Menikmati Sisi Lain Telaga Warna

  • 5 bulan yang lalu
  • 321

Orang bijak bilang, perjalananmu adalah perjalananmu dan perjalananku adalah perjalananku. Setiap orang punya persepsi. Bahkan, suatu destinasi bisa terus terasa berbeda meskipun dikunjungi berkali-kali. Momen, suasana hati, sudut pandang, hingga teman perjalanan bisa jadi pembeda.

Sebenarnya saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman mengunjungi Telaga Warna. Tempat tersebut menjadi salah satu obyek andalan di Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Kunjungan ke Dieng bakal terasa kurang lengkap tanpa menyambangi Telaga Warna.

Sudah dua kali saya mengunjungi objek wisata tersebut. Kebetulan menikmatinya dari sisi berbeda. Sama-sama indah. Tergantung bagaimana kita mendefinisikan keindahan.

Pada kunjungan pertama, saya menyapa Telaga Warna dari jarak dekat. Menyentuh airnya, mencelupkan kaki ke telaga, dan duduk di batang pohon kering di pinggir telaga. Tak lupa merekam memori dengan berfoto bersama para sahabat berlatar Telaga Warna yang misterius. Tenang tapi terasa agak ”dingin” auranya. Kami juga sempat trekking sedikit ke atas. Ada jalanan setapak di sisi telaga. Memandang Telaga Warna dari posisi cukup tinggi menarik juga. Kenangan tersebut masih nyaman bercokol di benak.

Pada kunjungan kedua, saya mencumbui sisi lain Telaga Warna. Memandang dari jauh, memaknai keindahan dari sudut berbeda. Meskipun harus sedikit berpeluh keringat, saya benar-benar menikmatinya. Dua pengalaman tersebut sama-sama menyenangkan, tapi menawarkan sensasi yang berbeda. Keduanya terasa menyenangkan.

Saya dan teman-teman memandang Telaga Warna dari Bukit Sidengkeng. Konon ini disebut sebagai lokasi paling sempurna untuk memotret eksotisme Telaga Warna. Untuk mencapai Bukit Sidengkeng, kami harus trekking selama kurang lebih 15 menit. Petualangan itu dimulai dari pintu masuk gerbang Wana Wisata Petak 9 Dieng.

Kalau mendengar kata ”trekking” sebenarnya nyali saya gampang menciut. Pengalaman trekking di Bukit Sikunir Dieng maupun di Badui jadi alasannya. Endurence saya buruk sekali, maklum jarang berolahraga. Napas ngos-ngosan seperti orang mau pingsan.

Jadi, kadang saya sering berpikir berulang-ulang jika diajak ke destinasi wisata yang harus dicapai dengan trekking. Takutnya malah kurang menikmati karena kecapekan. Berkali-kali saya berjanji dalam hati untuk aktif berolahraga demi meningkatkan daya tahan tubuh. Tapi, niat tersebut lagi-lagi hanya mentok sebatas janji dalam hati. Tak pernah terealisasi.

Tapi, saya diberi tahu mendaki ke Bukit Sidengkeng hanya butuh 15 menit, saya tergoda. Kalau 15 menit sepertinya masih terjangkau kemampuan. Alhasil, saya mengiyakan saja ajakan mengunjungi Telaga Warna dari sisi berbeda ini.

Beruntung sore itu cuaca cukup bersahabat, sejuk tepatnya. Jalur trekkingnya juga asyik. Kami berjalan mendaki melewati jalan setapak yang diapit pepohonan di kanan dan kiri. Ada akasia, serta wajah cantik bunga terompet dan bunga hortensia. Pemandu kami terus bercerita sepanjang pendakian.

Tapi konsentrasi saya sudah tersedot ke hal lain. Napas yang mulai ngos-ngosan dan pemandangan aneka rupa di sekitar. Beberapa kali terpaksa berhenti untuk mengatur napas. Beginilah hukuman kalau kurang berolahraga.

Setelah beberapa menit mendaki, Telaga Warna mulai terlihat di sisi kanan kami. Semakin ke atas view-nya bertambah utuh. Keletihan mulai terlupakan. Pemandangan cantik di samping kanan kami ternyata manjur sebagai pengalih perhatian.

Godaan berhenti sejenak untuk memotret, sekalian mengatur napas, sulit diabaikan. Tak apalah jika perjalanan ke puncak agak tersendat. Toh belum tentu dalam waktu dekat bisa ke sana lagi.

Sesampai di puncak bukit, kelelahan benar-benar menguap. Mata kami berpesta. Telaga Warna dan Telaga Pengilon utuh tertangkap mata. Latarnya Gunung Sindoro dan Gunung Prau yang menjulang anggun. Telaga Warna menggoda dengan gradasi airnya. Air berwarna hijau lumut di sebelah kiri, sedangkan bagian kanan berwarna tosca. Bayangan pohon-pohon hijau jatuh di permukaan air. Suasana mistik semakin lengkap saat kabut bergerak perlahan mendekap Gunung Sindoro.

Sayang, kami tak bisa berlama-lama berpesta pora dengan pemandangan itu. Senja semakin menua. Tiba saatnya meninggalkan Bukit Sidengkeng. Tapi kini setidaknya kini saya punya dua versi kenangan tentang Telaga Warna. Lebih berwarna tentu saja.

Kalau diminta memilih yang lebih indah, saya menyerah. Kedua pengalaman itu menawarkan keindahan masing-masing, benar-benar tak bisa dibandingkan. Cukup dinikmati dan dikenang saja.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Kisah Anak Rambut Gimbal Dieng, Cobaan Sekaligus Rezeki

Puluhan pasang mata memandang ke layar LCD yang sedang menyajikan film...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Pak Banda dan Cerita Bos Javanicus

Mobil yang kami tumpangi terus terguncang-guncang. Mobil merangkak pel...

Museum Kambang Putih dan Kejutan dari Koes Plus

Kota Tuban sedang panas-panasnya. Sinar matahari terasa terik menyenga...

Bertemu Malaikat Tanpa Sayap

Jujur saya sudah mulai panik. Jarum jam sudah beranjak dari pukul 11 m...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...