Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

  • 11 bulan yang lalu
  • 663

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas. Ada cerita-cerita yang jarang ditemui di moda transportasi lain, seperti pesawat, bus atau kapal laut.

Gerbong kereta bagaikan etalase mini kehidupan. Interaksi di antara kursi maupun lorong kereta menyimpan banyak cerita. Kita tinggal menajamkan pandangan dan pendengaran untuk menikmati kisah-kisah tersebut.

Beberapa bulan lalu, saya mencicipi nuansa menarik saat menumpang Commuter Line dari Stasiun Palmerah Jakarta menuju Rangkasbitung, Lebak, Banten. Tak ada yang istimewa dari bentuk fisik Commuter Line tersebut, sama saja dengan kereta-kereta ke jurusan lain di seputaran Jakarta.

Namun, interaksi di dalam gerbong terasa berbeda. Apalagi saat itu menjelang libur panjang. Tas-tas berukuran besar milik penumpang menyesaki kabin kereta. Bahkan, ada kasur yang dilipat dengan ringkas.

Mayoritas penumpang tampaknya sedang mudik untuk menikmati akhir pekan yang panjang di Rangkasbitung, atau wilayah-wilayah sekitar sana. Banyak wajah-wajah yang menyimpan kerinduan. Percakapan juga lebih hidup. Suasana seperti itu rasanya sulit dijumpai di Commuter Line rute lain, entah ke Bogor maupun Bekasi.

Kekacauan kecil terjadi saat roda kereta menjejak Stasiun Rangkasbitung. Tanpa dikomando penumpang dari luar berebut masuk. Mereka tak peduli penumpang di dalam kereta belum semuanya turun. Aksi saling dorong tak terelakkan. Saya hanya bisa pasrah dan berusaha keluar dari kereta di tengah kekisruhan kecil tersebut. Ah, ternyata budaya antre masih jauh dari sempurna di negara ini.

Pengalaman tersebut belum seberapa dibandingkan cerita enam tahun lalu. Di kereta ekonomi dari Stasiun Kota Jakarta menuju Rangkasbitung Banten, saya merasa mengalami shock culture alias gegar budaya. Kereta api pada masa itu belum rapi, modern, dan tertib seperti sekarang.

Berbekal tiket seharga Rp 4.000, saya bisa menikmati gambaran kaum marjinal Indonesia di dalam gerbong yang mengabaikan teori kenyamanan. Saya juga mendapatkan pelajaran berharga tentang tekad, kegigihan, dan ketidakteraturan.

Jangan bayangkan kereta ke Rangkasbitung sekeren sekarang. Boro-borong bangku empuk dan AC, saya dan teman-teman hanya bisa menikmati gerbong kereta yang muram dan tanpa keteraturan. Kereta kelas ekonomi tersebut hanya dilengkapi bangku memanjang yang menempel di kedua sisi kereta, bertekstur keras dan jauh dari nyaman. Lantai gerbong mengelupas di sana-sini. Kereta berjalan sangat lambat. Saya jadi teringat dengan kalimat bijak ala Jawa “alon-alon waton kelakon”

Gerbang kereta penuh sesak dan panas. Tak ada kipas angin, apalagi AC. Penumpang hanya mengandalkan belas kasihan dari sapuan angin yang menelusup dari sela-sela jendela. Sayangnya, angin pun sulit melawan udara panas dan lembap di dalam gerbong.

Saat memasuki kereta ekonomi tersebut, saya langsung melabelinya sebagai pasar berjalan. Belasan bahkan puluhan berdagang bercampur dan berdesak-desakan dengan penumpang demi menjemput rezeki. Mereka terpaksa berkompromi dengan udara panas yang memancing butir-butir keringat mengucur deras dan membasahi tubuh.

Yang namanya pasar, penjualnya pasti beragam dan lengkap. Begitu juga di kereta tujuang Rangkasbitung ini. Penjual buah-buahan? Ada. Kosmetik? Jelas ada. Permen, mainan anak, baju, kue, nasi bungkus? Dijamin ada juga. Lengkap.

Jika butuh hiburan, tinggal membuka telinga lebar-lebar. Pengamen dengan speaker bertalu-talu tak pelit menyemarakkan suasana. Saya melemparkan pandangan ke berbagai sudut kereta. Rasanya tak ada penumpang yang terganggu suara pengamen yang jauh merdu.

Sisi manja dalam diri saya terusik. Beberapa kali saya dan teman-teman mengeluhkan kondisi kereta yang awut-awutan. Namun, saat mengamati sekitar, saya merasa tertampar. Kegigihan penjual dan penumpang kereta layak diacungi jempol.

Para pedagang tak kenal lelah menggoda pembeli dari gerbong satu ke gerbong lain. Pedagang mangga salah satu contohnya. Berbekal jurus bujuk rayu yang andal, dagangannya ludes hanya dalam tiga jam. Dia tak peduli meskipun keringatnya mengucur hingga membuat bajunya basah menempel ke kulit. Para penumpang juga tak kalah gigih. Cuaca panas dan lembap tak menghalangi mereka berbagi tawa dan cerita dengan teman, keluarga, bahkan orang asing yang duduk di sebelah.

Gerbong kereta kereta tersebut juga menjadi penggambaran sempurna dari kesemerawutan. Penumpang terasa begitu ringan saat melempar sampah, hingga mengotori lantai kereta. Tradisi membuang sampah dengan benar masih menjadi angan-angan dan problem klasik bangsa ini.

Beruntung, pemandangan sampah yang menyesaki lantai kereta tak lagi dijumpai sejak beberapa tahun terakhir. Kereta api telah bertransformasi. Masyarakat mau tak mau harus beradaptasi dengan perubahan, yang melaju ke arah lebih baik. Para penumpang kini punya kesadaran untuk menjaga kebersihan kereta. Memang belum sempurna, tapi setidaknya melaju ke arah lebih baik. Ah, rasanya seperti mendapat kiriman angin dari Bromo atau Dieng. Sangat menyegarkan.

Perlahan, saya berusaha mengabaikan kegaduhan di sekitar, dengan berkeras menutup mata. Harapannya kantuk segera menjemput, meski terganggu suara cempereng dari pengamen yang menyetel musik dengan volume yang memekakkan telinga. Namun bukannya terlelap, ingatan saya malah meloncat liar ke momen pada suatu siang di Thailand Utara beberapa bulan sebelumnya.

Saat itu saya dan teman-teman dilanda kebingungan. Rencana naik bus dari Chiang Mai menuju Bangkok pada pagi hari menjadi berantakan karena kami tak kebagian tiket. Mau tak mau otak langsung berputar keras untuk mencari solusi. Kami memutuskan menjajal peruntungan mencari tiket kereta. Untungnya, tiket yang kami cari masih ada, meskipun hanya tersisa untuk kelas ekonomi plus keberangkatan siang.

Daripada bolak-balik ke terminal bus, kami memilih merogoh kocek untuk membeli tiket kerata. Tapi, siapa sangka di Thailand waktu tempuh kereta lebih lambat dibandingkan bus. Perjalanan dari Chiang Mai ke Bangkok memakan waktu hingga 16 jam, padahal hanya butuh 12 jam dengan bus. Tapi, mau apalagi. Nasi sudah menjadi bubur. Kami berusaha menikmati perjalanan dengan gembira. Bukankah kejadian tak terduga seperti ini justru membuat perjalanan menjadi menarik kan?

Ternyata kami malah bisa menikmati sisi lain Thailand di dalam gerbong kereta ekonomi tersebut. Sepanjang perjalanan yang terasa sangat pelan, perhatian saya tersedot pada sepasang kekasih yang berdiri di dekat bangku kami.

Penumpang lain terlihat tak peduli dengan keberadaan sepasang kekasih tersebut. Keduanya tak segan memamerkan momen-momen romantik di sepanjang perjalanan. Saling melempar senyum, saling menatap dengan penuh cinta, dan kadang-kadang tangan bertaut. Kenapa kami tertarik dan penumpang lain tidak?

Sekilas mereka seperti pasangan normal. Tetapi, keduanya jelas sama-sama perempuan. Bagi kami yang berasal dari Indonesia, unjuk kemesraan pasangan sejenis di muka umum bukan hal lumrah, bahkan masih sangat tabu. Sebaliknya, masyarakat Thailand terlihat menerima dengan lebih terbuka. Tak ada perhatian khusus dari penumpang lain terhadap mereka di sepanjang perjalanan. Para penumpang memilih fokus dengan urusan masing-masing.

Karakter masyarakat Thailand memang lebih terbuka dalam urusan ini. Keberadaan pasangan sejenis dan lady boy (waria) bisa diterima tanpa banyak perdebatan. Sepanjang tak mengganggu orang, silakan jalani pilihanmu.

Keterbukaan yang hangat ala Thailand sulit saya jumpai di lorong-lorong kerata di Ukraina. Wajah-wajah penumpang Metro di Kiev terasa dingin dan minim ekspresi. Mungkin karakter tersebut dipengaruhi letak geografis Ukraina yang lebih akrab dengan udara dingin. Bahkan cuaca pada musim panas masih terasa dingin untuk ukuran penduduk negeri tropis seperti saya.

Namun, di balik wajah-wajah dingin tersebut tersimpan juga hati yang hangat. Ketika sedang kebingungan membaca rute kereta di salah satu sudut stasiun, saya nekad menyetop salah seorang penumpang yang melintas. Ah, ternyata dia tak terlalu fasih berbahasa Inggris. Dengan bermodal bahasa isyarat, saya memberitahukan kepadanya jurusan kereta yang dicari.

Rupanya isyarat saya berhasil dipahaminya. Dia menggerakkan tangannya, memberi isyarat supaya saya mengikutinya. Bukan hanya memberikan arahan, dia rela mengantar hingga ke depan pintu kereta yang saya cari. Kejadian seperti itu tak hanya terjadi sekali. Di balik wajah dingin orang-orang Ukraina, kehangatan itu selalu ada.

Saya jadi teringat pepatah bijak: Don’t judge a book by its cover.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Kisah Anak Rambut Gimbal Dieng, Cobaan Sekaligus Rezeki

Puluhan pasang mata memandang ke layar LCD yang sedang menyajikan film...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Pak Banda dan Cerita Bos Javanicus

Mobil yang kami tumpangi terus terguncang-guncang. Mobil merangkak pel...

Museum Kambang Putih dan Kejutan dari Koes Plus

Kota Tuban sedang panas-panasnya. Sinar matahari terasa terik menyenga...

Menikmati Sisi Lain Telaga Warna

Orang bijak bilang, perjalananmu adalah perjalananmu dan perjalananku ...

Bertemu Malaikat Tanpa Sayap

Jujur saya sudah mulai panik. Jarum jam sudah beranjak dari pukul 11 m...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...