Sehari Menyambangi Museum-Museum Keren di Jogja

  • 1 minggu yang lalu
  • 38

Hari sudah sore ketika mobil sewaan kami memasuki kawasan Sawahlunto. Mengikuti petunjuk dari GPS, sopir kami menyusuri jalan mencari penginapan yang sudah kami pesan. Semakin lama jalan yang kami lewati kian sunyi.

Saya dan dua teman seperjalanan agak waswas juga. Ternyata penginapan kami letaknya cukup jauh dari pusat keramaian kota, agak masuk ke jalan yang sepi. Terbayang kami harus segera mencari motor untuk mengeksplore kota. Tak mungkin berkeliling berjalan kaki dengan jarak sejauh itu.

Setelah Jogja punya banyak cerita. Jadi, tinggal dipilih yang sesuai selera. Jangan pernah khawatir bakal kehabisan ide untuk menghabiskan waktu di Kota Gudeg tersebut.

Aktivitas klasik bagi wisatawan di Jogja salah satunya menyusuri Jalan Malioboro dengan segala pesonanya. Pilihan lainnya seperti berbelanja batik di Beringharjo, menikmati gudeg di berbagai sudut kota, ngadem di Kaliurang, atau menikmati tempat ngopi kekinian yang sudah beberapa tahun ini menjamur di Jogja.

Ingin mencoba pengalaman berbeda di Kota Pelajar? Bagaimana kalau mencoba menjelajah museum? Jangan takut, berbagai jenis museum bertebaran di Jogja. Tinggal pilih yang sesuai minat dan selera. Jika hanya punya waktu sehari di Jogja, mustahil mengunjungi semuanya. Empat mungkin sudah cukup. Tapi kalau waktunya longgar, banyak pilihan museum yang bisa disambangi.

Tur Museum bisa dimulai dari Kaliurang yang sejuk. Sebuah museum berkelas berdiri anggun di kawasan wisata tersebut, tepatnya di Taman Kaswargan. Museum Ullen Sentalu namanya. Museum ini sangat recommended dikunjungi, mungkin salah satu museum terbaik di Indonesia. Selama satu jam, kita akan dibawa berkelana ke masa lalu, menikmati sejarah keraton Yogyakarta dan Surakarta. Pengunjung harus merogoh kocek senilai Rp 40 ribu untuk masuk ke museum ini. Harga yang sebanding dengan pengalaman yang didapat, apalagi pengunjung selalu didampingi guide yang fasih mendeskripsikan koleksi-koleksi museum dan kisah di baliknya.

Apa lagi sih keistimewaan museum ini? Yang jelas bangunan dan suasananya sudah berbeda. Bangunan museum merupakan perpaduan gaya Eropa dan Jawa. Tempatnya teduh dengan pohon-pohonan yang rindang dan eksotis. Tanpa pemandu, bisa-bisa tersesat di dalam museum ini. Selain itu lokasi museum yang berada di daerah pegunungan juga memberi nilai lebih. Suasana sejuknya benar-benar bikin betah.

Tentang koleksi, jangan terlalu berharap menemukan lukisan atau foto yang berumur ratusan tahun. Hampir semua foto dan lukisan ini hanyalah replika dari koleksi milik keraton Jogja dan Solo. Yang asli mungkin seperti koleksi kain batik dan beberapa buah arca. Untuk masalah ini Ullen Sentalu punya penjelasan menarik.

Seperti yang dijelaskan di situsnya, Museum Ullen Sentalu berpijak pada paradigma baru yang cenderung memaknai warisan budaya berupa kisah atau peristiwa yang bersifat tak benda. Mereka juga sengaja tidak menempelkan label pada koleksinya, tapi mengandalkan pemandu wisata. Ya, daripada menyuguhi pengunjung dengan benda-benda bersejarah yang bisu, pengelola museum lebih suka menyuguhkan kisah di baliknya. Mereka berharap pengunjung melangkah keluar dari pintu museum dengan membawa segepok cerita sejarah dan belajar dari itu. Bukan sekadar memandangi koleksi-koleksi masa lampau.

Jelajah museum bisa berlanjut ke Museum Affandi di Jl. Laksda Adisucipto No. 167 Yogyakarta, jalan utama yang menghubungkan Jogja dan Solo. Banyak orang tak menyadari keberadaan museum yang menyimpan kisah kehidupan Affandi, sang maestro lukis Indonesia, ini.

Museum tersebut tak hanya memamerkan masterpiece Affandi, namun juga lukisan karya anak-anaknya, sanggar melukis anak-anak, serta rumah yang dulu ditinggali sang maestro. ”Pak Affandi kalau pas melukis sukanya berpakaian santai. Hanya mengenakan kaus dan celana kolor. Beliau juga sangat suka merokok,” urai Fajar, pemandu yang menemani saya dan teman-teman siang itu.

Total sekitar 3.000 lukisan disimpan di sana, namun hanya 400 yang dipamerkan di tiga galeri. Sebanding dengan kualitasnya, lukisan-lukisan Affandi berbanderol mahal, minimal senilai Rp2,5 miliar. Namun ada delapan lukisan di Galeri I yang pantang dijual, berapa pun harganya. ”Dulu yang memilah-milah lukisannya Pak Affandi sendiri. Yang disimpan di Galeri I itu tidak boleh dijual. Berapa pun harganya. Padahal banyak orang luar negeri yang nawar,” cerita Fajar, yang ternyata sedang magang di museum itu.

Sedangkan lukisan anaknya, Kartika dan Juki, masing-masing dibanderol Rp250 juta dan Rp10 juta. Yang menarik, museum tersebut juga menjadi rumah abadi sang maestro. Sebelum meninggal, Affandi berpesan ingin dimakamkan di kompleks museum, di antara Galeri I dan Galeri II, makam istrinya Maryati, dan ukiran karya sahabatnya dari Bali. ”Ukiran itu dari sahabat Pak Affandi, namanya Pak Cokot,” kata Fajar.

Petualangan telusur museum bergeser makin ke tengah kota. Destinasi ketiga adalah Museum Batik Yogyakarta. Mengenal Jogja terasa tak lengkap tanpa mengenal batiknya yang tersohor. Yogyakarta merupakan salah satu Kota Batik di Tanah Air, bersama dengan Solo, Pekalongan, Lasem, dan lain-lain. Wajar jika kota ini menyimpan koleksi batik-batik berkualitas tinggi dan sarat filosofi. Meskipun sudah dibuka sejak 1979, museum yang terletak di Jl. Dr. Sutomo No. 13 A, kurang begitu dikenal, bahkan oleh warga Jogja sendiri.

Lokasinya bukan di pinggir jalan raya. Bangunan museum sangat sederhana, dindingnya dilapisi cat warna merah muda, dengan jendela model lama yang berteralis. But, don’t judge a book by it’s cover. Koleksi museum yang didirikan atas prakarsa suami istri Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih ini bagaikan gudang harta karun.

Koleksi tertua adalah batik yang dibuat pada era 1700-an atau lebih dari empat abad silam. Koleksi yang berjumlah ribuan sebagian di-display, sedangkan sebagian lainnya disimpan di lemari-lemari dinding. Selain batik motif Yogyakarta, museum ini juga punya koleksi batik dari penjuru Nusantara, seperti Solo, Lasem, Cirebon, Indramayu, dan lain-lain. Sayangnya koleksi-koleksi di bagian dalam museum tak boleh difoto. Ada guide yang dengan senang hati menjelaskan isi museum dengan detail, termasuk koleksi sulaman tangan indah karya Dewa Sukaningsih alias Oma Dewi. Jika datang berombongan, kita juga bisa ikut kelas belajar membatik di museum itu.

Sebenarnya tur museum bisa ditutup dengan kunjungan ke Museum Mainan Anak Kolong Tangga, yang lokasinya tak jauh dari Jalan Malioboro. Sayangnya, museum tersebut sedang tutup sementara karena pertimbangan tertentu.

Padahal museum tersebut sebenarnya sangat menari. Letak museum berbasis pendidikan ini sejalan dengan namanya, benar-benar berlokasi di kolong tangga. Tepatnya di kolong tangga Taman Budaya Yogyakarta. Apa yang menarik dari museum ini? Yang jelas saat memasuki museum, saya seolah dibawa masuk mesin waktu, diajak bernostalgia.

Siap-siap tersenyum sendiri karena memori masa lalu bermunculan begitu saja. Mainan anak dari zaman Majapahit hingga masa kini, baik dari Indonesia maupun mancanegara dapat dijumpai di sana. Tiket masuknya pun sangat murah, hanya Rp4.000. Museum ini bagaikan oase di tengah serangan games-games elektronik dan permaianan online, mengajak anak menikmati permainan yang aktif sembari mempelajari bebagai budaya dari berbagai negara.

Museum yang diprakarsai artis Belgia, Rudi Corens, tersebut punya sekitar 10.000 mainan. Mau tahu mainan apa saja yang ada di sana? Ada boneka tangan dari cerita rakyat Persia, mainan bus Double Decker London buatan 1965, sebuah gantungan jaket untuk anak-anak dengan tema Puteri Salju dan Tujuh Kurcaci yang dibuat pada 1967, gasing, bekel, desain awal Pinokio dari edisi pertama buku Collodi, robot-robot, permainan kuarter dan masih banyak lagi.

Lelah berkeliling museum yang keren-keren tersebut, keseruan di Jogja bisa ditutup dengan menikmati wedang ronde di Alun-alun utara yang dipadu dengan bakmi godog Jawa yang tiada duanya. Alternatif lain? Coba sambangi angkringan terdekat dan nikmati percakapan hangat ala Jogja yang bisa menjadi kenangan manis yang tak lekang oleh masa.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Becak Tuban, Wisata Unik yang Sarat Kearifan Lokal

Pria-pria yang beraktivitas sehari-hari mengenakan sarung dan peci, se...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Menemukan "Rasa" Indonesia di Malaysia

Kenikmatan solo traveling salah satunya tak ada yang melarang kapan ha...

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Romantisme di Balik Selembar Kartu Pos

Sepuluh tahun silam, sepucuk kartu pos datang dari sahabat saya yang b...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Filosofi di Balik Atap Rumah Batak dan Simbol Cicak

Pulau Samosir masih didekap udara cukup dingin saat saya dan seorang s...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Warna Warni Cerita dari Manila

Saya terus terang bingung memulai dari mana cerita tentang Manila. Mun...