Dokumentasi Korban Politik Identitas.

  • 3 bulan yang lalu
  • 114
Awal Desember 2018, sebuah pameran yang menampilkan karya beberapa fotografer mengenai konflik politik identitas berjudul Scapegoating The "Other" in Southeast Asia dipamerkan di Galeri Salihara, Jakarta Selatan. Cerita sedih sejumlah kelompok minoritas yang mendapat perlakuan kekerasan bahkan pembunuhan ditampilkan melalui karya-karya foto dari Bangladesh, Filipina dan Indonesia.

Digagas oleh TIFA Foundation, SEA Junction dan PannaFoto, pameran itu menampilkan foto-foto Mahmud Rahman yang memotret migrasi massal etnis Rohingya dari Myanmar menuju Bangladesh. Lalu ada kolektif fotografer "The Night Shift" asal Manila yang merekam kekejaman dampak dari perang narkoba oleh Presiden Duterte.

Terakhir ada fotografer Dwianto Wibowo dan Edy Susanto yang berkolaborasi mendokumentasikan Jemaah Ahmadiyah yang menjadi korban persekusi di Lombok Timur. Memotret isu sensitif tentunya tak mudah, ada cerita dibaliknya.

Saya mencoba berbincang dengan Dwianto Wibowo untuk mendengarkan perjalanannya membuat foto dokumenter yang berbuah Pewarta Foto Indonesia (PFI) Award pada 2012 silam. Berikut ini adalah wawancara tersebut:

Simply Authentic (SA) : Apa latar belakang Anda mengerjakan proyek foto dokumenter ini?

Dwianto Wibowo (DW) : Awalnya, ketika masih bekerja sebagai stringer TEMPO saya mendapat penugasan untuk membuat foto portrait salah satu ulama yang juga aktifis lingkungan dan gender di Lombok. Saat penugasan sudah selesai dan saya masih mempunyai sisa waktu, saya ingin membuat liputan lain. Setelah berkonsultasi dengan rekan fotografer, saya memutuskan untuk berkunjung ke Transito, sebuah tempat pengungsian Jemaah Ahmadiyah. Kebetulan waktu itu masih ramai dengan isu SKB Tiga Menteri. Di Indonesia, sepertinya Jemaah Ahmadiyah yang paling parah mendapatkan kekerasan, apalagi peristiwanya terjadi berulang.

SA : Ada hubungan personal anda secara pribadi dengan cerita ini?

DW : Saya berasal dari keluarga yang heterogen. Dalam keluarga besar saya ada beragam agama yang kami anut. Saya juga sebagai minoritas di lingkungan saya dan saya merasa ada yang mengganjal karena perbedaan kepercayaan. Namun saya tak menyangka ada yang sekeji itu mendapatkan penderitaan.

SA : Berapa lama Anda mengerjakan proyek ini?

DW : Saya memotret mulai 2012 hingga 2016, pulang pergi. Ketika berangkat ke lokasi, saya menginap di sana selama dua minggu hingga satu setengah bulan.

SA : Mengapa Anda memilih untuk sampai menginap di pengungsian?

DW : Ini saya lakukan untuk lebih dekat dengan subyek. Saya ingin merasakan apa yang mereka alami sehari-hari dan posisi mereka sebagai korban.

SA : Saya melihat sebuah foto Al Quran sebagai foto awal dari keseluruhan rangkaian, ada alasan?

DW : Selama ini, kitab sucilah yang kerap dipermasalahkan dan dipersoalkan oleh berbagai pihak untuk menghakimi Jemaah Ahmadiyah. Kitab suci pula yang menjadikan mereka dituduh sesat. Mereka yang tinggal di pengungsian meletakkan Al Quran di jendela ruangan untuk menghentikan isu itu dan untuk menunjukkan bahwa kitab suci mereka sama.

SA: Lalu saya melihat dua buah foto dengan burung merpati berwarna putih, ada maksud tertentu?

DW : Secara global, merpati merupakan lambang sebuah kedamaian. Saya ingin menggambarkan, Jemaah Ahmadiyah menginginkan kedamaian dan kebebasan dalam kehidupan mereka. Agak ironis juga, mereka membuat rumah untuk burung merpati, tapi mereka sendiri tak punya tempat tinggal.

SA : Ada pesan yang ingin disampaikan melalui foto dokumenter ini?

DW : Saya ingin memperlihatkan, jika kita terjebak pada sekat-sekat identitas makan aka nada minoritas yang menjadi korban. Saat ini mungkin Jemaah Ahmadiyah yang menjadi korban, tapi ke depan siapa saja bisa menjadi korban.

Ya, dari perbincangan dengan sang fotografer tersebut, belakangan ini politik identitas memang kembali menguat seiring pertarungan politik. Ada segelintir orang yang mempermasalahkan suku, ras, agama dan kepercayan sesamanya untuk meraih tujuan tertentu. Kini saatnya kita mengingat semboyan negara kita “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi satu juga.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Kisah Di Balik Gelaran Sepak Bola Terakbar

Gelaran sepak bola terakbar di Rusia telah usai dengan menorehkan Pran...

Sunyinya Gili Air Ditinggal Wisatawan Pasca Gempa

Sederet perahu tertambat di tepi Pelabuhan Bangsal, Lombok Utara. Tak ...

Menyusuri Salah Satu Kawasan Prostitusi di Dunia

Melangkahkan kaki keluar dari Gedung Amsterdam Central Station, cuaca ...

Mencari Masjid di Tokyo

Lewat tengah hari, saya sudah puas berkeliling Harajuku. Deretan perto...

Galeri Mural di Jalanan Kota Solo

Mural sosok dua tokoh ini menyapa saya dikala tiba di kota kelahiran d...

Merekam Perjuangan Atlet Mendobrak Batas Kemampuan

Indonesia kembali mencatatkan sejarah sebagai penyelenggara ajang inte...

Berkelana di Paris, Sang Kota Romantis

Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, memiliki kesempatan bepergian ke...

Memotret Gugusan Bintang di Langit Kelam

Saya mengenal nama dan foto-fotonya akhir tahun lalu. Ketika tengah be...

Membekukan Personal Project Melalui Buku Foto

Tak hanya Instagram atau media sosial lainnya, buku foto kini menjadi ...

Kisah Malang yang tertinggal di Pulau Galang

Banyak orang mengenal Batam sebagai daerah ekonomi khusus dengan beber...

1011

Perpaduan Asam, Pedas, Manis dalam Semangkok Rujak Es Krim

Matahari belum tegak di atas kepala benar saat saya selesai membeli ol...

Merekam Desa Mati di Kaki Sinabung

Seiring dengan kompetitifnya harga kamera dan juga munculnya beberapa ...