Rebel Riders : Kisah Para Penggemar Vespa Ekstrem

  • 1 minggu yang lalu
  • 22
Matanya menatap ke arah kamera. Tangannya memegang erat batang pohon dengan kaki yang menjuntai di atas potongan besi. Dengan badan yang dibalut kaus warna biru, dia duduk di sebatang kayu yang dipasang di atas roda dengan mesin sekitar dua meter di belakang. Hampir selusin ban karet turut siap mengaspal jalanan.

Itulah potret salah satu penggemar vespa modifikasi hasil karya Muhammad Fadli yang dipamerkan di Salihara, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. Di tangan orang-orang kreatif dengan imajinasi liar, tunggangan asal Italia yang diproduksi Piaggio ini bersalin rupa dengan sosok yang mungkin tak kita perkirakan sebelumnya.

Tengok saja beberapa frame yang diabadikan Fadli. Ada yang memanfaatkan ranting pohon hingga tengkorak sapi untuk “menghias” kendaraan mereka.

Vespa modifikasi yang memanfaatkan berbagai barang bekas ini kerap kita lihat di pinggiran Jakarta ataupun berbagai daerah. Saking banyaknya barang bekas nir tak lazim, vespa modifikasi jenis ini kerap disebut Vespa Ekstrim atau Vespa Sampah.

Berawal dari keikutsertaan Fadli pada Festival Foto Obscura di Malaysia pada 2017 yang mengharuskannya membuat photo essay dengan tema “Muda”, lulusan Universitas Andalas itu mulai mencari ide yang menarik untuk diangkat sekembalinya ke tanah air.

Fadli yang mendirikan kolektif fotografer independen bernama Arka Project bersama dua orang rekan itu lalu memilih untuk mendokumentasikan kehidupan para penggemar Vespa Sampah.

Kisah ini dipilih karena menurutnya, geng motor identik dengan kaum muda dan komunitas vespa dirasa lebih menarik secara cerita dan visual. Selain itu, fenomena Vespa Ekstrim tidak dijumpai di negara-negara lain.

Komunitas Vespa Ekstrim dianggap sebagai sebuah refleksi dari beberapa ketidak-teraturan di Indonesia, mulai dari arus lalu-lintas hingga peraturan jalanan.

“Di sini, chaos sedikit tidak apa-apa, aturan tidak terlalu kaku. Kita tidak mungkin menemuinya di negara-negara Eropa”, tutur Fadli.

“Komunitas ini juga merupakan bentuk perlawanan dari komunitas vespa mapan, orisinal dan mewah”, tambahnya.

Selama lebih dari satu setengah tahun, Fadli berkeliling sejumlah kota di berbagai provinsi, antara lain Jakarta, Bogor, Ciawi, Lampung, Padang, dan Semarang.

Mengumpulkan informasi dari sosial media, Fadli mendatangi beberapa festival yang digelar para pecandu vespa. Seringkali Fadli menyewa mobil dan berkendara bersama seorang teman menuju lokasi acara dihelat. Kerap mendapat foto sesuai yang diinginkan, Fadli juga sempat apes.

“Saya dapat info kalau ada acara di Sumatera Barat, jaraknya sekitar 80km dari Padang. Entah kenapa saya yang biasanya mengecek ulang, tak sempat melakukannya. Alhasil sampai sana ternyata tidak ada acara yang dimaksud” ungkap Fadli.

Berbekal kamera Hasselbald 500c/m, Fadli menghabiskan 25 roll film Kodak Portra 400 selama pemotretan. Disinggung kenapa memilih kamera analog dan menggunakan film dibanding kamera digital, Fadli mengaku, sebenarnya tidak praktis menggunakan kamera analog, tapi memang bukan itu yang dicarinya.

“Saya mengejar terkoneksian saya dengan subyek. Saya perlu untuk lebih berkonsentrasi, berhari-hari dengan angle dan komposisi karena jumlah film yang terbatas”, papar pria yang memilih mencukur habis rambutnya sebagai penampilan sehari-hari.

“Memakai film itu memaksa kita lebih fokus, tak bisa salah sedikit” imbuhnya.

Di sisi lain, foto dokumenter menuntut fotografer untuk “dekat” dengan subyek. Oleh karenanya, sebelum memotret, Fadli terlebih dulu mengamati beberapa orang di dalam komunitas, kemudian memilih beberapa individu yang cocok dan menarik dalam pengalaman bergelut dengan dunia vespa.

Sebagian besar foto Fadli dalam kisah ini merupakan foto portrait, yakni mengabadikan sosok pengendara tengah berpose dengan vespa milik mereka. Hal ini dipilihnya karena Fadli ingin menampilkan cerita personal orang dengan kendaraannya. Mereka yang menjadikan vespa sebagai obyek kesayangannya, bahkan tak jarang ada orang yang menganggap kendaraan adalah sesuatu yang sakral.

Karya Fadli yang diberi judul Rebel Riders ini telah dipamerkan di berbagai negara. Sebagai imbas keikutsertaan dalam masterclass Festival Foto Obscura, fotonya melanglang dari Malaysia, Singapura, Filipina.

Seri pengendara vespa ini juga telah dipajang dalam pameran bertajuk Lumix Festival yang digelar 20-24 Juli silam di Hannover, Jerman. Kemudian di La Nuu Festival, Katalan, Spayol pada Oktober 2018.

Tak hanya itu, karya ini mengantarkan Fadli meraih juara ketiga dalam Istanbul Photo Awards 2018 kategori Portrait Series. Segenap prestasi itu tak membuat Fadli berpuas diri.

Kini, sebanyak 63 foto tentang vespa ektrim ini telah disatukan dalam sebuah buku foto. Tersusun rapi dalam 128 halaman, bukunya dicetak sebanyak 1.000 ekspemplar oleh sebuah penerbitan di Jerman. Bagi pembelinya, Fadli memberi bonus berupa indeks print sebanyak 24 halaman yang didalamnya berisi caption dengan tulisan tangan.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Merekam Desa Mati di Kaki Sinabung

Seiring dengan kompetitifnya harga kamera dan juga munculnya beberapa ...

Buku Boy: Berbagi Melalui Fotografi

Tepat delapan tahun lalu, di akhir bulan Oktober, alam menunjukkan kem...

Eksotisme Bali Saat Merayakan Nyepi

Setahun sekali, masyarakat Bali merayakan Hari Raya Nyepi. Saya berkes...

Dhukutan, Ritual Bersih Desa di Lereng Gunung Lawu

Kabut putih masih menyisakan wujudnya di pucuk-pucuk pohon cemara yang...

Berkelana di Paris, Sang Kota Romantis

Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, memiliki kesempatan bepergian ke...

Mengintip Pelelangan Ikan Tsukiji di Hari-hari Terakhirnya.

Mengenakan jaket tebal, saya keluar dari hostel untuk berjalan menyusu...

Memotret Gugusan Bintang di Langit Kelam

Saya mengenal nama dan foto-fotonya akhir tahun lalu. Ketika tengah be...

Membekukan Personal Project Melalui Buku Foto

Tak hanya Instagram atau media sosial lainnya, buku foto kini menjadi ...

Kisah Malang yang tertinggal di Pulau Galang

Banyak orang mengenal Batam sebagai daerah ekonomi khusus dengan beber...

Harmoni dalam Akulturasi Jawa dan Tionghoa

Kampung Sudiroprajan di Kota Solo dikenal sebagai salah satu kampung y...

Melarikan Diri Bersama Si Besar

Tak lengkap rasanya bila singgah di Lampung tanpa menjejakkan kaki di ...

Menyusuri Salah Satu Kawasan Prostitusi di Dunia

Melangkahkan kaki keluar dari Gedung Amsterdam Central Station, cuaca ...