Pasar Taman Puring, Tak Banyak yang Tahu Soal Warung Musik di Lantai 2-nya

  • 10 bulan yang lalu
  • 831

 Taman Puring. Di mana taman-nya? Orang selalu bilang "Taman Puring" atau "Tampur" pada kumpulan toko yang satu ini.

"Taman" sendiri sebenarnya ada di sebelahnya. Sementara "Puring" adalah jenis tanaman, tepatnya bunga. Taman Puring sebenarnya lebih tepat disebut Pasar Taman Puring. Sayang, tidak ada papan namanya lagi di sana.

Dulu pasar yang terletak tidak jauh dari Mayestik Jakarta Selatan tersebut tidak serapi sekarang. Setelah kena program penataan, lumayan. Bentuknya jadi mendingan. Soalnya, kalau menurut cerita-cerita dulu, banyak orang ketar-ketir waktu mau ke sini. Agak "Bronx" katanya.

Sejak 2002, seenggaknya, pasar ini berubah bentuk. Tapi isinya tetap sama karena sampai sekarang dikenal sebagai pasar KW yang isinya barang-barang fashion, tetapi eh lumayan kelihatan kayak barang orisinal.

Padahal, dulu sekali, ada cerita lain bahwa Pasar Taman Puring juga berisi toko-toko barang antik, juga cerita miring soal toko-toko berisi barang curian. Sama satu lagi: di sini terdapat lapak musik, termasuk alat musik juga kaset, CD, dan piringan hitam bekas.

Sekarang berubah. Suasanana lumayan lebih nyaman. Waktu saya ke sana lagi baru-baru ini, yang tersisa pun masih sama. Namun, mungkin bisa dibilang warung-warung musiknya tetap tidak terlalu terekspos.

Bagaimana mau terekspos atau kelihatan. Tempatnya saja di lantai dua. Buat yang tidak tahu, naiknya pun mesti tanya-tanya. Posisi tangganya sendiri di dalam, di sentral pasar.

Seumur hidup, mungkin saya baru 4-5 kali ke area kaset, CD, piringan hitam bekas di pasar ini. Naik ke tangga berbentuk menyiku dan melingkar, cukup bikin linglung juga waktu pulang lagi, terutama bagi yang baru-baru coba masuk.



Terlebih lagi, barang-barang di lantai bawahnya lumayan bertumpuk dan berwarna-warni. Mesti jeli saat menjadikannya patokan gang untuk kembali keluar di titik semula.

Nah, waktu sampai mendekati tangga, terbayang bagaimana kondisi warung-warung musik di sana sekarang. Soalnya, beberapa tahun sebelum perhatian kolektor kaset-CD-piringan hitam bekas tersedot ke dunia online, Blok M Square, dan Pasar Santa, salah satu tujuan penting untuk koleksi selain Jalan Surabaya dan Jatinegara justru adalah pasar ini.

Dulu, di lantai duanya yang super-gerah, area seluas lebih kurang 15 x 15 meter itu menjadi tempat warung-warung musik berjejal. Kebanyakan memang warung kaset bekas. Waktu itu harganya rata-rata masih Rp 10.000.

Kini, saat kaki menapaki anak-anak tangga terakhir memasuki lantai dua, kondisinya sepertinya sudah menyurut. Warung-warung musik itu mesti berbagi ruangan dengan tempat servis kipas angin, blender, headunit mobil, dan juga pedagang tas-tas bekas dan segelintir toko barang antik aneka rupa.

Pedagang musiknya masih ada, tetapi paling tinggal 5-6 lapak. Sisanya mungkin sudah pindah ke Blok M dan tempat lainnya.

"Cari apa? Jazz. Kalau mau yang jazz-jazz, carinya di bagian ini. Eh jangan diangkat satu tangan, pakai dua tangan. Pakai dua tangan," ulang Pak Simon, salah satu pelapak lama di area musik Pasar Taman Puring.

Wanti-wanti, eks pedangan di Jalan Surabaya ini mengulang instruksi, merujuk pada kotak-kotak kardus yang dipadati kaset-kaset. Kardusnya bisa sobek jika diangkat dengan satu tangan saja. Soalnya semua bertumpuk rapi dan padat di sana.

Mungkin jumlahnya sekitar 50 kotak. Masing-masing kotak bisa memuat 40-50 kaset. Jadi setidaknya ada 2.000-2.500 kaset bekas bertumpuk di satu lapaknya. Dia sendiri punya lapak lain di tempat yang sama. Jadi total 5.000 kaset? Banyak juga.

"Saya di sini sudah dari tahun 2004 (dua tahun setelah Pasar Taman Puring punya lantai dua)," ujar dia sibuk mengangkat-angkat boks gara-gara saya menyebut "Bob Dylan".

Boks demi boks terus diangkat. Bob Dylan tidak ketemu juga. Buat dia, bukan soal barang langka atau tidak. Yang penting barang itu bisa laku. Lumayan buat pendapatannya.

Makanya, ia hanya bilang "ah" waktu ditanya punya barang langka apa di tokonya, entah itu kaset, CD, piringan hitam besar atau kecil yang per kepingnya dijual Rp 15.000-an.

"Ah enggak ada barang langka-barang langka. Yang penting jual aja," ujarnya setelah sebelumnya menepis saat ditanya hari apa biasanya warung-warung di sini ramai pengunjung.

Menurut Pak Simon, kondisi di sini tidak bisa dibilang ramai, juga tidak bisa dibilang sepi. Pembeli barang-barangnya adalah penikmat seni. Mereka bisa datang kapan saja. Dengan kata lain, dia tidak hitung-hitung pembeli karena pasarnya khusus.

Soal harga, harga pasaran kaset bekas di sana kini Rp 20.000 per keping. Seperti kebanyakan pasar kaset bekas di daerah lain, benda sebanyak ini cukup bikin bingung, apalagi kalau kita tidak tahu mau beli apa.

Selain lapak Pak Simon, di sana juga menjadi tempat bagi warung-warung musik underground. Setidaknya ada 3 warung yang berjualan koleksi-koleksi musik punk, hardcore, dan lainnya.



Salah satunya juga menjadi distro, distribution store, buat mendistribusikan merchandise-merchandise terbaru dari band-band underground lokal. Ada CD dan kaset, dan ada pula kaus dan aksesori.

Gerah tidak kunjung hilang setelah keliling di sini sekitar 1 jam di sini. Lumayan juga. Baju jadi basah keringat. Mungkin, pikir saya, ini karena tidak terbiasa.

Ya entah soal terbiasa atau tidak. Soalnya Pak Simon sendiri terlihat selalu sedia handuk di kepalanya. Berarti memang begitu kondisinya.

Tapi tidak perlu urung. Dengan koleksi sebanyak ini, dan harga yang tidak kenal "barang langka", mestinya lapak-lapak musik di Pasar Taman Puring ini masih bisa jadi sasaran bagi para kolektor, termasuk anak-anak milenial yang sedang doyan-doyannya koleksi rekaman fisik.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Masuk ke Segarnya Dunia Kecil Kupu-Kupu

Jadi ceritanya suatu waktu jalur Bogor arah ke Puncak lagi enggak t...

Toko Kaset DU68 yang Diam-Diam Jadi Tempat Sejarah Musik

Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-...

Icip-Icip Ikan Arsik di Lapo Halal

Dulu kalau lewat lapo di beberapa titik di sekitaran Jakarta rasanya ...

Retro Space Art yang Belakangan Booming Lagi

Traveling ke ruang angkasa, menjelajah satu galaksi ke galaksi ...

Metallica dan Keras Kepala yang Ditelan Masa

Setiap orang bisa keras kepala. Percaya enggak sama omongan ini? Kadan...

Dansa-Dansa Ajaib Musisi yang Akhirnya Mendunia

       Buat saya, musik itu pancing energi, apa...

Belladonna, Atmosfer Sendu Bergemuruh, Comeback, sampai Cerita soal UFO

Gitar mereka mengendurkan otak. Kesannya sedih, tetapi sebenarnya buka...

Romantisme Hellboy dan 10 Kalimat Manis yang Bisa Dipinjam dari Film

 "Kalau hari ini kamu tolak aku lagi, ya udah. Tahun berikutnya a...

Cerita di Balik Sejarah Skateboard Indonesia dan Musiknya

Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palem...

Tour Lihat Corat-Coret Tembok di "Sarang Seni" IKJ

Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Ins...