Icip-Icip Ikan Arsik di Lapo Halal

  • 2 minggu yang lalu
  • 25


Dulu kalau lewat lapo di beberapa titik di sekitaran Jakarta rasanya jadi penasaran. Selain dibubuhi kode-kode, tampilan kampung halamannya beda sendiri dibanding warung-warung kampung halaman sejenis.

Seringnya karena kode-kode itu, enggak semua orang bisa ikut makan di sana. Namanya juga kode, sudah pasti ada tujuannya. Kayaknya pemaknaan macam begini sudah terlalu pekat soal tempat makan itu.

Lepas dari kode halal atau tidak, salah satu bahan makanan yang sering tercatat di daftar menu lapo jadi perhatian orang-orang, yakni guguk atau anjing. Yang ngefans bisa jadikan itu makanan spesial. Salah satu olahannya dinamai saksang.

Padahal kalau bicara bumbunya, tempat makan dari Medan ini olahannya eksotis alias menarik. Misalnya begini. Mereka punya menu yang namanya ikan arsik. 

Tapi buat yang sayang sama anjing, responsnya jadi sebaliknya. Kasihan dan lain sebagainya. Sementara yang Muslim memagarinya dengan kehalalan. Jadi kalau lewat situ, ya cuma lihat-lihat dan lewat.

Padahal kalau bicara bumbunya, tempat makan dari Medan ini olahannya eksotis alias menarik. Misalnya begini. Mereka punya menu yang namanya ikan arsik. Ikan itu mentah dan difermentasi. Rata-rata katanya dibuat dengan cara itu. Jadi mirip sashimi.

Itu juga baru tahu setelah baca-baca. Artinya, lapo ternyata ya tempat makan, dan isi daftar menunya macam-macam.

Rasa penasaran mau coba makanan lapo sempat tertahan gara-gara beberapa tempat ternyata pindah entah ke mana. Sampai suatu ketika, ada satu tempat di daerah Cipete, Jakarta Selatan, yang namanya Bonga Bonga... Widih, namanya Bonga Bonga. Hehe.

Kalau dari luar, bentuknya ya bukan ala tempat makan kampung halaman seperti yang biasanya bikin penasaran saya untuk masuk. Ya ini lebih mirip kafe, dan serba simpel saja. Yang penting makan, kan? Hehehe.

Pas masuk ke dalam, kita akan melihat meja prasmanan panjang tempat lauk-lauk itu berjajar. Mungkin di sini atmosfer tempat makan kampung halamannya. Prinsip kalau makanan sudah tersedia dan tersaji tetap dipertahankan.

Lalu mulailah saya celingak-celinguk. Lihat lauk-lauk, lihat interior, lihat yang makan. Beberapa pengunjung memakai hijab.

Kata orang-orang, lapo ini lapo halal. Pengunjung-pengunjung tadi jadi buktinya. Pengunjung itu bisa saja warga Medan karena di sana juga banyak Muslim-nya, dan di sini akhirnya, clear, ada yang selip soal pemaknaan lapo.

Lapo ya warung makan. Ini adalah makna umum yang seharusnya. Kalaupun iya para pengunjung itu adalah warga Muslim Medan, bisa jadi mereka makan di sana karena rindu dengan masakan asli kampung halamannya. Hehe. Jadi terharu kalau urusannya soal rindu-rindu.

Sekali tusuk, ikan pun hancur. Wow. Ini seperti ikan yang kena efek bikin lembut tetapi bukan presto, jadi cangkang-cangkangnya pun masih utuh.

Puas larak-lirik makanan dan daftar menu, saya lihat semua bahan makanan tidak jauh dari ikan dan ayam. Lainnya adalah sayuran yang bahannya juga khas Medan.

Tapi misalnya begini. Ada Ayam Bumbu Saksang. Tuh... biar enggak penasaran sama bumbunya.

Contoh lainnya ada Sayur Pakis Rebung, Ikan Arsik (a-ha!), Daun Singkong Tumbuk, Rondang Bolut, dan masih banyak lagi dengan macam-macam pilihan sambal.

Jelas, akhirnya saya pesan Ikan Arsik. Tidak butuh lama untuk diantarkan, makanan yang seperti kebanyakan rata-rata berharga Rp 30.000-Rp 40.000 ini akhirnya sampai di meja lengkap dengan minuman pesanan jus ketimun.

Sekali tusuk, ikan pun hancur. Wow. Ini seperti ikan yang kena efek bikin lembut tetapi bukan presto, jadi cangkang-cangkangnya pun masih utuh. Dan rasanya, getir-getir rempah. Sedap betul. Sampai kurang rela untuk minum jus ketimun yang pastinya akan menetralkan pedas dan sebagainya.

Satu porsi ikan dan nasi itu pas banget buat makan malam menurut porsi saya. Hehehe. Karena masih penasaran, saya pesan satu buat dibawa pulang: Ayam Bumbu Saksang. Sayang, saya lupa, makanan itu saya simpan di kulkas, jadinya belum tahu betul rasa aslinya waktu baru tanak.

Lumayan juga. Saya kenyang. Rasa penasaran saya terjawab dengan cara yang simpel: restoran yang katanya dibikin oleh Rio Dewanto, Chef Rahung, Anggia, dan Chicco Jerikho memakai bahan ikan dan ayam dan menyadarkan kita kalau lapo itu warung makan. Simpel, tetapi otentik. Soalnya baru nemu satu yang begini.


More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Masuk ke Segarnya Dunia Kecil Kupu-Kupu

Jadi ceritanya suatu waktu jalur Bogor arah ke Puncak lagi enggak t...

Toko Kaset DU68 yang Diam-Diam Jadi Tempat Sejarah Musik

Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-...

Retro Space Art yang Belakangan Booming Lagi

Traveling ke ruang angkasa, menjelajah satu galaksi ke galaksi ...

Metallica dan Keras Kepala yang Ditelan Masa

Setiap orang bisa keras kepala. Percaya enggak sama omongan ini? Kadan...

Dansa-Dansa Ajaib Musisi yang Akhirnya Mendunia

       Buat saya, musik itu pancing energi, apa...

Belladonna, Atmosfer Sendu Bergemuruh, Comeback, sampai Cerita soal UFO

Gitar mereka mengendurkan otak. Kesannya sedih, tetapi sebenarnya buka...

Romantisme Hellboy dan 10 Kalimat Manis yang Bisa Dipinjam dari Film

 "Kalau hari ini kamu tolak aku lagi, ya udah. Tahun berikutnya a...

Cerita di Balik Sejarah Skateboard Indonesia dan Musiknya

Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palem...

Tour Lihat Corat-Coret Tembok di "Sarang Seni" IKJ

Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Ins...