Didekap Kehangatan Sawahlunto

  • 1 minggu yang lalu
  • 23

Hari sudah sore ketika mobil sewaan kami memasuki kawasan Sawahlunto. Mengikuti petunjuk dari GPS, sopir kami menyusuri jalan mencari penginapan yang sudah kami pesan. Semakin lama jalan yang kami lewati kian sunyi.

Saya dan dua teman seperjalanan agak waswas juga. Ternyata penginapan kami letaknya cukup jauh dari pusat keramaian kota, agak masuk ke jalan yang sepi. Terbayang kami harus segera mencari motor untuk mengeksplore kota. Tak mungkin berkeliling berjalan kaki dengan jarak sejauh itu.

Setelah beberapa kali menelepon ke pemilik penginapan dan bertanya ke beberapa warga yang kami temui di jalan, sampailah kami ke tujuan. Penginapan kami letaknya kurang strategis. Bilqis Homestay namanya.

Namun, segala kekhawatiran kami langsung lenyap setelah bersua langsung dengan pemilik penginapan, Bu Ping dan Pak Adi. Kami seperti menemukan “home away from home”. Entah mengapa, kami merasa seperti sedang mengunjungi keluarga dekat, disambut penuh kehangatan. Berasa pulang ke rumah.

Bu Ping langsung mengajak mengobrol dengan antusias setelah mengetahui kami berasal dari Jawa. Maklum, beliau dan Pak Adi memang berasal dari Jawa. Pak Adi menetap di Sawahlunto semenjak diterima bekerja di PT Bukit Asam. Meskipun sudah pensiun, Pak Adi dan keluarga tidak kembali ke Jawa. Mereka tetap menetap di salah satu kota indah di Sumatra Barat itu.

Sembari terus mengobrol, Bu Ping mengantar kami ke kamar. Kami juga langsung dijanjikan bisa memakai dua sepeda motor milik beliau untuk berkeliling kota selepas maghrib dan besok pagi. Lega rasanya. Masalah transportasi sudah teratasi. Ternyata Bu Ping masih menyiapkan kejutan. Besok kami akan ditemani Pak Adi mengeksplore Sawahlunto. Wah, kami jelas girang bukan kepalang. Tak ada lagi rasa waswas bakal tersesat atau kehabisan ide menjelajah kota tersebut. Tak ada pemandu yang lebih baik selain warga lokal kan?

Setelah melepas lelah sejenak dan mandi, kami bersiap-siap menikmati malam di pusat kota. Bu Ping tiba-tiba memanggil kami untuk keluar kamar. Ternyata tiga gelas teh jahe panas sudah tersedia di meja makan. Rasanya hati saya langsung hangat. Kesegaran teh jahe tersebut tak perlu diragukan lagi. Namun, kepedulian Bu Ping lah yang membuat hati kami benar-benar hangat. Segelas teh jahe itu sepertinya menjadi pembuka kisah cinta kami dengan Sawahlunto.

Sudah lama saya punya keinginan mengunjungi Sawahlunto. Kota tua kaya sejarah dan budaya tersebut menjadi magnet yang sulit diabaikan. Ternyata, apa yang sudah lama saya bayangkan tentang Sawahlunto tak berlebihan, bahkan jauh melebihi ekspektasi. Saya dengan mudah jatuh cinta.

Waktu terasa berjalan lamban dan tenang di Sawahlunto. Gedung-gedung tua peninggalan Belanda masih berdiri kukuh di berbagai sudut kota. Di beberapa bagian kota juga terdapat bangunan-bangunan kuno berarsitektur China. Lampu penerangan kota yang tak begitu gemerlap menambah suasana syahdu kota. Sawahlunto terasa menenangkan. Bahkan, alun-alun kotanya terlihat pas, tak terlalu riuh.

Malam itu kami tak terlalu lama mengeksplore kota, toh masih ada esok hari. Kami tak berani pulang terlalu malam. Selain karena jalanan agak sepi, badan juga kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Bukittinggi tadi siang.

Sampai di homestay, lagi-lagi disambut hangat. Bu Ping dan Pak Adi rela begadang mengajak kami berbincang. Salah seorang putranya juga ikut bergabung dalam obrolan seru malam itu. Entah bagaimana, perbincangan mengalir dengan mudah, dengan berbagai topik.

Ada satu topik yang benar-benar menarik perhatian kami. Kisah Pak Adi dan Bukit Asam. Sebagai salah seorang mantan karyawan di PT Bukit Asam, Pak Adi tak kehabisan cerita tentang masa lalu Sawahlunto. Salah satu yang menarik tentu saja masa-masa kejayaan Sawahlunto sebagai penghasil batubara terbesar di Indonesia. Cerita Pak Adi sangat runtut dan mendalam. Kami merasa seperti mendapat mendapat durian runtuh. Kalau sudah mendapat cerita mendalam seperti itu, kami jelas tak perlu pemandu wisata kan?

Tanpa terasa jarum jam sudah hampir mendekati tengah malam. Kami terpaksa minta undur diri kepada Pak Adi untuk beristirahat. Maklum kami butuh tenaga besar untuk menjelajahi Sawahlunto dengan lebih mendalam.

Keesokan harinya, Bu Ping lagi-lagi memberikan kejutan. Kali ini Bu Ping sudah menyiapkan nasi goreng yang plus sambel teri. Rasanya jangan ditanya lagi, jelas dijamin kelezatannya. Alhasil, semangat kami makin menggebu-gebu untuk mengeksplore kota setelah perut diisi makanan seenak itu.

Sesuai janjinya, Pak Adi benar-benar menemani kami berkeliling Sawahlunto. Ternyata jalan-jalan bersama Pak Adi sangat menyenangkan plus menguntungkan. Berkat Pak Adi, kami bisa memasuki beberapa museum sebelum jam buka. Status Pak Adi sebagai mantan pegawai PT Bukit Asam mempermudah negosiasi dengan penjaga museum. Bonusnya, beliau punya banyak cerita pendukung yang membuat kunjungan kami ke berbagai museum terasa spesial.

Kami seharian mengunjungi berbagai tempat bersejarah dan penting dalam perjalanan Kota Sawahlunto. Petualangan dimulai dari Museum Goedang Ransoem, Museum Kereta Api Sawahlunto, mengeksplore terowongan Lubang Mbah Soera, hingga menyaksikan pemandangan Sawahlunto dari ketinggian di Puncak Cemara.

Pak Adi juga tak keberatan saat kami beberapa kali minta berhenti di tengah jalan untuk memotret bangunan-bangunan kuno cantik di berbagai sudut Sawahlunto. Beliau benar-benar pemandu super dan istimewa. Bahkan, saat kami ingin mencari kaus khas Sawahlunto untuk kenang-kenangan, Pak Adi langsung mengantar kami ke produsennya. Kurang asyik apa lagi coba?

Alhasil, langkah kami begitu berat ketika sore itu harus berpamitan ke Bu Ping dan Pak Adi untuk kembali ke kampung halaman. Di Sawahlunto saya tak hanya menemukan kepingan-kepingan sejarah yang menarik, tapi juga kehangatan. Cara Bu Ping dan Pak Adi menjamu kami begitu membekas di hati.

Bahkan, saya hanya bisa terharu ketika sebuah pesan pendek masuk ke handphone tak lama setelah pesawat yang kami tumpangi mendarat ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Pesan itu datang dari Bu Ping. Beliau bertanya apakah kami sudah sampai tujuan. Pesan berikutnya sungguh membuat hati kami menghangat. “Nanti kapan-kapan main lagi ke Sawahlunto, saya dan Bapak selalu menyambut. Walaupun berjumpa hanya sebentar, kami sudah menganggap kalian seperti anak sendiri.” Pesan yang singkat, tapi sangat menyentuh. Terima kasih Sawahlunto atas kehangatannya.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Becak Tuban, Wisata Unik yang Sarat Kearifan Lokal

Pria-pria yang beraktivitas sehari-hari mengenakan sarung dan peci, se...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Menemukan "Rasa" Indonesia di Malaysia

Kenikmatan solo traveling salah satunya tak ada yang melarang kapan ha...

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Romantisme di Balik Selembar Kartu Pos

Sepuluh tahun silam, sepucuk kartu pos datang dari sahabat saya yang b...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Filosofi di Balik Atap Rumah Batak dan Simbol Cicak

Pulau Samosir masih didekap udara cukup dingin saat saya dan seorang s...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Warna Warni Cerita dari Manila

Saya terus terang bingung memulai dari mana cerita tentang Manila. Mun...