Memori Kabel Telegraf di Asrama Inggrisan Banyuwangi

  • 2 bulan yang lalu
  • 118

Kunjungan ke Banyuwangi tak lelah melahirkan kejutan. Banyak cerita menarik yang muncul jauh melebihi harapan. Lima hari di Banyuwangi merupakan salah satu perjalanan terbaik saya.

Salah satu kejutan menyenangkan dari Banyuwangi adalah Asrama Inggrisan. Sekilas tak ada sisi istimewa dari bangunan tersebut, selain kesan klasik dan ketenangannya jika dilihat dari luar pagar.

Saya dan teman-teman seperjalanan diajak mampir ke asrama tersebut pada hari ketiga kunjungan di Banyuwangi.

Asrama Inggrisan terletak tepat di tengah Kota Blambangan, julukan Banyuwangi, di sisi alun-alun. Tepatnya di Jalan Diponegoro No 05, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Tempat tersebut kini digunakan sebagai asrama para prajurit TNI AD dari Kodim 0825 Banyuwangi.

Sebuah pintu masuk sederhana menyambut kedatangan kami ke Asrama Inggrisan. Sebuah gerbang tembok yang warnanya sudah kusam, dengan tulisan “Asrama Inggrisan” di bagian atasnya, menyambut kami. Selanjutnya kami disuguhi pemandangan halaman luas yang ditumbuhi beberapa pohon beringin.

Mengakses Asrama Inggrisan ini cukup mudah. Kami cukup minta izin secara lisan kepada salah satu penghuni. Selanjutnya bebas melihat-lihat hingga ke dalam bangunan. Penghuni asrama sepertinya sudah terbiasa dengan kedatangan wisatawan yang sekadar ingin melihat-lihat.

Kondisi Asrama Inggrisan sedikit mengundang kegundahan. Praktis hanya bagian depan yang tampak rapi, selebihnya kurang terawat. Bangunan sudah rusak di sana-sini, , kusam dan agak kumuh. Bangunan utamanya berlantai dua, kemudian di bagian belakang juga ada bangunan satu lantai. Di samping bangunan utama berdiri gedung terpisah. Hampir semua bagian gedung difungsikan sebagai semacam kamar alias tempat tinggal para anggota Kodim.

Berbagai perabotan rumah tangga seperti panci, ember, kompor, sapu, dan botol air teronggok tak beraturan di lorong dan depan kamar-kamar. Baju berwarna-warni berkibar di jemuran yang digantungkan di depan kamar. Di bagian lain, kayu tampak menumpuk tak karuan. Konsep ideal tentang keindahan tata ruang benar-benar sudah dilupakan di asrama ini.

Salah seorang penghuni asrama yang kami jumpai mengatakan ada sekitar 25 kamar di asrama itu. Total penghuni sekitar 70 orang. Pak Yunan, nama penghuni tersebut, juga memilih tinggal di situ karena rumahnya jauh, sekitar 40 km dari pusat kota Banyuwangi. “Ini semacam rumah dinas bagi kami. Dulu katanya tempat ini sempat akan direhab, tapi katanya tidak boleh. Padahal bangunannya memang sudah rusak,” ujar Pak Yunan.

Kondisi Asrama Inggrisan yang tak terawat itu sungguh disayangkan. Apalagi setelah saya mendapat informasi berharga tentang sejarah tempat tersebut. Menurut Pak Taufik Ridlwan Bachamis, salah seorang pengggiat Komunitas Sejarah Banyuwangi, Asrama Inggrisan pernah menjadi stasiun kabel telegraf bawah laut yang menjadi titik penghubung komunikasi antara pihak Inggris dengan Australia. Namun jejak kabel telegraf sudah dihancurkan oleh Jepang saat perang dunia kedua.

Saya kemudian penasaran menelusuri lebih jauh tentang kisah kabel telegraf bawah laut itu. Saya menemukan sebuah informasi penting. Pada 1870, seperti ditulis Bill Glover dalam “Dutch East Indies Government” yang dimuat di http://www.atlantic-cable.com, British-Australian Telegraph Company memasang kabel dengan rute dari Banyuwangi ke Darwin. Rute ini merupakan salah satu bagian dari proyek menghubungkan dunia melalui kabel. Penemuan telegraf membuat pengiriman pesan bisa dilakukan dengan lebih cepat. Penemuan telegraf merupakan buah ide cemerlang William Fothergill Cooke dan Charles Wheatstone, yang mengajukan paten sistem telegraf listrik di Inggris pada 1837.

Cara kerja telegraf adalah mengirimkan pesan dengan menggunakan denyut elektronik yang diteruskan oleh kawat tembaga. Kode yang diterima disebut morse seperti nama penciptanya dari Amerika, Samuel Finley Breese Morse. Jalur telegraf pertama dipasang antara Washongton dan Baltimore. Sedangkan kabel telegraf bawah laut pertama diletakkan oleh Jacob dan John Watkins Brett bersaudara melintasi Selat Inggris, pada Agustus 1850.

Kembali ke Asrama Inggrisan, rasanya sayang jika bangunan yang menyimpan kisah penting tentang stasiun kabel telegraf dibiarkan merana seperti itu. Jika dirunut lagi ke belakang, sejarah bangunan itu ada jauh sebelum difungsikan sebagai stasiun kabel telegraf. Pada periode 1766-1981 tempat tersebut digunakan sebagai Lodge (penginapan) untuk saudagar Inggris yang datang ke Bumi Blambangan. Di sekitar bangunan tersebut dibangun gorong-gorong yang terhubung dengan Kali Lo dan Boom.

Pada 1811, tempat tersebut dikuasai oleh Belanda dan digunakan sebagai asrama perwira. Seiring kedatangan Jepang ke Tanah Air, bangunan juga berpindah tangan dan dipakai sebagai markas Kanpetai. Setelah kemerdekaan Indonesia sampai 1949, bangunan kembali berubah fungsi sebagai asrama Batalion Macan Putih. Akhirnya kini Asrama Inggrisan berfungsi sebagai rumah dinas para anggota Kodim 0825 Banyuwangi.

Menengok sejarah panjangnya, Asrama Inggrisan jelas sudah sangat layak berstatus Benda Cagar Budaya (BCB). Saya mendapat informasi pemerintah memang sudah berencana menjadikan Asrama Inggrisan sebagai BCB (atau malah sudah?). Langkah tersebut bisa dibilang agak terlambat, tapi patut diapresiasi daripada tidak sama sekali.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Becak Tuban, Wisata Unik yang Sarat Kearifan Lokal

Pria-pria yang beraktivitas sehari-hari mengenakan sarung dan peci, se...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Menemukan "Rasa" Indonesia di Malaysia

Kenikmatan solo traveling salah satunya tak ada yang melarang kapan ha...

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Romantisme di Balik Selembar Kartu Pos

Sepuluh tahun silam, sepucuk kartu pos datang dari sahabat saya yang b...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Filosofi di Balik Atap Rumah Batak dan Simbol Cicak

Pulau Samosir masih didekap udara cukup dingin saat saya dan seorang s...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Warna Warni Cerita dari Manila

Saya terus terang bingung memulai dari mana cerita tentang Manila. Mun...