Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

  • 8 bulan yang lalu
  • 503

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpustakaan Mangkunegaran Solo. Hanya ada dua pengunjung yang sedang melihat-lihat koleksi buku dalam senyap. Mereka terlihat terlarut dalam dunianya masing-masing, mengabaikan sekelilingnya.

Tatapan saya terkunci ke sosok pria lanjut usia yang tenggelam dalam aktivitasnya. Sepasang tangan keriput miliknya bergerak lincah. Tangan kiri terpaku di atas buku kusam kecoklatan berisi barisan tulisan aksara Jawa.

Gerakan tangan kanannya lebih gesit. Tangan kanannya memegang pena, mengguratkan kata demi kata ke lembaran kertas folio. Sebuah kaca pembesar melengkapi kesemerawutan di meja sederhana di hadapan bapak tersebut.

Perlahan saya mendekat. Ingin bertegur sapa tentunya. Meski sedang sibuk, beliau dengan ramah menjawab sapaan saya. Beliau bersemangat meladeni pertanyaan demi pertanyaan penuh rasa ingin tahu yang saya lontarka.

Pria lanjut usia yang ramah tersebut bernama Pak Sonto. Nama lengkapnya KP Sontodipuro. Beliau biasa disapa dengan panggilan Wa Sonto atau Pak Sonto. Pak Sonto adalah salah satu petugas di Reksa Poestaka atau lebih dikenal sebagai Perpustakaan Mangkunegaran Solo.

Usianya sudah hampir menginjak 90 tahun. Pada usia senja tersebut, Pak Sonto memilih tetap menyibukkan diri dengan kegiatan bermanfaat. Pak Sonto menghabiskan sebagian harinya untuk mengabdi di Reksa Poestaka. Tugasnya adalah mentranskrip tulisan Jawa ke latin. Tentu saja ini bukan tugas yang enteng. Bisa dibilang Pak Sonto adalah salah satu bagian penting dari perjalanan Pura Mangkunegaran, yang merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Solo.

Bangunan Reksa Poestaka berada di sisi Timur Pura Mangkunegaran. Perpustakaan ini terdiri atas dua lantai. Lantai pertama berfungsi untuk mendaftar pengunjung yang datang. Lantai dua digunakan untuk menyimpan koleksi buku-buku.

Usia Perpustakaan Mangkunegara sudah sangat tua. Tepatnya didirikan Sri Mangkunegaran IV pada 11 Agustus 1867 alias sudah berusia 151 tahun. Reksa Poestaka mengalami perkembangan pesat saat periode Mangkunegara VI. Mangkunegara VI menambah koleksi buku-buku dari luar negeri hingga dua kali lipat. Beliau juga memutuskan membuka perpustakaan untuk masyarakat umum. Sebelumnya yang bisa mengakses hanya keluarga maupun pegawai kerajaan. Saya angkat topi untuk mereka. Berkat mereka, Pura Mangkunegaran kini memiliki harta karun yang sangat berharga.

Reksa Poestaka merupakan perpustakaan paling penting di Solo. Pak Sonto menjadi salah satu pilar penting dari perpustakaan bersejarah itu.

“Kadang jika naskah transkripannya tidak selesai dikerjakan di sini, ya dilanjutkan di rumah,” kata Pak Sonto siang itu.

Mengapa Pak Sonto begitu bersemangat mentranskrip naskah-naskah yang sulit dan berat itu?

“Sekarang banyak anak muda yang tidak bisa membaca aksara Jawa. Makanya, dengan ditranskrip ke tulisan latin, mereka jadi bisa membaca dan memahaminya.””

Tentu saja Pak Sonto tidak bekerja sendirian. Naskah yang harus ditransripnya sangat banyak. Ada empat petugas transkrip yang dimiliki Reksa Poestaka. Beliau ditemani Bu Darweni dan pasangan suami istri, Pak Andreas Waluyo dan Bu Sudarsi. Sedangkan di luar petugas transkrip, masih ada beberapa pegawai lain.

Mereka secara tidak langsung mengemban tanggung jawab besar. Perpustakaan ini memiliki sejumlah arsip yang berusia ratusan tahun, yang sangat bernilai. Buku koleksi perpustakaan Rekso Poestaka antara lain sejarah, sastra, wayang, tari, karawitan, dongeng, primbon, hukum dan beberapa buku tentang Pura Mangkunegaran. Buku kuno di sana dari berbagai macam bahasa, mulai Jawa, Belanda, Inggris, Prancis dan Jerman. Koleksi foto-foto kuno tentang keluarga Mangkunegaran dan Kota Solo juga tersimpan rapi di sana.

“Koleksi buku di sini sekitar 30.000. Kami berusaha menerjemahkan semua naskah ke tulisan latin. Tapi memang butuh waktu,” kata Pak Sonto.

Selain mentranskrip naskah, petugas perpustakaan juga berusaha mendigitalisasi koleksi naskah. Langkah tersebut sebagai salah satu solusi terbaik untuk melestarikan aset-aset berharga di Perpustakaan Mangkunegaran. Namun, proses digitalisasi tak bisa berjalan cepat karena keterbatasan sumber daya manusia.

Masalah yang dihadapi Reksa Poestaka bisa dibilang sangat klasik. Ketika dunia luar bergerak dengan cepat, Reksa Poestaka tak gesit mengimbanginya. Seluruh petugas Reksa Poestaka telah berusia senja. Profesi ini mungkin kurang seksi bagi anak muda jaman kini. Apalagi gaji untuk petugas Perpustakaan Mangkunegaran kalah jauh dibanding profesi-profesi lain yang menjanjikan. Pengabdian dan kecintaan nyaris tanpa pamrih memang bukan magnet yang menarik.

Pak Sonto dan petugas-petugas di Perpustakaan Mangkunegaran merupakan sosok-sosok yang istimewa. Mereka mungkin tak pernah berada di bawah lampu sorot, bahkan kadang diabaikan karena bekerja dalam kesunyian.

Namun, tanpa Pak Sonto dan petugas-petugas lainnya di Perpustakaan Mangkunegaran, mungkin saja bangsa ini bakal kehilangan kepingan-kepingan sejarah penting. Yang membuat saya tambah terharu, mereka mengaku senang setiap ada pengunjung yang datang.

Bagi mereka melihat ada yang mau menengok, datang dan peduli dengan perpustakaan itu merupakan sebuah kebahagian tersendiri. Rasanya indah sekali. Seindah lantunan suara gamelan monggang dari pendopo Pura Mangkunegarap yang sayup-sayup masuk melalui jendela perpustakaan.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Kisah Anak Rambut Gimbal Dieng, Cobaan Sekaligus Rezeki

Puluhan pasang mata memandang ke layar LCD yang sedang menyajikan film...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Pak Banda dan Cerita Bos Javanicus

Mobil yang kami tumpangi terus terguncang-guncang. Mobil merangkak pel...

Museum Kambang Putih dan Kejutan dari Koes Plus

Kota Tuban sedang panas-panasnya. Sinar matahari terasa terik menyenga...

Menikmati Sisi Lain Telaga Warna

Orang bijak bilang, perjalananmu adalah perjalananmu dan perjalananku ...

Bertemu Malaikat Tanpa Sayap

Jujur saya sudah mulai panik. Jarum jam sudah beranjak dari pukul 11 m...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...