Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

  • 5 bulan yang lalu
  • 668
Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bertiga berjalan kaki menyusuri jalanan di tengah gedung-gedung yang menjulang tinggi Kota Makati, pusat bisnisnya Metro Manila.
Badan sebenarnya sudah menagih istirahat setelah seharian menjelajahi sudut-sudut Manila. Langit juga sudah gelap. Namun, perut dan hati sudah sulit berkompromi. Kami harus menemukan masakan Indonesia. Rindunya sudah di ujung lidah.
Selama lima hari di Filipina, menu makan kami memang kurang variatif. Maklum, harus mencari makanan halal, jadi pilihan sangat terbatas. Lagi-lagi gerai junk food terbesar di Filipina yang jadi andalan. Lama-lama bosan juga. Bayangan pecel, soto, sate, nasi uduk, dan kawan-kawan terus menari-nari di pelupuk mata dan menerbitkan air liur.

Berbekal alamat yang didapat dari berselancar di dunia maya, kami bertekad menyambangi Warung Indo, di Jalan San Agustin, Makati. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Bukan di tepi jalan utama, tapi mudah ditemukan. Saat melihat bangunan tak terlalu besar bertuliskan Warung Indo, Chinese Indonesian Restaurant, kami menarik napas lega dan bahagia. Seperti judul buku Eka Kurniawan, “seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas”. Kami melangkah masuk dengan senyum lebar.
Melihat poster-poster yang dipasang di dinding, kami sangat bahagia, seperti berjumpa kekasih hati. Bayangkan ada gambar pecel lele, pecel ayam,, ayam penyet, gado-gado, lontong sayur medan, dan lain-lain.
Belum lagi ornamen-ornamen yang dipasang di dekat meja kasir. Ada bendera merah putih berukuran kecil, wayang kulit, hingga patung-patung khas Indonesia lainnya. Berasa pulang ke rumah.
Harganya? Lumayan mahal dibanding warung-warung di Indonesia, tapi masih terjangkau. Lagipula, kalau urusannya rindu jangan terlalu perhitungan. Yang penting perut kenyang dan hati senang. Malam itu saya memesan gado-gado, sedangkan teman memilih pecel lele. Jangan tanya rasanya? Pokoknya enak.
Eh, tapi cita rasanya tidak seautentik di Indonesia. Saya menduga karena beberapa bumbu khas Indonesia sulit ditemukan di Manila. Rasanya juga kurang spicy, cenderung agak datar.
Sebenarnya ingin sekali ngobrol dengan pemilik rumah makan tersebut. Sayang, menurut salah seorang pramusaji, pemiliknya absen datang malam itu. Sedangkan pramusaji semuanya orang Filipina. Saya tidak menengok ke dapur, jadi kurang tahu apakah kokinya orang Indonesia atau warga lokal.
Restoran Indonesia di Manila jumlahnya segilintir, salah satunya Warung Indo. Warung Indo berdiri di Manila sejak 2012 atau sudah bertahan selama enam tahun. Selain itu ada restoran padang Garuda, lokasinya tepat di seberang kantor KBRI Manila.
Filipina memang bukan destinasi favorit wisatawan asal Indonesia. Pamor Filipina di mata turis Indonesia kalah dibanding Singapura, Malaysia, Vietnam, bahkan Kamboja. Padahal, Filipina menyimpan pesona unik dan eksotis. Jejak-jejak peninggalan dan budaya Spanyol tertanam kuat di sana, yang membuat kultur Filipina berbeda dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Sembari menikmati candu bernama makanan Indonesia, saya mengedarkan pandang. Pengunjung rumah makan ini mayoritas warga lokal. Saya hanya melihat satu keluarga asal Indonesia malam itu, ditilik dari percakapan mereka. Lainnya mengobrol menggunakan bahasa Tagalog atau Inggris. Warung cukup penuh. Ternyata, masakan Indonesia lumayan digemari.
Perjumpaan dengan masakan Indonesia ternyata berlanjut ke keesokan harinya. Kali ini sama sekali tanpa direncanakan. Terjadi begitu saja.
Ceritanya pagi itu saya dan sahabat berniat jalan-jalan ke Legazpi Sunday Market. Lokasinya juga masih di Makati, tak jauh dari KBRI, tepatnya di Herrera St. cor Legazpi and Salcedo V.A. Rufino St, Legazpi Village, Makati. Saking niatnya, kami ke sana sambil menyeret-nyeret koper karena siang itu harus pindah penginapan.
Keinginan mengunjungi Sunday Market muncul karena penasaran melihat kerajinan dan makanan khas Filipina. Siapa tahu ada yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan untuk keluarga dan sahabat di Tanah Air. Keberuntungan berpihak pada kami. Saat berkeliling melihat-lihat lapak-lapak penjual, kami menemukan warung Indonesia lagi.
Warung ini langsung menarik perhatian, bahkan hanya dalam sekali lirik. Perhatian kami tersedot oleh pemandangan para penjaga warung yang meladeni pembeli dengan memakai celemek dan penutup kepala dari kain batik. Motif batiknya khas Solo-Jogja. Nama lapaknya juga sangat Indonesia “Warung Warung”.
Tanpa pikir panjang, kami ikut antre membeli. Tampaknya seluruh pembelinya Filipino (sebutan untuk orang Filipina). Tapi, saya juga tidak mengetahui pasti karena wajah orang Indonesia dan Filipino sulit dibedakan. Selama di Filipina, saya selalu dikira warga lokal sehingga diajak berbicara menggunakan bahasa Tagalog. Hasilnya, saya hanya melongo atau senyum-senyum sambil menjelaskan asal negara.
Dalam hati saya menebak pemilik warung ini pasti orang Indonesia. Ketika saya menyapa dengan bahasa Indonesia, salah seorang penjaga warung tersenyum lebar. Beliau menjawab sapaan dengan bahasa Indonesia. Perempuan setengah baya tersebut bernama Bu Tess. Ternyata, beliau lah sang pemilih warung.
Bu Tess mempersilahkan kami memilih makanan yang hendak dibeli. Menunya cukup menggoda, ada nasi goreng, sate ayam, terong balado, tahu telur, bakwan, hingga perkedel jagung. Sayang, tak ada tempe. Saya memilih menu aman, nasi goreng plus perkedel jagung. Sahabat saya memilih sate.
Rasanya? Yang jelas tidak terlalu pedas dan bumbu-bumbunya tak sepekat di Indonesia. Sambal disediakan terpisah. Menurut Bu Tess, urusan rasa memang disesuaikan dengan selera Filipino yang kurang suka pedas. Apalagi, pelanggan warung mereka mayoritas memang warga lokal. Harga makanan sangat terjangkau kantong.
Pertanyaan yang paling memancing penasaran saya lontarkan di tengah-tengah percakapan. “Bu Tess, kalau boleh tahu asalnya dari kota apa? Sudah lama tinggal di Filipina?”
Bu Tess menjawab sembari tertawa kecil. “Kalian tentu menduga saya orang Indonesia. Saya ini asli Filipina.” Lho?
Kami kaget dan ikut tertawa kecil. Bagaimana tidak kaget, Bu Tess sangat fasih berbahasa Indonesia. Wajahnya juga khas Indonesia. “Jadi, saya pernah tinggal di Indonesia lebih dari 15 tahun. Di daerah Ciputat. Makanya saya bisa memasak makanan Indonesia.” Oalah, pantas saja.
Bu Tess bercerita pelanggan warungnya mayoritas orang Filipina. Lidah Filipino mudah menerima citarasa masakan Indonesia. Warungnya tak pernah sepi. Makanan yang dijual hampir selalu ludes.
Selain berjualan setiap Minggu di Sunday Market Makati, Bu Tess memiliki warung di Kota Pasig. Bisnis kuliner warung makanan Indonesia itu sudah dilakoninya sejak 2008. Awet juga, bertahan lebih dari sewindu.
Perjumpaan tanpa rencana dengan Bu Tess membuat saya semakin mencandui perjalanan seperti ini. Selalu saja muncul momen tak terduga. Bahkan, saat berada di jantung Filipina, sang nasib mempertemukan saya dengan Bu Tess dan masakan Indonesia yang mengobati kerinduan terhadap cita rasa kuliner di Tanah Air tercinta.
  • Novitasari
  • 1 bulan yang lalu

Dimana saja kita pergi pasti tdk jauh2 kita mencari kuliner indonesia , walau tdk di pungkiri kita juga penasaran dengan makanan khas di negeri orang tp lidah kita ga pernah bohong atas kerinduan makanan khas indonesia yg kaya akan rempah2 & rasanya memang juara , terlebih kadang sangat susaj utk mencari makanan yg halal di luar . sangat kagum dgn Bu Tess yg sudah memeperkenalkan makamam khas & cita rasa indonesia lewat masakannya terlebih beliau bukan asli orang Indonesia tp mampu memperkenalkannya utk wisatawan lokal . sangat excited pas namanya " warung warung " & memakai celemek dengan motif batik . semoga saya bisa ke filipin dan mampir ke warung Bu Tess Aamiin #PureTaste #SimplyAuthentic

  • Nia Yuniati
  • 1 bulan yang lalu

Ternyata makanan Indonesia digemari juga disana, memang makanan Indonesia itu sangat khas sekali #PureTaste #SimplyAutentic

  • nani sumarni
  • 1 bulan yang lalu

kita suka seneng deh ada orang luar negri yang membudayakan atau pinter dan tau tentang indonesia #PureTaste #SimplyAuthentic

  • Siti rachma fitriah
  • 2 bulan yang lalu

Terima kasih sama Bu Tess yang udah kasih “indonesia culinary taste” lewat masakannya #PureTaste #simplyauthentic

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Kisah Anak Rambut Gimbal Dieng, Cobaan Sekaligus Rezeki

Puluhan pasang mata memandang ke layar LCD yang sedang menyajikan film...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Museum Kambang Putih dan Kejutan dari Koes Plus

Kota Tuban sedang panas-panasnya. Sinar matahari terasa terik menyenga...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

Pak Chan dan Kecintaan pada Ukiran Minang

Kesabaran saya sedang benar-benar diuji. Mengunjungi Nagari Pandai Sik...

Becak Tuban, Wisata Unik yang Sarat Kearifan Lokal

Pria-pria yang beraktivitas sehari-hari mengenakan sarung dan peci, se...