Harlan Boer

Musisi yang gemar menulis dan masih aktif merilis karya yang sedang aktif bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta.

Skena musik sekarang mungkin sudah terlalu mendikotomikan suatu aliran musik. Beberapa penikmat musik berusaha memisahkan ruang-ruang musik ke segmen tertentu yang terjadi pada musik folk. Muncul dua perdebatan musik folk senja-senjaan atau folk yang protes-protes. Bahwa musik folk yang puitis paling nikmat didengarkan pada senja hari, musik folk protes adalah keresahan rakyat dilantunkan lewat sekumpulan nada.

Jujur saja gua gak ngerti apa itu folk sebenarnya, Gua dengerin musik Bob Dylan orang bilang folk. Dengerin Donovan folk banget. Atau jika mendengarkan Iwan Fals dapat dikatakan folk juga? Apakah folk cukup dikatakan sebagai musik rakyat? Lantunan lirik yang diiringi oleh gitar akustik yang cocok didengarkan sore hari? Gua rasa sah-sah aja jika dua elemen itu digabungkan seharusnya tidak menjadi masalah. Sekali lagi gua gak mengerti folk itu sebenarnya apa dan bagaimana.

Satu hal yang gua lihat dari fenomena ini adalah perbedaan makna menggunakan musik sebagai alat komunikasi. Gua percaya musik sebagai salah satu medium komunikasi manusia dalam mengekspresikan perasaannya. Apa yang dirasakan oleh seseorang disampaikan lewat sebuah bait-bait lirik dan iringan nada. Genre seperti folk atau rock hanya sebagai pengelompokan yang dibuat oleh manusia itu sendiri untuk menyederhanakan kumpulan informasi yang terlalu banyak.

Gua pribadi gak berusaha mengelompokkan diri sebagai musisi folk karena gua juga gak paham-paham banget soal kategori musik ini. Dalam bermusik gua hanya berusaha jujur dengan apa yang gua pikirkan dan mengkomunikasikannya lewat musik. Mudahnya ini adalah alat untuk mengekspresikan diri gua yang introvert.

Introvert sifat gua ini bukan berarti gak bisa ngomong sama orang tapi gua cenderung gak terbuka lebih jauh soal apa yang gua rasakan. Saat memainkan musik gua menemukan ini adalah cara yang paling halus dan mudah untuk gua berekspresi. Apa yang gua pikirkan dalam benak bisa tercurahkan dengan lugas saat gua memainkan gitar akustik atau instrument lain yang gua bisa mainkan.

Pikiran yang ada dibenak gua juga gak ribet-ribet banget kok, cuma hal-hal keseharian saja. Gua gak berusaha menyampaikan pendapat soal dinamika politik sosial, perang opini atau hal-hal puitis lainnya. Buat gua sudah terlalu bising orang-orang mengomentari dan memikirkan tatanan ideal yang seperti apa, apalagi linimasa sosial media.

Kebisingan itu membuat kita lupa bahwa ada hal remeh temeh dalam keseharian  yang musti diperhatikan sebagai refleksi diri sendiri. Seremeh mandi mungkin, dalam lagu Mandi album Operasi Kecil, saat itu gua hanya berusaha refleksi bahwa mandi itu penting. Aktivitas mengguyur air ke badan yang hanya dilakukan dalam beberapa menit saja ternyata mempengaruhi mood kita untuk berkegiatan. Dalam lagu Lupa pun demikian bahwa gua segitu lupanya dengan kacamata dan itu berbahaya. Dengan gua mengekspresikan itu lewat musik bisa menjadi refleksi diri gua.

Tapi gua gak seegosentris itu memikirkan hal pribadi saja, Masih terlintas pikiran gua soal politik dan sosial. Lewat lagu Tak Baik Maruk adalah keresahan gua terhadap lingkungan politik saat ini yang makan dengan cara apapun untuk memperkaya diri. Mungkin semua orang merasakan hal itu dan gak mungkin diam untuk pura-pura tak mengerti. Kembali lagi itu adalah hal di luar kehendak gua sendiri, lebih baik merefleksi diri sendiri untuk agar tidak menjadi maruk seperti itu bukan?

Soal bermusik gua memang lebih tertarik kepada hal-hal yang sifatnya pribadi dalam keseharian sebagai bentuk evaluasi diri. Karena gua gak sepinter itu untuk meng-empower orang buat jadi lebih baik. Upaya yang mungkin bisa gua lakukan adalah evaluasi, mungkin saja orang lain bisa ikut berbenah diri.

Dari pada sibuk memikirkan folk senja atau folk protes yaa berkarya saja. Bila tidak ingin berkarya juga bisa menikmatinya saja tanpa harus memisahkan musik-musik itu ke pemahaman yang terlalu sempit. Toh, apapun bentuk musiknya itu bagian dari karya bukan?

Article by : Harlan Boer

Authentic Contributors



Baskara

Vokalis yang juga punya kompetensi di bidang strategi konten digital. Ia implementasikan lewat .Feast, Hindia, dan Suneater.



David Tarigan

Kolektor dan pecinta musik Indonesia ini mendedikasikan hasrat bermusiknya lewat pengarsipan musik bersama Irama Nusantara.



Harlan Boer

Musisi yang gemar menulis dan masih aktif merilis karya yang sedang aktif bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta.


Please wait...