David Tarigan

Kolektor dan pecinta musik Indonesia ini mendedikasikan hasrat bermusiknya lewat pengarsipan musik bersama Irama Nusantara.

Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk mengapresiasi karya musik. Cara-cara yang paling umum seperti mendengarkan musik, membeli rilisan fisik, dan menonton konser dari sang idola adalah bagian dari apresiasi musik. Bahkan jika kalian mendengarkannya saja sebagai bentuk karya seni dan menemukan hal kecil esensial seperti aransemennya tanpa melihat aspek lain, itu juga bagian dari apresiasi.

Buat saya dengan segala aktivitas yang bersinggungan dengan musik, mendengarkannya saja tidaklah cukup. Setelah mendengarkan musik muncul saja pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dijawab dengan serius  seperti “Siapa ya musisi atau band yang pakai synthesizer pertama kali? Kok bisa rock n roll sebegitu berpengaruh?” mengusik benak saya. Kumpulan pertanyaan itu memaksa saya untuk mencari misteri sebuah karya alih-alih hanya mendengarkannya saja.

Akhirnya misteri dari pertanyaan ini memaksa saya untuk mencari jawaban lewat informasi di celah-celah kecil rak para kolektor. Dari koleksi-koleksi seperti rilisan fisik berbentuk vinyl, kaset, buku, dan majalah saya bisa menemukan karya-karya musik yang dibuat oleh penciptanya. Ya, memang sulit untuk mengumpulkan informasinya mengingat budaya “keren” kita yang cuek dengan pengarsipan dokumen-dokumen kurang penting.

Ketika saya menemukan jawaban dari pertanyaan seputar musik rasanya seperti menemukan sebuah harta karun legenda. Bahwa saya berhasil menggali dalam-dalam cerita bagaimana sebuah karya musik terbentuk. “Oh, ternyata begini yaa kenapa musik dangdut lirik-liriknya seputar kehidupan sehari-hari dan patah hati. Keren banget”.

Ketika memahami secara utuh bagaimana sebuah musik terbentuk dari aspek sosial, budaya, dan seninya itu sendiri, apresiasi terhadap karya musik memiliki nilai tambah. Dari hanya ikut-ikutan sebuah tren musik hasil rekomendasi teman menjadi mengerti mengapa musik itu menjadi tren.

Saat mendengarkan musik era 60-an seperti Transs atau Rolling Stone dimana kita sendiri tak hidup di era tersebut muncul pernyataan “Ah, gini doang kok bisa terkenal?”. Ya, saat itu kita tidak memahami konteks sosial dan budayanya. Jika ditelusuri akan jauh lebih menarik bahwa musik tersebut bukan sekadar tren tapi sebuah karya seni yang terbentuk lewat sebuah proses peradaban masyarakat.

Pertanyaan yang sebelumnya bernada meremehkan akan berubah ketika kita akan memahami konteks sosial dan budayanya. Kita akan menjadi kagum saat mengetahui cerita perjalana dari sebuah karya. “Wuiih, keren banget ternyata dangdut tuh liriknya banyak yang galau karena begini. Bob Dylan dengan gaya nyanyinya yang gak karuan bisa terkenal kaya gitu karena ini”.

Saking kagumnya informasi yang baru kalian ketahui dibagikan ke teman-teman seakan baru menemukan uang Rp 100 ribu di pinggir jalan. Tanpa ragu dan segan memamerkan bahan bacaan berupa buku, majalah atau sebuah artikel yang baru dibaca ke lingkungan sekitar kalian. Dan merasa kagum bareng hingga berkata  “Anjiir, ternyata dangdut tuh kaya gini. Keren banget gilaa”.

Perasaan semacam itulah yang mendorong  saya mengarsipkan karya-karya musik terutama Indonesia. Ada perasaan yang sangat erat ketika mengetahui perjalanan musik di lingkungan yang sangat dekat dengan kita sendiri. Mungkin kita bisa dengan lengkap membaca informasi musik Amerika dan Inggris. Tapi negara-negara terasa jauh dari segi sosial dan budaya, meski sekarang ada sosial media yang menembus batas informasi.

Article by : David Tarigan

Authentic Contributors



Baskara

Vokalis yang juga punya kompetensi di bidang strategi konten digital. Ia implementasikan lewat .Feast, Hindia, dan Suneater.



David Tarigan

Kolektor dan pecinta musik Indonesia ini mendedikasikan hasrat bermusiknya lewat pengarsipan musik bersama Irama Nusantara.



Harlan Boer

Musisi yang gemar menulis dan masih aktif merilis karya yang sedang aktif bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta.


Please wait...