Merinding di Dapur Lubang Jepang

  • 1 minggu yang lalu
  • 70

Bagaimana rasanya menyusuri terowongan yang konon dulunya pernah menjadi tempat pembantaian? Jelas merinding. Tapi, rasa takut kalah dengan rasa penasaran. Meskipun tahu Lubang Jepang punya cerita kelam di masa lalu, saya dan sahabat tak ragu-ragu untuk menyambangi destinasi wisata bersejarah tersebut.

Lubang Jepang atau kadang disebut Lobang Jepang adalah salah satu destinasi wisata utama di Bukittinggi. Lokasinya di kawasan Taman Panorama, tak jauh dari pusat Kota Bukittinggi. Lubang Jepang menjadi tempat untuk mendapatkan salah satu pemandangan terbaik ke Ngarai Sianok.

Siang itu pengunjung cukup ramai meskipun bukan akhir pekan. Wisatawan terus mengalir, sebagian besar datang berombongan.

Lubang Jepang merupakan bunker peninggalan jaman penjajahan Jepang di Nusantara. Konon tempat itu dijadikan basis pertahanan Jepang pada saat perang dunia kedua. Lubang Jepang didirikan pada periode 1942-1945. Pekerjanya adalah para tahanan, yang menurut cerita berasal dari luar Sumatra, seperti Jawa dan Sulawesi. Jepang sengaja mengambil tenaga dari jauh supaya proyek ini terjaga kerahasiannya. Seiring waktu, bunker pertahanan itu berkembang jadi tempat pengintaian dan juga pembantaian tahanan!

Ada tiga pintu masuk ke Lubang Jepang, salah satunya dari Taman Panorama. Dua pintu lainnya yaitu dari Jalan Ngarai Sianok dan di samping istana Bung Hatta. Namun hanya pintu di Taman Panorama yang terbuka untuk umum.

Saat itu kami sedang apes. Kami dapat pemandu yang tak sabaran. Sepertinya keinginannya hanya merampungkan tugas secepat mungkin. Alhasil, informasi yang kami terima tentang sejarah serta cerita di balik Lubang Jepang terasa tak maksimal. Pemandu tersebut tak bercerita dengan penuh ketulusan. Saking kesal dengan sikapnya tersebut, saya bahkan tak menanyakan namanya.

Meskipun sembari terburu-buru pemandu kami masih memberikan beberapa informasi-informasi penting terkait Lubang Jepang. Tapi, infonya tidak mendetail. Kami harus sabar mengorek-ngorek demi mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Pemandu kami memang selalu menjawab pertanyaa, tapi lagi-lagi dengan wajah yang minim senyum. Sabar….sabar.

Pada saat ditemukan (entah tahun berapa), diameter pintu masuk ke Lubang Jepang hanya 20 cm. Pemerintah kota Bukittinggi resmi membuka Lubang Jepang sebagai wisata sejarah pada 1984. Setelah itu dilakukan pemugaran besar-besaran. Lebar pintu masuk dan lorongnya diperlebar menjadi sekitar dua meter, sedangkan tingginya tiga meter, cukup nyaman untuk dilewati oleh pengunjung.

Menurut penjelasan sang pemandu, lorong bawah tanah di Lubang Jepang ini panjangnya 1,47 kilometer. Terdapat 21 lorong-lorong kecil yang memiliki berbagai macam fungsi. Ada bilik serdadu militer, ruang rapat, lorong penyimpanan amunisi, ruang makan romusa, dapur penjara, ruang sidang, ruang penyiksaan, penjara, tempat pengintaian, tempat penyegapan dan pintu pelarian. Masing-masing tempat telah diberi papan nama penjelasan.

Suasana di Lubang Jepang remang-remang, meski sudah ada lampu-lampu penerangan yang dipasang di berbagai sudut tempat tersebut. Lorong ini mengingatkan saya dengan Chu Chi Tunnel di Vietnam. Namun lorong di Lubang Jepang memang lebih lapang dan tinggi. Dinding terowongan di Lubang Jepang masih dipertahankan keasliannya. Konon terbuat dari pasir yang akan semakin kuat jika dicampur air. Dinding batunya bersekat-sekat untuk meredam suara agar tidak berjalan keluar.

Suasana di dalam terowongan awalnya terasa biasa-biasa saja. Apalagi di beberapa bagian, sentuhan modernitas sudah sangat terasa. Namun, di sebuah lorong utama yang bertuliskan “Pintu Pelarian” aura suram mulai terasa. Di belakang pintu tersebut ada cahaya masuk yang berasal dari lubang berpagar. Nah, di sebelah kanan lorong tersebut ada lorong lain yang berujung ke penjara. Itu adalah tempat memenjarakan para pekerja yang membangkang atau tawanan lain. Kemudian di sisi kanan penjara terdapat sebuah ruangan bertuliskan dapur.

Semula saya mengira dapur tersebut bermakna harfiah sebagai tempat untuk memasak. Ternyata saya salah. Pemandu kami menuturkan, dapur tersebut sejatinya adalah tempat pembantaian. Ya, pembantaian itu dilakukan di meja batu yang terletak di pojok ruangan.

Saya langsung bergidik ketika memandangi meja tersebut dan membayangkan kejamnya pembantaian yang pernah terjadi di masa lampau. Setelah dibantai korban akan dibuang melalui sebuah lubang kecil di pojok ruangan. Menurut pemandu, lubang itu berujung ke Ngarai Sianok sehingga jasad korban akan sulit ditemukan. Lubang tersebut masih dipertahankan sampai sekarang. Saat itu, lubang pembuangan itu terlihat kontor, alias dipenuhi sampah.

Cerita seram tentang pembantaian itu masih melekat di benak ketika kami berjalan menuju pintu keluar. Pemandu kami semakin tak berselera untuk bercerita. Saya hanya bisa menatap iri rombongan lain yang mendapat pemandu yang ramah dan tak henti memberi penjelasan menarik. Agak menyesal juga merogoh kocek sebesar Rp50.000 untuk pemandu asal-asalan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Setidaknya siang itu saya mendapat pengalaman mengesankan menyusuri Lubang Jepang dengan segala cerita kelamnya.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Becak Tuban, Wisata Unik yang Sarat Kearifan Lokal

Pria-pria yang beraktivitas sehari-hari mengenakan sarung dan peci, se...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Menemukan "Rasa" Indonesia di Malaysia

Kenikmatan solo traveling salah satunya tak ada yang melarang kapan ha...

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Romantisme di Balik Selembar Kartu Pos

Sepuluh tahun silam, sepucuk kartu pos datang dari sahabat saya yang b...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Filosofi di Balik Atap Rumah Batak dan Simbol Cicak

Pulau Samosir masih didekap udara cukup dingin saat saya dan seorang s...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Warna Warni Cerita dari Manila

Saya terus terang bingung memulai dari mana cerita tentang Manila. Mun...