Gara-Gara Si Grady, Gitar di Dunia Ini Jadi Berisik

  • 3 bulan yang lalu
  • 367



Waktu saya lihat gitar listrik, yang identik dari benda satu ini adalah suara "grrrrr", "bzzz", dan sebagainya. Seru sih. Apalagi kalau pakainya di waktu yang tepat.

Orang-orang biasanya bilang itu karena efek gitar. Bentuknya ada yang tersendiri dan biasanya disebut "mobil-mobilan" soalnya ukurannya kecil sekitar seukuran telapak tangan (ya seukuran mobil mainan juga, makanya disebut begitu).

Ada juga efek gitar berbentuk satu papan panjang. Injakannya atau pedalnya pun berderet-deret. Artinya, suaranya bisa lebih macam-macam lagi karena banyak pilihan.

Kok bisa gitu ya? Maksud saya, pertanyaannya bukan soal kenapa injakan pedal yang menggantikan tombol dan bank suara itu bisa jadi bagian dari proses suara gitar yang berbeda-beda. Yang jadi pertanyaan saya, siapa yang punya ide kayak begitu, sampai-sampai gitar yang harusnya cuma bunyi "jreng" jadi "jrrrrngggggngngngbzzzrrrhh......".

Kalau soal bertanya-tanya kenapa bisa begini dan kenapa bisa begitu di dunia gitar listrik, kita mau enggak mau mesti kembali ke era 1950-an atau bahkan lebih jauh lagi. Di sekitaran dekade-dekade itu, orang-orang yang doyan utak-atik elektronik macam Leo Fender sudah bikin gitar listrik supaya suaranya keras.

Tapi ternyata bukan dia yang bikin suara gitar jadi berisik. Akhirnya penelusuran mendarat di tahun 1960-an atau tepatnya menjelang tahun itu. "Tudingan" pun jatuh ke seseorang yang bernama Grady. Lucunya, dia melakukan itu tanpa sengaja.



Jadi, ceritanya, waktu itu status Grady adalah pemain gitar cabutan. Di tahun 1950-an, sepenelusuran saya, dia sudah bantu main gitar untuk Elvis Presley, Buddy Holly, sampai Johnny Cash.

Tapi momen bersejarah itu sendiri muncul waktu Grady main gitar buat penyanyi yang namanya Marty Robbins. Judul lagunya "Don't Worry" (1961).

Namanya juga gitaris cabutan. Main terus buat siapa aja, dan ampli gitarnya sewaktu-waktu rusak.

Saat itu, Marty Robbins si penyanyi sedang mengeluarkan suaranya untuk rekaman part vokal yang manis sejak lagu dibuka. Begitu terus dan orang rasanya sudah dibuai.

Nah, akhirnya giliran Grady yang masuk untuk kasih part melodi. Eh yang keluar bukan cuma melodi gitar, tapi dalam bentuk suara kuat yang terdengar "Fzzz... Fzzz... Fzzz... Fzzz..." Kalau misalnya saya ada di zaman itu, yakin sih, saya juga kaget. Maksudnya, eh apa yang aneh ya.



Hasilnya itu kalau digambarkan kayak lagi enak-enak makan sushi, tapi tiba-tiba—tepok jidat—enggak ada yang bilang kalau di bagian tengahnya ada wasabinya. Atau kayak makan lontong tapi—ah ini idenya siapa sih—enggak ada yang bilang-bilang kalau di tengahnya ada cabai rawit *jebakan betmen*.

Sebenarnya sih, yang direkam dalam single piringan hitam itu kesalahan kan? Tapi rupanya orang-orang sadar, ini adalah step baru menuju masa depan rock and roll.

Di zaman itu, para pendengarnya enggak paham mau menyebut itu apa. Akhirnya yang beredar di masyarakat ya onomatope. Kayak anjing kalau di Indonesia dibilang "guguk" karena bunyi gonggongannya. Juga kayak kucing dibilang "meong" karena suaranya. Nah, suara gitar yang dibikin Grady pun akhirnya dibilang "fuzz".



Tapi kalau bicara siapa yang lebih dulu ciptakan efek gitar, wah ini sih mungkin harusnya jadi predikat buat musisi-musisi eksploratif kayak Jackie Brenston & His Delta Cats di lagu "Rocket 88" (1951), Johnny Burnette "Train Kept A-Rollin" (1956), sama Link Wray "Rumble" (1958)—yang jadi hero buat gitaris Led Zeppelin, Jimmy Page.

Jauh sebelum itu, pas dicari-cari, ternyata musisi Les Paul udah bikin manipulasi suara pakai sistem reel-to-reel recording tape. Hasil akhirnya dinamai efek echo.

Terus kenapa kredit gitar berisik fuzz justru jatuh ke tangan Grady? Ini juga yang bikin saya tambah penasaran. Yang pertama, menurut saya, Grady langsung menangkap momen ramainya wacana suara rusak di amplinya, yang orang-orang sebut "fuzz". Akhirnya, dia bikin rekaman sesuai namanya: "The Fuzz".

Gambarannya mungkin kayak satu perusahaan yang terkenal lebih dulu dan masih eksis untuk buat air mineral kemasan. Waktu orang masih bingung konsep yang ternyata berguna itu dan tanya "ini namanya apa?" ya yang disebut adalah merek produk itu.

Hal-hal semacam itu kan masih kebawa-bawa sampai sekarang. "Mau beli aqua", "mau beli odol", "mau naik jip", padahal Jeep kan merek. Begitu juga soal suara gitar: Ini namanya apa ya? Ooh ini namanya Fuzz. Yang bikin siapa? Ooh namanya Grady  Martin.

Alasan lainnya juga soal suara yang memang sangat-sangat aneh dibanding yang terdengar di "Rocket 88" (1951), "Train Kept A-Rollin" (1956), sama "Rumble" (1958), sekalipun baru muncul 1961. Plus, suara gitar Grady ini tidak dibunyikan dari awal kayak di lagu "Rocket 88", "Train Kept A-Rollin", dan "Rumble". Keluarnya cuma di waktu tertentu, dan bikin kejutan. Yang jarang-jarang muncul memang bikin cari perhatian. Hehehe.

Tapi ngomong-ngomong, penasaran juga, sebenarnya apa sih yang terjadi pada gitar Grady waktu itu? Sepenelusuran saya, transistor di ampli Grady tiba-tiba terlalu kuat, dan malah bikin sinyal gitar yang harusnya tersalurkan normal jadi terjepit-jepit. Akhirnya suara ajaib itu keluar. Kencang nyaris sember. Suara sekuat itu mungkin bikin orang mikir. Soalnya, suara tersebut belum pernah ada di dunia ini, pada masanya.

Belum beres sampai di sana, waktu itu produser pun sempat adu argumen dengan band Grady, The Nashville A-Team. Mereka berdebat apakah lagu ini akan dipakai atau enggak. Eh akhirnya diputuskan deh, biarkan suara aneh itu tetap masuk di lagu dan ikut tersebar via rekaman.

Tuh kan. Kadang kita enggak pernah tahu. Cuma karena hal simpel, kesalahan simpel, keputusan simpel, sesuatu bisa jadi otentik dan bikin hal-hal baru yang malah eksis sepanjang zaman: efek gitar, musik distorsif, dan sebagainya.



More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Toko Kaset DU68 yang Diam-Diam Jadi Tempat Sejarah Musik

Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-...

Retro Space Art yang Belakangan Booming Lagi

Traveling ke ruang angkasa, menjelajah satu galaksi ke galaksi ...

Metallica dan Keras Kepala yang Ditelan Masa

Setiap orang bisa keras kepala. Percaya enggak sama omongan ini? Kadan...

Dansa-Dansa Ajaib Musisi yang Akhirnya Mendunia

       Buat saya, musik itu pancing energi, apa...

Belladonna, Atmosfer Sendu Bergemuruh, Comeback, sampai Cerita soal UFO

Gitar mereka mengendurkan otak. Kesannya sedih, tetapi sebenarnya buka...

Romantisme Hellboy dan 10 Kalimat Manis yang Bisa Dipinjam dari Film

 "Kalau hari ini kamu tolak aku lagi, ya udah. Tahun berikutnya a...

Cerita di Balik Sejarah Skateboard Indonesia dan Musiknya

Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palem...

Tour Lihat Corat-Coret Tembok di "Sarang Seni" IKJ

Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Ins...

Album Musik Ajaib Berbungkus Batu dari Zoo

Baru sekali-kalinya ini sih lihat album CD tapi pas dipegang ternya...

Garis Ajaib Buat Foto di Monas-nya Laos

Setahu saya, tiap negara umumnya punya monumen. Kalau di Indonesia, ki...