Bersampan di Hoi An dan Melarung Sepenggal Harapan

  • 11 bulan yang lalu
  • 717

Hasrat mencicipi pengalaman baru kadang bisa menepis kekhawatiran dan keraguan. Misalnya seperti ketika saya berdiri sembari memandang ke Sungai Bach Dang pada malam itu.

Saya dan teman-teman sedang bernegosiasi dengan seorang pemilik sampan yang bersandar di tepi sungai. Percakapan dibantu seorang remaja lokal baik hati yang spontan menghampiri ketika melihat bapak pemilik sampan tak bisa berbahasa Inggris. Kami tawar-menawar tarif menyewa sampan untuk menyusuri sungai yang membelah Kota Hoi An di Vietnam tengah itu.

Negosiasi berlangsung singkat karena pemilik sampan mematok tarif sangat miring. Benar-benar bersahabat untuk kantong. Tapi, selama berada traveling di Vietnam hampir semunya terasa murah karena Rupiah lebih perkasa dibanding mata uang lokal, Dong. Bapak pemilik sampan memberi isyarat agar kami segera naik sampan setelah tercapai kata sepakat. Saat itu, kami masing-masing hanya perlu merogoh kocek di bawah Rp 10.000 per orang.

Saya ragu-ragu untuk turun ke sungai dan naik sampan. Menyusuri sungai dengan sampan kayu sederhana dan tanpa pelampung agak menimbulkan waswas, apalagi saya tak bisa berenang. Bagaimana coba kalau sampannya oleng atau terbalik?

Tapi, ya sudahlah. Dengan menebalkan tekad dan demi menuntaskan rasa penasaran, saya memutuskan naik ke sampan. Belum tentu punya kesempatan lagi datang ke Hoi An. Seorang sahabat pernah bilang, lebih baik menyesal karena pernah mencoba daripada menyesal karena belum pernah mencoba. Baiklah.

Hoi An yang dikenal sebagai kota tua paling romantis di Vietnam tak bisa dipisahkan dari sungai. Sejak zaman dahulu, sungai merupakan salah satu sumber kehidupan bagi makhluk hidup di sekitarnya, seperti manusia, hewan, maupun tumbuhan. Banyak kebudayaan kuno yang dimulai dan berlangsung di tepi sungai, termasuk Hoi An yang memiliki Sungai Bach Dang di jantung kota.

Sebenarnya Bach Dang bukan nama asli sungai tersebut. Seorang penduduk setempat mengatakan sungai tersebut bernama Thu Bon. Namun, karena berada di kawasan Bach Dang, maka sungai tersebut lebih dikenal dengan sebutan Bach Dang. Apalah arti sebuah nama.

Sungai Bach Dang adalah detak jantung utama Hoi An, kota yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh Unesco. Sepanjang hari, terutama sore hingga malam, kawasan di seputaran sungai tersebut menjadi atraksi utama yang menyedot para wisatawan asing dan warga lokal. Mereka berbaur menikmati keromantisan khas ala Hoi An. Sungai Bach Dang yang tenang tampak cantik dengan pantulan sinar lentera khas Hoi An, berpadu dengan jembatan bertabur lampion, sampan kayu, percakapan akrab antarkeluarga dan sahabat, serta wajah-wajah unik dari berbagai bangsa. Hoi An memang berbeda, terasa syahdu.

Oh ya, sebelum naik sampan kami membeli sesuatu dari pedagang yang banyak bertebaran di tepian sungai. Sebuah lilin yang diletakkan dalam wadah kertas berwarna-warni. Katanya, ada makna khusus di balik lilin-lilin tersebut. Percaya tidak percaya, tapi ya sudahlah apa salahnya mengikuti tradisi di sana.

Sampan mulai bergerak pelan seperti merangkak. Matahari sudah balik ke peraduan, sehingga suasana di sekitar menjadi gelap. Kecepatan sampan ternyata tak juga berubah. Bapak pemilik sampan memilih tetap mendayung dengan pelan.

Kami perlahan mengedarkan pandangan ke sekeliling, berusaha menyerap setiap momen. Benar-benar menawan. Suasana gelap membuat bangunan kuno yang berarsitektur campuran Barat dan Timur, toko suvenir, dan kafe di tepi sungai menjadi berpendar. Bangunan di Hoi An perwujudan akulturasi budaya Vietnam, China, dan Prancis. Hoi An pernah menjadi pelabuhan perdagangan penting di Asia Tenggara. Bisa dibilang kota kecil di Vietnam Tengah ini menjadi saksi bisu pergerakan manusia dari berbagai bangsa dengan bermacam-macam tujuan.

Bangunan-bangunan tepian Sungai Bach Dang tampak cantik pada malam hari karena dihiasi dengan lentera-lentera indah. Lentera itu memendarkan cahaya dan memantul indah di permukaan sungai. Ketenangan di sungai kontras dengan keriuhan di tepian. Sungai Bach Dang menjadi area berkumpul. Sebagian menikmati kenyamanan di kafe-kafe yang bertebaran, sebagian lainnya menjajal street food dengan menyesaki kursi-kursi pendek yang disediakan para penjual. Suasana malam menghangat dengan percakapan, makanan pengisi perut dan tak ketinggalan segelas kopi Vietnam yang tersohor.

Saat terbius pemandangan syahdu di sekitar, kami dikagetkan dengan nyanyian yang cukup merdu. Nyanyian tersebut datang dari pemilik sampan yang kami tumpangi. Dia bernyanyi sembari terus menebarkan senyum, yang kami balas dengan acungan jempol.

Lagunya asing di telinga karena berbahasa Vietnam, tapi justru terasa eksotis. Saya merasa terlempar ke adegan-adegan film tentang gondola-gondola di lorong-lorong Venezia, Italia. Kebetulan belum pernah mengunjungi tempat indah tersebut. Namun, sepertinya bersampan di Sungai Bach Dang tak kalah syahdu. Bagaimana pun setiap destinasi punya pesona khas, tak bisa dibandingkan. Anggap saja Bach Dang ini Venezia-nya Asia Tenggara, dengan citarasa khas Benua Kuning.

Sembari menikmati lantunan lagu Vietnam, kami memutuskan inilah saatnya melarung lilin-lilin berwadah kertas. Saya tak tahu dengan pasti makna di baliknya. Mungkin lilin-lilin itu perwujudan mimpi, doa, harapan, dan cinta.

Apapun itu, saat melepaskan lilin ke sungai, saya menitipkan sepenggal harapan. Doa saya tak muluk-muluk. Semoga kota-kota tua di Indonesia bisa bersolek dan berbinar seperti Hoi An. Suatu saat nanti turis-turis dari berbagai negara bukan hanya menikmati eksotisme bersampan di Hoi An, tapi juga di Kota Tua Jakarta atau mungkin di Kota Lama Semarang. Jika Vietnam bisa, mengapa Indonesia tidak?

Kota Tua dan Kota Lama di Semarang sebenarnya memiliki modal untuk menyedot turis dari berbagai belahan dunia, layaknya Hoi An di Vietnam, Vigan di Filipina, maupun Malaka dan Penang di Malaysia. Kota Tua dan Kota Lama memiliki bangunan-bangunan kuno, tradisi yang khas, hingga sejarah panjang yang menyertainya.

Sayangnya, modal tersebut belum diolah dengan optimal. Butuh dukungan dari berbagai pihak untuk membangkitan dua destinasi tersebut. Tak cukup hanya pemerintah, tapi juga semua pelaku wisata terkait. Saya yakin jika digarap sungguh-sungguh Kota Lama dan Kota Tua tak akan kalah dengan lima Situs Warisan Dunia Unesco di Asia Tenggara, yaitu Hoi An, Vigan, Penang, Malaka, dan Luang Prabang di Laos.

Lebih baik terlambat bergerak, daripada tidak sekali bukan?

More from version of Pure Taste content

Mengecap Cita Rasa Autentik Indonesia di Manila

Rindu obatnya hanya bertemu. Begitulah rasa rindu menuntun kami bert...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...

SAWARNA, mutiara terpendam di Banten

Bosan dengan kehidupan yang monoton di Jakarta dan penat dengan pekerj...

Citarasa otentik Restoran Terbaik Dunia

Udah pernah makan di restaurant terbaik dunia belum? Sebelumnya, baik ...

Konten lain dari para kreator

Baduy, Sepak Bola, dan Kearifan Lokal yang Dipegang Erat

Hari telah berangsur sore, hujan pula. Sembari menatap gerbang bertuli...

Kisah Anak Rambut Gimbal Dieng, Cobaan Sekaligus Rezeki

Puluhan pasang mata memandang ke layar LCD yang sedang menyajikan film...

Menyambut Sunrise Pertama di Pulau Jawa

Menyusuri Taman Nasional Baluran? Sudah. Mencecap kopi di Sanggar Genj...

Pak Banda dan Cerita Bos Javanicus

Mobil yang kami tumpangi terus terguncang-guncang. Mobil merangkak pel...

Museum Kambang Putih dan Kejutan dari Koes Plus

Kota Tuban sedang panas-panasnya. Sinar matahari terasa terik menyenga...

Menikmati Sisi Lain Telaga Warna

Orang bijak bilang, perjalananmu adalah perjalananmu dan perjalananku ...

Bertemu Malaikat Tanpa Sayap

Jujur saya sudah mulai panik. Jarum jam sudah beranjak dari pukul 11 m...

Kisah Penjaga Sejarah dari Mangkunegaran Solo

Suasana sepi langsung menyergap ketika saya melangkah masuk ke Perpust...

Cerita Perjalanan dari Balik Jendela Kereta

Perjalanan menggunakan kereta api selalu menjanjikan romansa yang khas...

Roti Go, Merawat Tradisi dan Cita Rasa Berusia 120 Tahun

Keistimewaan Roti Go terletak pada usianya. Bayangkan, Roti Go sudah b...