Bertemu Malaikat Tanpa Sayap

  • 2 bulan yang lalu
  • 107

Jujur saya sudah mulai panik. Jarum jam sudah beranjak dari pukul 11 malam. Tinggal hitungan menit sudah masuk tengah malam.  Tapi, saya masih berkutat dengan jalan-jalan kecil yang tak jelas juntrungannya. Saya tersesat. Padahal sepertinya tadi sudah berjalan kaki melewati jalur yang benar. Mungkin tadi sempat salah belok atau entahlah. 

Masalahnya saat itu saya sedang berada di kota yang asing, di salah satu kota di negara Eropa Timur, tepatnya di Donetsk, dan sendirian. Internet juga belum secanggih sekarang. Alhasil, solusi terbaik adalah berusaha bertanya kepada orang-orang di jalan.

Masalahnya sulit sekali menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris di kota ini. Saya hanya menguasai sedikit sekali bahasa Ukraina atau Rusia. Hanya sebatas kata-kata yang sangat umum untuk turis.

Alhasil, sejak kehilangan arah sekitar 20 menit sebelumnya, saya tak mengalami kemajuan. Setiap bertanya, hanya dibalas gelengan sopan karena mereka tak bisa berbahasa Inggris.

Dalam hati saya mulai deg-degan juga. Jalanan memang belum sepi walaupun hampir tengah malam. Tapi, kalau tak kunjung ketemu bisa-bisa saya berakhir terlantar di jalan antar berantah.

Akhirnya saya berusaha bertanya-tanya lagi. Random saja memilihnya. Keberuntungan datang melalui seorang pemuda yang sedang berjalan ke arah saya. Pria itu berkacamata, mungkin berusia sekitar 27 sampai 29 tahun. Saya nekat saja mencegatnya. Sayangnya, dia juga tidak bisa berbahasa Inggris.

Tapi, pemuda itu tak langsung pergi. Dia tampak serius ingin membantu saya. Saya sebutkan nama sebuah restoran cepat saji. Dari sana, penginapan saya tinggal lurus saja. Dia terlihat kebingungan meskipun saya sudah menyebutkan nama restoran tersebut berulang kali. Sepertinya ini berkaitan dengan masalah logat.

Saya pun berinisiatif menuliskan nama restoran tersebut. Jadi, supaya dia juga lebih mudah mengerti. Benar saja ketika saya ketikkan nama restoran itu di handphone, dia langsung tersenyum dan paham.

Adegan berikutnya membuat saya tambah lega. Pemuda itu bukan hanya memberi tahu arah, tapi rela mengantar saya meskipun arahnya berbeda dengan tujuan dia. Dia benar-benar mengantar hingga ke depan restoran yang saya maksud. Saya hanya bisa berterima kasih berulang-ulang kepada dia. Pemuda itu membalas dengan senyum dan isyarat supaya saya berhati-hati. Dia kemudian berbalik arah lagi melanjutkan perjalanannya.

Orang-orang baik seperti itu memberi makna mendalam dalam sebuah perjalanan. Saya yakin di mana pun selalu ada orang baik. Saya menyebutnya malaikat tanpa sayap. Meraka rela mengulurkan tangan tanpa diminta dan tak berpamrih. Banyak orang bilang dunia kini penuh dengan orang jahat. Tapi, saya meyakini prinsip keseimbangan. Setiap ada orang jahat, pasti di sisi lain ada orang-orang baik berhati malaikat.

Sosok baik hati seperti itu juga saya temui di sebuah penginapan di Chiang Mai, Thailand. Nina namanya. Dia merupakan sang pemilik penginapan.

Saya dan sahabat seperjalanan bertemu Nina tanpa disengaja. Kami datang ke Chiang Mai sengaja tak memesan penginapan terlebih dulu. Go show istilahnya. Toh, saat itu bukan sedang musim liburan. Jadi, kami yakin tak akan kesulitan mencari penginapan.

Kami bertemu Nina di terminal. Saat melangkah turun dari bus yang membawa kami dari Bangkok, Nina agresif menghampiri. Dia akhirnya berhasil membujuk kami naik ke tuk-tuknya dan menginap di hostelnya selama dua hari.

Kami tak menyesali perjumpaan dengan Nina. Dia benar-benar baik hati, memperlakukan penghuni penginapan seperti keluarga sendiri. Saya ingat malam-malam diajak ikut berkaraoke bersama suami, putranya dan beberapa saudaranya di salah satu ruangan di hostelnya. Ada juga satu orang tamu hostel lain asal Swedia.

Malam itu kami menyanyi bersama, berbincang hangat, dan mencicipi makanan lezat bikinan Nina. Saya merasa menemukan sebuah rumah yang jauh dari kampung halaman. Semuanya berkat Nina.

Dalam kesempatan berbeda, saya juga bertemu tukang ojek yang sangat baik di Pulau Samosir, bersua teman-teman baru yang rela mengantar saya keliling kota Banda Aceh meskipun baru kenal dalam hitungan jam, maupun pemilik mobil carteran yang luar biasa ramah di Sabang, Aceh.

Saya kadang berpikir mengapa bisa kebetulan bertemu orang-orang yang berhati emas dalam sebuah perjalanan. Jawabannya mungkin hanya satu. Selama kita berpikir positif dan berprasangka baik, pasti akan bertemu juga dengan kebaikan demi kebaikan.

Pengalaman demi pengalaman selama perjalanan setidaknya mengajari saya satu hal penting. Malaikat tanpa sayap itu memang nyata. Bukan mitos atau ilusi.

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Becak Tuban, Wisata Unik yang Sarat Kearifan Lokal

Pria-pria yang beraktivitas sehari-hari mengenakan sarung dan peci, se...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Menemukan "Rasa" Indonesia di Malaysia

Kenikmatan solo traveling salah satunya tak ada yang melarang kapan ha...

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Romantisme di Balik Selembar Kartu Pos

Sepuluh tahun silam, sepucuk kartu pos datang dari sahabat saya yang b...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Filosofi di Balik Atap Rumah Batak dan Simbol Cicak

Pulau Samosir masih didekap udara cukup dingin saat saya dan seorang s...

Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan ...

Warna Warni Cerita dari Manila

Saya terus terang bingung memulai dari mana cerita tentang Manila. Mun...