Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

  • 4 bulan yang lalu
  • 469

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah berusia 120 tahun. Toko roti itu disebut-sebut tertua di Indonesia. Memang tidak ada arsip pendukung soal klaim kategori tertua tersebut. Tapi, rasanya memang tidak ada toko roti lain yang berusia setua itu.

Lokasi Roti Go benar-benar di pusat kota Purwokerto, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman No 724 Purwokerto. Bangunannya klasik dan bersih, namun tak mencolok. Jika tak memperhatikan dengan detail, mungkin bangunan Roti Go bisa terlewat begitu saja. Interior di dalam toko juga sederhana, tanpa banyak ornamen mencolok.

Roti Go kini dikelola pasangan suami istri, Pak Pararto Widjaja dan Ibu Rosani Wiyogo. Sayang sekali, sore itu Bu Rosani sedang berada di luar kota. Untungnya, saya dan dua teman seperjalanan tetap memanen cerita menarik dari Pak Pararto.

“Istri saya merupakan keturunan langsung dari pendiri toko ini. Tapi, istri saya sedang tidak ada di rumah. Padahal dia yang lebih pas bercerita tentang Roti Go ini,” kata Pak Pararto membuka percakapan dengan wajah ramah dan penuh senyum.

Pak Pararto mengatakan sang istri merupakan generasi ketiga pemilik Roti Go. “Toko Roti ini didirikan pada 1898, oleh Oei Ke Nio dan suaminya, Go Kwe Ka. Mereka mencoba-coba membuat roti. Lalu muncul ide untuk membuat toko roti,” urai Pak Pararto.

Pasangan Oei Ke Nio dan Go Kwe Ka merupakan nenek dan kakek Bu Rosani. Nama Roti Go diambilkan dari nama Go Kwen Ka. Identitas itu tetap lestari sampai sekarang.

“Roti Go ini katanya yang tertua di Indonesia. Tapi, saya juga tak berani mengklaimnya, karena tidak ada data pendukung resmi,” kata Pak Pararto.

Semakin dalam mengulik soal Roti Go, kian banyak kisah-kisah menarik yang mencuat. Roti Go ternyata tak sekadar toko biasa, namun juga saksi tali persaudaraan yang berlangsung turun temurun. Pegawai Roti Go mayoritas adalah anak atau cucu pegawai zaman dulu di toko tersebut.

Produk legendaris Roti Go, seperti roti sobek dan roti, terus dijaga dan masih tersedia sampai sekarang. Supaya tak terpuruk dilindas persaingan, Roti Go juga mengembangkan berbagai varian. Tercatat, toko tersebut memiliki lebih dari 80 varian roti dan 10 cake. Mau tahu jenisnya? Ada roti isi cokelat, roti isi pisang, roti pastry horn isi vla, hingga roti sobek isi daging ayam dan lain-lain.

Bagaimana soal rasa? Saya memang belum mencicip semuanya. Tapi, dari varian yang saya nikmati, seluruhnya enak dan enak banget. Rasanya orisinal dan autentik. Pantas saja Roti Go bisa bertahan lebih dari 100 tahun. Ternyata mereka serius mempertahankan cita rasa papan atas.

Keistiwaan lain Roti Go adalah oven kuno di dapur , bibit roti, dan pantangan bahan pengawet. Sore itu kami beruntung karena Pak Pararto mengundang untuk menginspeksi dapur kebanggannya. Memang tak ada aktivitas berarti karena produksi roti hanya dilakukan pada pagi hingga siang. Pak Pararto ingin kami melihat oven kuno yang selama ini berperan penting menjaga produksi tetap berkualitas dan lezat.

Roti Go masih menggunakan oven model Mesir kuno, terbuat dari batu bata tahan api. Kesan klasik bertambah pekat karena oven tersebut masih menggunakan bahan bakar kayu. Melengkapi keklasikannya, adonan roti juga menggunakan tenaga manusia.

“Belum ada niatan untuk mengganti oven dengan yang lebih modern. Tapi, justru roti beraroma khas tersebut yang membuat pelanggan selalu kembali. Kami tak ingin pelanggan kecewa. Rasa roti bisa berubah kalau memakai oven modern,” urai Pak Pararto.

Adonan roti di toko ini diolah dengan tangan dari bibit roti yang dibuat secara alamiah. Cerita ini membuat saya teringat film Madre yang diangkat dari novel Dewi Lestari. Biang roti ternyata benar-benar eksis di dunia ini.

Pembuatan roti ala toko tersebut memakan waktu sehari semalam. Tapi, jangan harap roti bertahan lama. Roti Go maksimal hanya bertahan selama dua hari. Penyebabnya, Roti Go tak pernah berurusan dengan bahan pengawet. Tradisi tersebut sudah ada sejak toko didirikan dan tetap terawat sampai sekarang.

Jangan harap bisa membawa Roti Go untuk buah tangan dalam perjalanan panjang ke Eropa, Amerika atau tempat-tempat jauh lainnya. Tindakan itu sangat berisiko karena roti terancam basi sebelum sampai ke tempat tujuan. Pemilik Roti Go sangat disiplin soal tradisi tersebut. Jika roti tak ludes terjual, keesokan harinya langsung dibuang.

Pak Pararto menerangkan ada alasan khusus di balik tradisi Roti Go yang selalu menjauhi pemanis, pengembang, dan bahan pengawet. “Roti kami sulit dibawa sebagai oleh-oleh, karena paling bertahan dua hari. Tapi, kami lakukan itu demi menjaga kualitas. Itu yang terpenting.”

Penjelasan Pak Pararto membuat saya termenung. Di tengah gempuran persaingan sengit dengan toko-toko modern, Roti Go mampu bertahan dengan segala tradisi dan kedisplinannya. Pantas saja, mereka punya pelanggan setia yang selalu tertarik untuk kembali atas nama cita rasa maupun kenangan.

Yang menjadi pertanyaan, sampai kapan tradisi tersebut bakal dipertahankan Roti Gol. Masalahnya Pak Pararto dan Ibu Rosani tak mampu menghentikan usia. Mereka tak lagi sekuat dulu untuk menopang dan melestarikan Roti Go yang legendaris. Pasangan suami-istri tersebut butuh penerus yang ideal. Sayangnya, proses regenerasi menemui jalan berliku.

“Sayangnya dua anak kami belum tertarik meneruskan bisnis Roti Go ini. Mereka lebih suka menekuni bisnis lain,” keluh Pak Pararto.

“Kami ingin membuat Roti Go ini lestari dan bertahan. Pokoknya jangan sampai tutup, mungkin bisa dikelola oleh saudara kami,” imbuh Pak Pararto.

Tekad Pak Pararto mempertahankan eksistensi Roti Go langsung saya amini dalam hati. Rasanya terlalu miris jika anak cucu kita hanya mendengar cerita tentang sejarah Roti Go, tanpa pernah mencicipi kelezatannya. Anak cucu kita berhak untuk menikmati kelezatan Roti Go dan segala kisah di balik sejarah panjang kuliner legendaris di Purwokerto tersebut.

  • Putri Ratnawisesa
  • 2 bulan yang lalu

Yang benar2 menjaga otentitas dan tradisi keluarga beserta resep ini yang susah dicari. Paling demen kalo kuliner yang tipe seperti ini, rasanya kaya berhasil nemu “hidden place” karena biasanya tempatnya sederhana dan gak terlalu mencolok. Pasti akan meluangkan waktu untuk mencari tempat ini saat main ke Purwokerto :) #PureTaste #SimplyAuthentic

  • Atika Meylisa
  • 2 bulan yang lalu

Suka banget dengan segala hal yang berbau otentik dan pioneer dalam segala hal. Hal yg disuka dari makanan yg otentik adalah rasanya yg tradisional, khas dan original. Ada cita rasa tersendiri waktu gigit, kunyah, telen. Pernah juga cobain roti go ini, emang bener enak, biar jadul tapi nyantol di hati, karena rasa otentik dan enaknya yg tradisional itu yg bikin dia punya competitive advantage dibanding roti2 hits kekinian. #PureTaste #SimplyAuthentic

  • Irwina Annisa
  • 2 bulan yang lalu

always love to know various stories about old restaurants/shops. it clearly depicts that someone who stands for quality can build a more sustainable business. a true definition of #PureTaste and #SimplyAuthentic

  • Irwina Annisa
  • 2 bulan yang lalu

always love to know various stories about old restaurants. it clearly depicts that someone who stands for quality can build a more sustainable business. a true definition of #PureTaste and #SimplyAuthentic

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Kisah Anak Rambut Gimbal Dieng, Cobaan Sekaligus Rezeki

Puluhan pasang mata memandang ke layar LCD yang sedang menyajikan film...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Museum Kambang Putih dan Kejutan dari Koes Plus

Kota Tuban sedang panas-panasnya. Sinar matahari terasa terik menyenga...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Pak Chan dan Kecintaan pada Ukiran Minang

Kesabaran saya sedang benar-benar diuji. Mengunjungi Nagari Pandai Sik...

Becak Tuban, Wisata Unik yang Sarat Kearifan Lokal

Pria-pria yang beraktivitas sehari-hari mengenakan sarung dan peci, se...

Sensasi Menjelajah Da Nang dengan Bersepeda Motor

Itenerary perjalanan sudah disusun. Saya dan teman-teman hanya punya w...