CLASIFIED CULTURE | JOURNEY | 08 November 2019

Bentuk Apresiasi dan Perasaan Erat di Lingkungan Terdekat

Kolektor dan pecinta musik Indonesia ini mendedikasikan hasrat bermusiknya lewat pengarsipan musik bersama Irama Nusantara.

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk mengapresiasi karya musik. Cara-cara yang paling umum seperti mendengarkan musik, membeli rilisan fisik, dan menonton konser dari sang idola adalah bagian dari apresiasi musik. Bahkan jika kalian mendengarkannya saja sebagai bentuk karya seni dan menemukan hal kecil esensial seperti aransemennya tanpa melihat aspek lain, itu juga bagian dari apresiasi.

Buat saya dengan segala aktivitas yang bersinggungan dengan musik, mendengarkannya saja tidaklah cukup. Setelah mendengarkan musik muncul saja pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dijawab dengan serius  seperti “Siapa ya musisi atau band yang pakai synthesizer pertama kali? Kok bisa rock n roll sebegitu berpengaruh?” mengusik benak saya. Kumpulan pertanyaan itu memaksa saya untuk mencari misteri sebuah karya alih-alih hanya mendengarkannya saja.

Akhirnya misteri dari pertanyaan ini memaksa saya untuk mencari jawaban lewat informasi di celah-celah kecil rak para kolektor. Dari koleksi-koleksi seperti rilisan fisik berbentuk vinyl, kaset, buku, dan majalah saya bisa menemukan karya-karya musik yang dibuat oleh penciptanya. Ya, memang sulit untuk mengumpulkan informasinya mengingat budaya “keren” kita yang cuek dengan pengarsipan dokumen-dokumen kurang penting.

Ketika saya menemukan jawaban dari pertanyaan seputar musik rasanya seperti menemukan sebuah harta karun legenda. Bahwa saya berhasil menggali dalam-dalam cerita bagaimana sebuah karya musik terbentuk. “Oh, ternyata begini yaa kenapa musik dangdut lirik-liriknya seputar kehidupan sehari-hari dan patah hati. Keren banget”.

Ketika memahami secara utuh bagaimana sebuah musik terbentuk dari aspek sosial, budaya, dan seninya itu sendiri, apresiasi terhadap karya musik memiliki nilai tambah. Dari hanya ikut-ikutan sebuah tren musik hasil rekomendasi teman menjadi mengerti mengapa musik itu menjadi tren.

Saat mendengarkan musik era 60-an seperti Transs atau Rolling Stone dimana kita sendiri tak hidup di era tersebut muncul pernyataan “Ah, gini doang kok bisa terkenal?”. Ya, saat itu kita tidak memahami konteks sosial dan budayanya. Jika ditelusuri akan jauh lebih menarik bahwa musik tersebut bukan sekadar tren tapi sebuah karya seni yang terbentuk lewat sebuah proses peradaban masyarakat.

Pertanyaan yang sebelumnya bernada meremehkan akan berubah ketika kita akan memahami konteks sosial dan budayanya. Kita akan menjadi kagum saat mengetahui cerita perjalana dari sebuah karya. “Wuiih, keren banget ternyata dangdut tuh liriknya banyak yang galau karena begini. Bob Dylan dengan gaya nyanyinya yang gak karuan bisa terkenal kaya gitu karena ini”.

Saking kagumnya informasi yang baru kalian ketahui dibagikan ke teman-teman seakan baru menemukan uang Rp 100 ribu di pinggir jalan. Tanpa ragu dan segan memamerkan bahan bacaan berupa buku, majalah atau sebuah artikel yang baru dibaca ke lingkungan sekitar kalian. Dan merasa kagum bareng hingga berkata  “Anjiir, ternyata dangdut tuh kaya gini. Keren banget gilaa”.

Perasaan semacam itulah yang mendorong  saya mengarsipkan karya-karya musik terutama Indonesia. Ada perasaan yang sangat erat ketika mengetahui perjalanan musik di lingkungan yang sangat dekat dengan kita sendiri. Mungkin kita bisa dengan lengkap membaca informasi musik Amerika dan Inggris. Tapi negara-negara terasa jauh dari segi sosial dan budaya, meski sekarang ada sosial media yang menembus batas informasi.


Photography By : Istimewa
Contributor : David Tarigan




Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Related Article

Mural sosok dua tokoh ini menyapa saya dikala tiba di kota kelahiran, Solo, Jawa Tengah. ...
Koleksi piringan hitam makin hari harganya makin naik. Meskipun dari zaman ke zaman pembelinya makin ...
Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palembang saat Asian Games 2018, say ...
Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-kecilan. Semua barang yang lampa ...
Buat saya, musik itu pancing energi, apalagi setelah kerjakan semua yang penting-penting dan lagi bu ...
Waktu saya lihat gitar listrik, yang identik dari benda satu ini adalah suara "grrrrr", "bzzz", dan ...
Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Instagram? Enggak tahu juga. Engg ...
"Dulu waktu awal-awal kerja di daerah Cikini, gue tinggal jalan sedikit ke Jalan Surabaya kalau lagi ...
Tidak banyak yang saya ingat dari tahun 1999. ...
Kalau ngomongin Rossi Musik tuh ingetnya underground, abang-abangan metal, outfit hitam dari ujung k ...
Legoh menyajikan kuliner Manado yang enak di lidah. Namun siapa sangka juru masaknya adalah drummer ...
Circa 2000-an skena dipenuhi dengan manusia-manusia rambut berponi hampir nutupin mata ...
Jam menunjukan hampir pukul 12 malam ketika Saya memasuki pelataran parkir Boshe VVIP Club, Jogja. ...
Selamat dan sukses buat Suneater Coven sudah resmi sebagai kolektif musik baru ibukota yang akan dip ...
Penggunaan plastik harus segera dihentikan. Sebelum laut penuh plastik lalu sampahnya kembali ke mej ...
Pada tulisan sebelumnya saya mengenang 1999 sebagai tahun paling underrated dalam sejarah musik mode ...
Mungkin saja sebagian anak muda millenial sekarang bakal punya anggapan ...
Tren kedai kopi susu kekinian nampaknya masih akan terus berlanjut panjang. ...
K-pop lebih dari sekadar “musik berbahasa asing.” K-pop adalah bagian dari gelombang budaya Kore ...
Jika kegiatan charity atau sumbangsih sosial dilakukan dengan cara memberi kebutuhan pokok dan diisi ...
Digitalisasi tata suara membawa banyak manfaat bagi berbagai pihak ...
Sebelum semakin banyak yang hilang tak tentu rimbanya, karya musik Indonesia dapat diselamatkan lewa ...
Digitalisasi adalah cara jitu saat ini untuk melestarikan sejarah musik Indonesia. Tentunya dengan p ...
Industri musik Indonesia sedang sedang gemar melakukan peralihan format rekaman dari bentuk keping c ...
Di Indonesia kebiasaannya justru lebih sering mengeluarkan single dibanding full album. ...
Biar lebih membaur, lagu nasionl harus kita perdengarkan dan dendangkan di banyak tempat umum. ...
Musisi yang gemar menulis dan masih aktif merilis karya, ia sedang aktif bekerja di sebuah digital a ...
Vokalis yang juga punya kompetensi di bidang strategi konten digital. Ia implementasikan lewat .Feas ...
Saya berharap budaya pengarsipan ini tidak hilang begitu saja dan menjadikan kita generasi yang hila ...
Mudah membuat acara musik, tapi tidak dengan fetival musik yang baik. Ada pertemuan kepentingan yang ...
Seharusnya tidak ada aturan untuk menikmati kenyamanan di ruang public. Tapi kesadaran untuk bersika ...
Please wait...