Masuk ke Segarnya Dunia Kecil Kupu-Kupu

  • 2 bulan yang lalu
  • 106

Jadi ceritanya suatu waktu jalur Bogor arah ke Puncak lagi enggak terlalu padat. Ya kalau dibilang enggak padat sih, enggak juga ya. Satu dua titik penyempitan ya sempit juga jadinya jalanannya. Tapi lumayan jarang-jarang macetnya.

Salah satu titik yang padat itu ada di satu gang ( ... saya anggapnya itu gang soalnya kalau tahu-tahu ada bus masuk rasanya jadi sesak banget ... ). Namanya Jalan Hankam. Posisinya antara Kantor Pos Cisarua dan Hotel Puncak Raya. Orang-orang suka sebut tempat itu jalan masuk Megamendung.

Tujuan saya ke sana karena banyak orang punya kenangan sama tempat yang namanya Curug Cilember. Seingat saya, dulu pernah juga masuk ke sana. Soalnya itu obyek wisata daerah yang retribusinya seramah uang jajang anak SD. Eh tahunya saya salah.

Sebelum sampai ke sana, perjalanannya sudah ngalah-ngalahin turnamen balap hill climb. 
Sebelum sampai ke sana, perjalanannya sudah ngalah-ngalahin turnamen balap hill climb. Gang sempit demi gang sempit, dan akhirnya sampai di tempat yang sudah beda sama yang pernah saya bayangin dulu.

Kalau sekarang, hmmm…. jadinya kayak dunia hobbit. Semuanya tertata di antara rerimbunan pohon sama aliran-aliran kecil sungai yang ujungnya nanti memang curug. Enggak perlu keran sih intinya kalau di sini.


Usai bayar tiket yang mau tidak mau menyesuaikan dengan perubahan drastisnya, dan artinya bukan lagi setara uang jajan anak SD ( ... ya mungkin sudah biasa juga sih anak SD yang jajannya segitu sehari--Rp 25.000 per orang ... ), saya menembus aneka gerai termasuk gerai-gerai Arabian dan aneka tempat foto dan main.

Curug-nya pun terlihat ramai orang. Nah, di sini lucunya. Titik masuk yang dilewati orang-orang akan terlewatkan begitu aja untuk ke curug. Lalu, orang akan pulang lagi. Namanya juga tujuan utama. Datang ke sana, ya untuk ke curug. 



Sayangnya, banyak yang kurang ngeh kalau di situ ada satu kubah yang kira-kira bersimpang 25 meter. Saya pikir tempat pembiakan tanaman.

Pas, masuk. Ooh. Ini dunia kecilnya kupu-kupu. Bayangkan kita ada di satu wilayah yang tingginya 800 meter di atas permukaan laut. Lalu angin puncak yang menari bebas di antara pinus-pinus ikut masuk juga ke sana lewat pori-pori jaring-jaring kubah. Isis.


Kubah ini menaungi bukit dengan jalan-jalan setapak berisi tanaman-tanaman daerah tinggi, termasuk bunga-bunga. Di situ juga dibuatkan parit untuk mengalirkan air curug yang saya bilang tidak butuh keran tadi. "Percuma", soalnya airnya melimpah dan keluar terus… haha .... Betapa kita perlu bersyukur….


Menanjak di satu sisi bukit, satu kupu-kupu hitam terlihat sedang cari nektar, cairan manis yang terdapat pada bunga. Mungkin Papilio memnon, mungkin juga Papilio polytes. Sayang, tidak sempat terpotret.

Lucunya, mereka juga punya piring makan. Ada bunga-bunga warna kuning yang disaji di atas alas tembikar di beberapa sudut, termasuk di atas kolam ikan. Jadi agak dramatis eks harmonis sih andaikata ada kupu-kupu yang makan nektar di atas kolam itu karena mereka makan di atas ikan-ikan.


Ini memang jadi dunia yang unik karena banyak hal yang terbilang jarang untuk dilihat. Makanya memang nikmat kalau kita bisa melihatnya satu per satu.

Sampai akhirnya kalau sudah puas, kita bisa main-main ke sebuah ruangan di dekat pintu masuk yang ternyata adalah tempat ulat-ulat berproses jadi kupu-kupu.

Menurut keterangan di sana, semua kupu-kupu yang hidup di kubah alias dunia kecilnya ini berjumlah 12 jenis.
Yang langka adalah Papilio helena, tapi mungkin tadi tempat mainnya agak tersembunyi atau mungkin sedang di bagian yang paling tinggi.


… dan semuanya adalah kupu-kupu lokal. Kupu-kupu lokal? Hebat juga. Maka beruntunglah saya bisa main ke tempat ini.

Sebenarnya ini tempat yang simpel, sebuah taman konservasi kupu-kupu. Tapi toh taman kupu-kupu tidak bisa dibilang banyak juga di Indonesia.

Tempat ini dibangun dengan semangat yang saya bisa bilang "kalau sudah punya mimpi ya maksimal sekalian". Bahkan isinya habitat lokal.

Kesannya, apa yang sudah Dia berikan jadinya begitu dimanfaatkan dengan baik, yang tentunya bikin tempat ini jadi satu tempat otentik di satu wilayah Jawa Barat ini.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Jangan Sampai Bingung Cari Jajanan di Blok M

Bau kopi bercampur rempah masakan padang.Seperti itulah kira-kira yang...

Toko Kaset DU68 yang Diam-Diam Jadi Tempat Sejarah Musik

Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-...

Retro Space Art yang Belakangan Booming Lagi

Traveling ke ruang angkasa, menjelajah satu galaksi ke galaksi ...

Romantisme Hellboy dan 10 Kalimat Manis yang Bisa Dipinjam dari Film

 "Kalau hari ini kamu tolak aku lagi, ya udah. Tahun berikutnya a...

Dansa-Dansa Ajaib Musisi yang Akhirnya Mendunia

       Buat saya, musik itu pancing energi, apa...

Cerita di Balik Sejarah Skateboard Indonesia dan Musiknya

Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palem...

Cerita Patah Hati dan Musik Cerdas Mataharibisu

Mataharibisu merupakan gabungan dua kata yang kontradiktif. Matahari a...

Album Musik Ajaib Berbungkus Batu dari Zoo

Baru sekali-kalinya ini sih lihat album CD tapi pas dipegang ternya...