Pak Banda dan Cerita Bos Javanicus

  • 5 bulan yang lalu
  • 297

Mobil yang kami tumpangi terus terguncang-guncang. Mobil merangkak pelan-pelan karena jalanan yang dilewati nyaris tak pernah mulus. Beruntung, kami memilih mobil yang tangguh, sehingga tetap bisa melanjutkan perjalanan.

Tujuan saya dan teman-teman siang itu adalah Taman Nasional Alas Purwo. Misinya juga Cuma satu: ingin melihat Bos Javanicus alias Banteng Jawa.

Mulanya kami berharap mendapati kawanan Banteng Jawa tersebut saat menyambangi Taman Nasional Baluran. Namun, misi kami digagalkan hujan. Banteng enggan keluar ke padang rumput. Kemungkinan persediaan air mereka sudah melimpah. Sempat muncul niat untuk melakukan safari malam. Tapi, petugas di Baluran tak merekomendasikan, karena peluang banteng keluar ke padang rumput juga sangat kecil.

Tapi kami tak patah semangat. Masih ada harapan untuk mengamati dengan mata kepala sendiri. Pemandu kami selama perjalanan ke Baluran mengusulkan ke Alas Purwo. Kans bersua Banteng Jawa sangat terbuka lebar.

Namun, tak ada makan siang yang gratis. Perjalanan ke Alas Purwo benar-benar jadi tantangan tersendiri. Setelah melakukan regristrasi di gerbang Taman Nasional Alas Purwo, kami disambut medan yang cukup berat.

Untuk melihat banteng, kami harus menyambangi padang penggembalaan Sadengan. Lokasinya sejauh 2 kilometer dari pintu gerbang. Sebenarnya dekat. Tapi gara-gara jalanannya rusak berat, perjalanan jadi memakan waktu. Mobil berjalan pelan-pelan karena harus bertarung dengan lubang-lubang yang menganga. Untung, pemandu kami sudah sangat familier dengan medan ini sehingga mobil tetap melaju, meskipun dengan kecepatan yang menguji kesabaran.

Tiba di Sadengan kami langsung menuju sebuah pondok milik pengelola Taman Nasional Alas Purwo. Ada tiga petugas lapangan di sana. Salah satu petugas bernama Banda Nurhara, yang menjabat sebagai pengendali ekosisten hutan Taman Nasional Alas Purwo. Sedangkan dua petugas lainnya berperan sebagai pengumpul data, Pak Suparno dan Pak Susiayanto. Sembari beristirahat, kami berbincang-bincang dengan mereka.

Tugas mereka sederhana, tapi tidak mudah. Sehari-hari mereka mengumpulkan data satwa di wilayah padang penggembalaan itu. Selain menghitung jumlah banteng, mereka juga harus mengamati dan mencatat berapa jumlah hewan lain yang singgah di padang rumput tersebut, seperti burung merak, rusa dan anjing hutan.

“penghitungan satwa dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore. Kami bertugas selama tiga hari berturut-turut, kemudian digantikan penjaga lainnya,” kata Pak Banda.

Tampaknya sederhana, tapi jangan bayangkan bisa mudah dilakukan. Apalagi suasana di pondok dan sekitarnya sangat sepi. Hampir tak ada hiburan, televisi sekalipun.

Obrolan siang itu berlangsung seru. Pak Banda membagikan cerita-cerita menarik. Mungkin berbagi cerita dengan kami jadi penghiburan di tengah kesunyian yang melingkupinya. Apalagi, siang itu tak ada pengunjung selain kami. Benar-benar tenang suasananya.

Pak Banda menyebut hari itu banteng yang datang ke padang penggembalaan berjumlah 94 ekor. Lebih banyak yang betina. Hanya 18 ekor banten jantan yang singgah.

“Membedakan banteng jantan dan betina sangat mudah. Yang jantan berwarna hitam, sedangkan yang betina berwarna merah kecokelatan,” kata Pak Banda.

Dari pondok kami sudah bisa melihat kerumunan banteng-banteng jawa tersebut. Kami dipersilakan mengamati lebih dekat Bos javanicus dari menara pandang. Supaya maksimal Pak Banda menyodorkan binokuler dan monokuler. Maklum, banteng-banteng memilih berkumpul di bagian tengah padang rumput, cukup jauh dari menara pandang.

Otoritas Taman Nasional Alas Purwo memasang pagar di sekeliling padang rumput. Alasannya jelas untuk keamanan, supaya banteng dan mungkin hewan-hewan liar lain tidak berkeliaran.

Mengamati banteng dengan binokuler sangat menyenangkan. Kami bisa melihat dengan lebih jelas banteng yang sedang merumput di kejauhan. Jika dilihat sepintas dari kejauhan, banteng Jawa agak mirip dengan sapi. Bos javanicus ini memang hewan yang sekerabat dengan sapi dan dapat ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, and Bali.

Banteng dibawa ke Australia Utara pada masa kolonisasi Britania Raya pada 1849 dan sampai sekarang masih lestari. Bergantian kami mengeker banteng-banteng dengan binokuler. Mereka merumput dengan tenang. Sesekali tampak juga burung merak singgah di padang rumput.

Kunjungan kami siang itu tambah seru ketika Pak Banda menunjukkan sebuah rekaman video. Isinya seperti tayangan National Geographic di televisi. Ada lima ekor anjing hutan yang menyerbu sekelompok rusa di padang rumput. Rusa-rusa tersebut bakal dijadikan mangsa empuk. Tetapi, aksi anjing hutan tersebut diadang oleh sekelompok banteng. Berkat mereka, rusa-rusa tersebut selamat dari ancaman anjing hutan. Video itu berdurasi kurang dari lima menit, tapi sangat mengesankan.

Puas mengamati kawanan banteng dari kejauhan, kami pun undur diri. Impian bersua dengan banteng jawa akhirnya terealisasi, meski hanya bisa memandang dari kejauhan. Bagi kami itu sudah cukup. Secarik harapan terucap. Semoga Bos javanicus terus lestari agar generasi mendatang juga bisa memandang keelokannya, bukan sekadar mengenal dari cerita.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Kisah Anak Rambut Gimbal Dieng, Cobaan Sekaligus Rezeki

Puluhan pasang mata memandang ke layar LCD yang sedang menyajikan film...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Museum Kambang Putih dan Kejutan dari Koes Plus

Kota Tuban sedang panas-panasnya. Sinar matahari terasa terik menyenga...

Menikmati Sisi Lain Telaga Warna

Orang bijak bilang, perjalananmu adalah perjalananmu dan perjalananku ...

Bertemu Malaikat Tanpa Sayap

Jujur saya sudah mulai panik. Jarum jam sudah beranjak dari pukul 11 m...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...