Raden Budi Slamet dan Kisah Menarik dari Gua Sunyaragi Cirebon

  • 1 minggu yang lalu
  • 34

Menyebut Cirebon yang pertama terlintas di kepala adalah cuaca yang panas menyengat. Cuaca panas di Cirebon benar-benar menguji kesabaran. Baru berjalan-jalan sebentar di siang hari, keringat sudah bercucuran membasahi baju.

Setelah ingatan soal panas menyengat, barulah bermunculan memori beragam hal menarik lain di Cirebon. Sebut saja Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Batik Trusmi, nasi jamblang, dan empal gentong.

Tapi, jangan dulu buru-buru mengabaikan Cirebon. Setiap kota atau destinasi selalu punya sisi menarik. Mendeskripsikan menarik memang sangat subjektif karena bertalian dengan selera dan cara pandang. Nah, di Cirebon ada satu objek wisata yang menurut saya sangat mengesankan, yaitu Gua Sunyaragi.

Tempat ini dikenal juga dengan sebutan Taman Sari Gua Sunyaragi. Ketika sahabat saya yang asli Cirebon kali pertama menyebut tempat ini reaksi saya datar saja. Tapi kecuekan saya berubah 180 derajat ketika melangkahkan kaki ke dalam kompleks gua tersebut.

Gua Sunyaragi bisa bisa dibilang sejak jejak kejayaan Keraton Cirebon di masa silam. Sunyaragi berasal dari bahasa Sanksekerta. Sunya yang berarti sepi dan ragi yang berarti raga. Tujuan didirikannya bangunan ini konon memang untuk tempat bermeditasi dan beristirahat Sultan Cirebon dan keluarganya, dengan kontruksi bangunan berupa taman air.

Pada masa lalu, kompoleks gua tersebut dikelilingi sebuah danau yang bernama Danau Jati. Bangunan yang luasnya sekitar 1,5 hektare tersebut berada di tengah-tengah kota Cirebon, tepatnya di Jl. Bridgend AR Dharsono, Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon.

Kunjungan saya dan sahabat ke Gua Sunyaragi meninggalkan kesan mendalam berkat sosok Raden Budi Slamet. Beliau salah seorang guide di Sunyaragi. Usianya sudah sepuh. Namun, justru itulah keistimewaanya. Beliau sudah lama sekali menjadi pemandu wisata di Gua Sunyaragu. Alhasil, pengetahuan beliau tentang destinasi tersebut tak perlu diragukan lagi.

Beliau mengaku lahir di Bandung, namun besar di Cirebon. Pengetahuannya tentang Sunyaragi sangat luas. Satu lagi bahasa Inggrisnya juga mantap! Pak Slamet juga mahir mengucapkan salam dalam berbagai macam bahasa.

Menyusuri Taman Sari Sunyaragi, saya mencium aroma kejayaan. Susunan batu-batu di Sunyaragi seolah tidak teratur, tapi mata saya justru menangkap kontruksi bangunan yang indah dan gagah. Taman ini dibuat dengan perpaduan gaya Hindu, China dan Timur Tengah. Sangat eksotis.

Menurut Pak Slamet, kontruksi Gua Sunyaragi terdiri atas batu karang, batu bata, kapur, batu biasa, dan putih telur sebagai perekat. Batu karang khusus diambil dari laut Karangjati. Gua ini sekarang pengelolaannya di bawah Yayasan Keraton Kasepuhan.

Pak Slamet mengatakan Taman Sunyaragi ini dibangun pada 1536, sesuai cerita lisan turun-temurun, dan kali pertama direnovasi pada 1703. Sedangkan menurut versi lain, Gua Sunyaragi didirikan pada 1703 oleh Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati. Mana yang benar? Biarlah ahli sejarah yang menjawab. Yang jelas pada 1852 Sunyaragi kembali diperbaiki, setelah rusak karena serangan Belanda pada 1787.

“Taman Sari Sunyaragi terdiri atas sejumlah bagian. Ada Gua Pengawal yang merupakan tempat berkumpul prajurit keraton dan menjadi bagian yang paling awal dibangun. Bagian selanjutnya adalah Bangsal Jinem, yang berasal dari kata puji dan gunem. Biasanya Sultan Cirebon biasanya berpidato untuk memberikan wejangan. Dulu Sultan biasanya mengamati para prajurit yang sedang berlatih perang di alun-alun,” urai Pak Slamet.

Bagian selanjutnya ada Mande Beling yang artinya tempat marmer, yang menjadi tempat istirahat raja dan keluarganya. Sayang marmer yang dipasang sekarang bukan yang asli. Dulu marmer yang digunakan berasal dari China, namun diganti ketika direnovasi pada 1977.

Melangkah ke bagian selanjutnya kami menemukan Gua Peteng, yang dinamai begitu karena di dalamnya sangat gelap. Gua tersebut biasa dipakai untuk bersemedi Pangeran dan Sultan Cirebon. Konon ada juga cerita mistisnya. Ada kejadian apa pun di Gunung Jati bisa diketahui di Gua Peteng. Setidaknya itulah yang diceritakan Pak Slamet. Di Gua Peteng ini ada Patung Perawan Sunti. Jika ada perawan yang memegang patung ini, kelak dia akan kesulitan mendapat jodoh.

Bagian berikutnya sangat menarik. Gua Langse yang berarti gua tirai. Dulu jika pangeran dan sultan duduk di sana tidak bisa dilihat dari depan karena tempatnya bertiraikan air terjun. Tapi sayang, air terjun itu kini sudah tidak ada lagi. Kering kerontang. Berikutnya ada Menara Pengawas dan bak untuk pendingin. Bak tersebut semacam AC alami, berbentuk kayu-kayu dengan susunan vertikal dan horisontal.

Bale Kambang menjadi bagian yang berikutnya. Tempat seluas 25 meter persegi itu dulunya dikelilingi oleh kolam sehingga tamu harus naik getek untuk mencapai Bale Kambang, namun kini airnya sudah mengering. Dahulu kala biasanya ada pria yang menabuh gamelan di Bale Kambang untuk menyabut tamu.

Kesan sakral dan mistis juga terasa sangat kuat di sana. “Jadi dua ruangan di Gua Argajumut menyimpan cerita yang dipercaya turun temurun. Konon ruangan sebelah timur bisa menembus ke China, sedang yang sebelah barat bisa menembus Mekah. Benar atau tidaknya ya sulit dibuktikan,” kata Pak Slamet.

Jujur, saya tidak menyangka bisa menemukan tempat sekeren ini di Cirebon. Sayangnya, seperti mayoritas tempat bersejarah di negeri ini, Sunyaragi juga identik dengan kata terabaikan. Kebersihan Gua Sunyaragi terlihat kurang terjaga, kesannya kusam. Pintu masuk dan loket untuk pengunjung pun dibuat seadanya. Tak ada kesan pengelola ingin memaksimalkan potensi Gua Sunyaragi sebagai tempat wisata unggulan. Sunyaragi seolah dibiarkan berjalan tanpa arah.

Harapan saya? Sederhana saja, semoga pihak yang berwenang terlecut untuk memberi perhatian lebih. Jika dipelihara dan dikelola serius, Gua Sunyaragi bisa menjadi atraksi wisata yang tak hanya menarik wisatawan dalam negeri tapi juga pejalan-pejalan dari mancanegara.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Becak Tuban, Wisata Unik yang Sarat Kearifan Lokal

Pria-pria yang beraktivitas sehari-hari mengenakan sarung dan peci, se...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Menemukan "Rasa" Indonesia di Malaysia

Kenikmatan solo traveling salah satunya tak ada yang melarang kapan ha...

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Romantisme di Balik Selembar Kartu Pos

Sepuluh tahun silam, sepucuk kartu pos datang dari sahabat saya yang b...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Filosofi di Balik Atap Rumah Batak dan Simbol Cicak

Pulau Samosir masih didekap udara cukup dingin saat saya dan seorang s...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Warna Warni Cerita dari Manila

Saya terus terang bingung memulai dari mana cerita tentang Manila. Mun...