua bercerita tentang gairah. Tulang-tulang yang bengkok dan kita masih tetap bisa tertawa setelahnya. Tidak terkalahkan. Seratus juta tenaga bebal, seperti empat penunggang kuda yang pergi ke perbukitan untuk mati bersama setiap hal yang mereka hidupi; amplifier, oktan tinggi dan sejarah yang panjang. Gairah adalah segalanya yang kita punya, sesuatu yang menguras ketahanan ginjal juga menuntut kepercayaan diri sekaligus ketabahan dalam satu lubang kegilaan yang sama.

Ha! Bergeloralah kita dibuatnya. Bergetar remang bulu roma. Bersenang-senang di hadapan lautan kepal tangan manusia, yang berteriak, meradang, meninju, menyumpah tanda serapah di atas tanah yang hanya menuai apa yang telah kita tebar. Tanpa kebencian, hanya pertanyaan – yang disundut dan api berkobar. Karena mimpi tidak bisa bicara seterang kenyataan, pula kebahagiaan yang takkan bisa menjerang perlawanan sekuat kesedihan. Hoho. Berang. Jari tengah permanen, menggenggam renjana . . .

Dan sekarang tampaknya saya harus berhenti sejenak; memberi tiga titik hitam demi menyudahi usaha menggombal barusan yang membuat jemari ini berkeringat, mengetik cepat dengan lagak Pandir Lubis dalam serangan obat panik generik. Paranoid selagi agresif. Meledak-ledak di sepanjang kehadirannya, terutama ketika kau tahu jika ini semua tidak akan pernah berakhir hingga terbakar ujung buah pelir.

Gairah adalah tentang nyali di antara pijakan buah pelir. Sejauh mana kita berani menentengnya, bandul balistik tersebut – apakah kita normal punya dua, bonus tiga, atau tinggal satu, atau barangkali sudah tidak lagi punya sama sekali? Tidak tahu, mari kita lihat sendiri nanti.

Jadi saya pergi menemui pemain drum Seringai, Edy ‘Khemod’ Susanto untuk menanyakan tentang kesehatan buah pelirnya. Dan ketika hal itu terjadi, dia menjawabnya balik dengan sebuah pertanyaan.

“Menurut elo,” katanya. “Seringai band besar di Indonesia, bukan?” Seringai adalah salah satu investasi buah pelirnya.

Saya mengangkat bahu. “Paling enggak masuk Big Three di metal; Burgerkill, Deadsquad, Seringai. Yang keempat mungkin Jasad . . .” dan lalu memantulkan panahnya kembali, “Elo sendiri merasa besar, enggak?”

Asap rokok dihembus melewati uban yang sedikit mendominasi bulu kumis dan dagunya, Khemod tertawa.

Di sebuah sore yang lembab bercuriga hujan itu, telur balistik Khemod sedang terlindung di balik celana denimnya yang pudar. Dia duduk di teras balkon yang menghadap ke Jalan Raya Cipete di lantai dua kantor Cerahati, rumah produksi tempatnya mencari nafkah sejak tahun 2002. Kaos hitam yang dikenakannya andalan, Suicidal Tendecies, yang secara jelas menunjukkan dari era mana dia berasal: 1992, generasi gondrong yang beruntung kena pentung tentara ketika Sepultura dan Metallica membakar stadion Lebak Bulus, Jakarta – Zaman jahiliyah yang direpresi Orba dan Jon Bon Jovi menapaki puncak tangga.

1992 adalah tiga tahun yang berlalu sejak Khemod, seorang bocah SMA yang lugu dan menggemari Motley Crue, berkawan dengan pemuda berkacamata yang lebih tua sedikit darinya, Arian Arifin, vokalis Puppen yang – mungkin – belum mengembelkan angka ‘13’ di belakang namanya.

Perkawanan mereka berkomuni pada skateboard dan heavy metal kota Bandung. Khemod masih ingat saat-saat dia sering mengunjungi kamar Arian untuk mengoprek koleksi kaset – terkadang meminjamnya, dan menonton video Betamax. “Gue bisa bilang Arian itu cukup berjasa,” ujar Khemod. “Dia adalah salah satu penentu selera musik anak-anak di era itu. Dia punya apa yang kita enggak punya; kaset impor, majalah-majalah . . . dan dia suka kasih rekomendasi band-band metal yang aneh. Siapa coba yang dengerin Eyehategod di jaman itu? Dan yang punya albumnya, ya Arian.”

Sewaktu bercerita barusan, keadaan Cerahati sedang lompong, di balik kaca gelap di belakang kami terdapat sebuah ruang rapat yang cukup luas memanjang, menyatu dinding dengan sofa dan deretan rak bertumpukan kardus-kardus. Suasananya agak berantakan, tapi berasa energi kreatif yang berserakan pada sebuah kantor produksi. Sehingga tidak sulit untuk bisa membayangkan jika ruang rapat itu dialih-fungsi menjadi studio latihan Seringai. Bukan yang permanen, tapi cukup nyaman untuk menulis-menjahit riffs. Lagipula tertutup dan bebas sewa, tentu saja. Sebagian besar lagu di album Taring (2012) diciptakan di sana, aku Khemod. Termasuk juga terbitan paling baru mereka, Seperti Api, Juli 2018 kemarin.

Beginilah ternyata cara Seringai bekerja: biasanya keempat serigala bakal mengurung diri semalaman, Ricky Siahaan – gitaris sekaligus produser aka riff maker dan bassis Sammy Bramantyo dengan instrumennya masing-masing, sementara Khemod mengeluarkan set drum elektrik agar kebisingannya teredam. Sedangkan Arian lebih banyak menyimak apa yang telah dilahirkan ketiga rekannya sambil mereka-reka masa depan rapalan vokalnya.

Terkadang tensi meningkat dan Khemod akan mengambil gitar dan Ricky gantian beralih ke drum mempraktekkan ide masing-masing. Ketika fase buntu melanda, barulah mereka berhenti sejenak untuk mengambil nafas, merokok, membandingkan serta menimbang referensi yang biasanya disodorkan oleh Arian, persis seperti 20 tahun lalu di kalangan tongkrongan anak-anak Bandung.

“Dan itu selalu band-band yang obscure,” ujar Ricky secara terpisah dalam sebuah wawancara yang dilakukan di kedai kopi kawasan Tebet, Jakarta Selatan, dekat rumahnya. “Meskipun,” lanjut Ricky, “band-band rekomendasi itu tidak selalu berguna.”

Ricky adalah produser dua album terakhir Seringai. Kontribusinya mutlak, dialah penentu corak aransemen dan tingkat keberatan tata suara mereka. Seorang provokator riff yang memiliki hak privilese paling istimewa: “Gue sangat berkuasa di sini, man!” candanya. “Maksudya anak-anak sudah percaya banget sama gue sejak dulu. Gue juga paham potensi anak-anak, tahu sampai batas mana kemampuan mereka. Gue mengerti kekuatan band ini sejauh apa, di samping gue juga tidak expect berlebihan sama mereka. Jadi akhirnya tidak diktator, tapi membahasnya bersama. Dan rata-rata mereka akan mengikuti,” lanjut Ricky.

Hal itu diakui juga oleh Khemod yang sempat merelakan satu bagian “Neil Peart”-nya dipotong sang produser karena dianggap berlebihan. Begitu juga dengan banyak intonasi dan penempatan vokal Arian dan direksi bass Sammy. Bagi Ricky semuanya bukanlah tentang ego, melainkan usaha untuk mampu membuat setiap notasi lagu terdengar enak dan, “tidak ada pengulangan yang mencolok,” katanya. “Dan rata-rata mereka akan mengikuti.” Ricky tersenyum, memperlihatkan raut pemimpin yang bersahaja, posturnya sekilas mirip Kim Jong-Un yang terhibur.

Lucunya, dengan segala kebiasaan perfeksionisnya, Ricky malah sering mengutuki dirinya sendiri sebagai seorang overthinker, yang menurut saya justru menjadi berkah agar setiap hal dapat diperhatikan secara rinci. Standarisasinya pun ganda, pendebat yang juga didebat. Walaupun sesekali masih suka menggelar sesi tarik ulur kepada ketiga rekannya, pada akhirnya posisi Ricky tetap sulit digoyahkan, seperti argumennya mengenai fungsi vokal berikut ini: “Gue paling tidak suka kalau lirik atau nyanyian atau teriakan di musik ekstrem itu cuma tempelan doang. Vokal itu harus menjadi instrumen yang juga saling memberi komplimen dengan musiknya. Gue rela memberhentikan musik untuk lebih menghidupkan satu baris lirik, yang (bisa jadi) enggak enak kalau harus ditimpa musik terus.”

Maka dibedahlah vokal Arian. Ricky menajamkan penekanannya, melugaskan tema dan mengasah tujuan lirik-liriknya. Satu diksi bertele-tele diganti dengan diksi lainnya. Kritik, emosi, empati dan senang-senang ditempatkan dalam satu jalur yang beriringan. “Karena Seringai itu selalu bergerak sebagai kolektif. Kami selalu memastikan jika pendapat band terhadap suatu hal juga merupakan pendapat pribadi masing-masing anggota di dalamnya,” cetus Ricky.

Di album-album terdahulu Seringai selalu menyertakan catatan pinggir di setiap teks lirik di sampul albumnya guna menyorongkan opini. Kita bisa merasakan energi banal bertetesan di balik kalimat-kalimat tersebut, ikut terbakar dan teracuni secara langsung.

“ . . . mempertanyakan agama adalah hal yang tabu, dan ‘kafir’ menjadi serangan personal dan menyudutkan mereka yang, uh ‘non-believer’. Dari awal, sebagian besar dari kita tidak pernah dapat memilih: sejak kecil sudah ‘dipilihkan’. Setelah beranjak dewasa, kita bisa memilih ataupun tidak memilih. Ini adalah pilihan personal, dan tidak ada yang berhak menghakimi pilihan personal kita. Who are you to judge?” – Puritan (High Octane Rock EP, 2004)

Atau,

“Tabur garam kepada luka, membuat duka menjadi murka. Ketika bencana di Sumatera dikaitkan dengan maraknya pornografi di Indonesia oleh seorang petinggi Negara, apakah itu bijaksana? Apakah seluruh warga Sumatera itu ‘berdosa’ karena pornografi? Siapakah kita yang berhak mengklaim bahwa bencana datang karena akhlak seseorang?” – Khemod untuk lagu Tragedi (Taring, 2012)

Dan satu lagi,

“Didedikasikan bagi siapa saja yang konsisten merasakan sensasi hidup oktan tinggi ketika berumur 15 tahun: energi ketika menikmati slam dance di konser musik rock & heavy metal, mengoleksi segala hal yang berbau musik kesukaan, bangga menampakkan identitas dan lainnya. Beberapa pihak kadang melihat konsistensi ini sebagai tanda tidak pernah dewasa, tidak sesuai umur, dan juga tidak menjadi masalah. Di motor satu ini, umur hanyalah bagaikan angka-angka di speedometer. Thrash!” – Ricky untuk lagu Berhenti Di 15 (Serigala Militia, 2007)

Bagaimana, merasa terwakili? Bertentangan dengan ajaran orang tua yang fanatik agama hingga kau punya kegeraman besar terhadap bigotri? Satu hal yang mesti kita ketahui adalah, bahwa ini akan selalu menjadi kasus yang sama, laga seumur hidup; kita melawan mereka, politikus bangsat, otoritas petantang-petenteng, aparat korup, moralis bangsa berkacamata kuda, agitasi murahan, norma usang, berita setiran dan tukang ceramah beserta umat fasisnya yang miskin, bodoh lagi sombong. Kebodohan telah membuat kita terganggu, namun kebodohan yang terencana membuat kita semua terhina.

Bersambung...

 

Penulis: Rio Tantomo

Editor: Fik

 


Photography By : Rigel Haryanto



Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Related Article

Semangat Do It Yourself (D.I.Y) adalah sebuah credo wajib bagi anak-anak punk. Etos itu pun berlaku ...
Album penuh kedua Rich Brian yang hidup dengan pendekatan berbeda ...
Kesan pertama saya saat melihat aksi panggung Pemuda Sinarmas “Njir, ribet banget sih? Nge-DJ pake ...
Rap dan Hip-hop adalah sebuah genre musik yang kerap kali dikaitkan dengan Black Culture. ...
Cepat, bising namun harmonis. Tiga kata itu mungkin cukup tepat untuk menggambarkan musik yang dirac ...
Berbicara mengenai musik death metal di Yogyakarta tentu saja tak akan lepas dari sebuah band bernam ...
Dunia memang tidak bisa diprediksi bagi Kuntari. Setelah menggeluti jazz, world music, dan neoklasik ...
Siapa tak kenal almarhum Gesang, maestro Keroncong Indonesia? ...
Selang lima tahun, akhirnya Dialog Dini Hari melepas album terbarunya. ...
Single soal kemerdekaan dan megenrekan diri mereka ‘90 rock electronic dance indie ...
Baru-baru ini, pihak film Gundala mengumumkan tujuh lagu terpilih dalam sayembara #GundalaSongTribut ...
Dipha Barus,--di tanah air, nama DJ yang baru dinobatkan sebagai DJ of The Year di Paranoia Awards 2 ...
Please wait...