Musik Kekinian Bikin Gemas ala Unknown Mortal Orchestra

  • 1 minggu yang lalu
  • 30



Jadi gara-garanya saya lihat satu video. Bagian depannya ada gambar satu rangkaian kereta ekspres meluncur dalam panorama ala kartu Prancis era 1970-an. Warnanya hangat, kayak dikombinasiin kartun-kartun Jepang yang agak city pop. Ini paduan, atau memang dua budaya itu saling kasih pengaruh ya? Entah sih.

Isinya penumpang, traveler, seperti anak-anak kekinian yang doyan traveling—lengkap dengan earphone sama ransel vintage. Lagunya nyaman, tapi punya beat rapat—enak buat mengantarkan cerita dengan mood yang "chill, Bro. Let's get it on" .

Namanya Unknown Mortal Orchestra, dan judul lagunya "Hunnybee". Terus liriknya begini: "Warm rain and thunder / Days are getting darker / A week is such a long time / Eras rot like nature" Ha-ha... Kontradiktif memang sama mood board video klip yang digarap sama Greg Sharp dan diproduksi Truba Animation itu.



Tapi memang pas di bagian akhir, namanya juga cerita, ada konflik sedikit. Konflik itu lebih tepatnya calon konflik, soal segala aspek yang bikin penontonnya mikir kalau akhirnya bakal ada petaka: mur roda kereta longgar, pohon lapuk dimakan rayap yang siap jatuh dan kasih halangan di rel, sama kopor di kompartemen atas yang berat dan kesannya siap jatuh ke kepala si traveler.

Di bagian melodi, frontman-vokalis-gitaris Ruban Nielson kasih teror sedikit supaya drama itu kebangun. Dan akhirnya semua yang nonton ketipu. Semuanya sama sekali enggak kejadian (sori spoiler) seiring melodi yang klimaks dan berhenti total dilanjutin sama cara nyanyi Ruban yang mau trenyuh tapi enggak jadi, bareng lirik "Hunnybee, Hunnybee There's no such thing As sweeter a sting". Jadi maksudnya, setelah "disengat" terus hidup jadi manis? Ah, namanya juga interpretasi....



Itu baru satu video—dan yang satu itu udah ditonton lebih dari 6 juta kali di YouTube, padahal lagunya baru beredar pertengahan tahun 2018 ini.

Cara mereka cerita lewat musik sih yang bikin saya jadi penasaran. Alat-alat yang mereka pakai juga kelihatannya ala anak-anak indie rock: santai, simpel, tapi hasilnya genius.

Ruban Nielson sendiri pilih pakai gitar Fender Jag-Stang (ini gitar hasil desain Kurt Cobain "Nirvana" ya, fyi). Bukan cuma pilihan alat, cara mainnya pun dikempit dengan strap di satu bahu doang bukan selempang—jadi ingat frontman band indie Indonesia, Elephant Kind.

Kalau lihat live mereka, Unknown Mortal Orchestra memang banyak pakai alat-alat kuno mulai dari synth klasik, drum set yang kayaknya dari era soul pop-jazz 60-70an, bass yang antara set klasik Fender dan Rickenbacker karena tebel-tebel garing, plus pastinya efek-efek fuzzy ala era 60an.

Buat urusan synth, mereka katanya pakai Roland RS-09, Univox Mini-Korg 700, Moog Sub Phatty. Khusus untuk Roland RS-09 dan Univox Mini-Korg 700, sound yang keluar dari dua alat tersebut sangat dekat sama era musik 1970-an. Nah, makanya mereka yang punya referensi musik-musik di era ini kayak naik mesin waktu balik ke era itu.

Belum lagi rekaman pakai pita analog reel-to-reel yang bahannya dipakai untuk file di ProTols jadi campuran vintage sama modern.

Saya sepakatlah sama penilaian media massa musik Pitchfork yang kasih nilai mereka 8,1 (skala 10) untuk album pertamanya dengan kata-kata begini: "an expert use of space rare for such a lo-fi record, UMO (Unknown Mortal Orchestra) manages a unique immersive and psychedelic quality without relying on the usual array of bong-ripping effects".

Selain "Hunnybee", lagu lain yang buat saya patut dibahas adalah "Multi-Love". Ini temuan saya dari penjelasan akun YouTube Lie Likes Music. Katanya, kunci musik yang dipakai sama band asal Selandia Baru ini tabrakan.



Kalau misalnya kunci umum band indie rock C-E-D-G, Unknown Mortal Orchestra rumusnya begini: G#minor F# B major C# D#minor.

Kunci F# dan C# kasih mood positif, sementara G#minor dan D#minor kasih atmosfer yang negatif. Nah, perubahan konstan dari positif-negatif-positif bikin lagu mereka jadi tabrakan dan chaos. Efeknya atmosfer yang dibangun jadi kasih emosi campur aduk dan mengendurkan syaraf ala psychadelic.

Yang ajaib sih cerita di belakang lagu ini. Jadi kata Ruban Nielson, "Multi-love" memang soal percintaan yang multi dan kompleks. Hubungan tiga orang antara dia dan istrinya dan satu lagi cewek asal Jepang yang gagal pulang ke negaranya karena urusan visa. Hubungan tiga orang jadi satu. Astag.... Makanya chaos deh itu lagu....

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Jangan Sampai Bingung Cari Jajanan di Blok M

Bau kopi bercampur rempah masakan padang.Seperti itulah kira-kira yang...

Romantisme Hellboy dan 10 Kalimat Manis yang Bisa Dipinjam dari Film

 "Kalau hari ini kamu tolak aku lagi, ya udah. Tahun berikutnya a...

Cerita Patah Hati dan Musik Cerdas Mataharibisu

Mataharibisu merupakan gabungan dua kata yang kontradiktif. Matahari a...

Metallica dan Keras Kepala yang Ditelan Masa

Setiap orang bisa keras kepala. Percaya enggak sama omongan ini? Kadan...

Belladonna, Atmosfer Sendu Bergemuruh, Comeback, sampai Cerita soal UFO

Gitar mereka mengendurkan otak. Kesannya sedih, tetapi sebenarnya buka...

Tour Lihat Corat-Coret Tembok di "Sarang Seni" IKJ

Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Ins...